KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong penguatan sistem hidran di kawasan permukiman sebagai salah satu langkah untuk mempercepat penanganan kebakaran. Ketersediaan sumber air yang mudah dijangkau dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung efektivitas petugas saat melakukan pemadaman.
Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengatakan keberadaan hidran sangat dibutuhkan, terutama di kawasan permukiman yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran cukup tinggi. Namun, pembangunan sistem tersebut membutuhkan sinergi lintas sektor dan tidak dapat hanya mengandalkan Disdamkarmatan.
Menurut Fida, sejumlah perangkat daerah dan instansi perlu dilibatkan, antara lain Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim), Dinas Pekerjaan Umum (PU), serta perusahaan air minum daerah. Kolaborasi diperlukan karena pembangunan jaringan hidran berkaitan dengan infrastruktur, jaringan perpipaan, ketersediaan sumber air hingga kondisi kawasan permukiman.
“Hidran itu harus ada, tetapi Damkar tidak bisa bergerak sendiri,” ujar Fida saat ditemui, Selasa (6/10/2026).
Sebagai langkah awal, Disdamkarmatan Kukar telah menginisiasi penggunaan hidran kering untuk membantu mempercepat proses pengisian ulang air ketika terjadi kebakaran. Salah satu jaringan yang telah dibangun memiliki panjang hampir satu kilometer hingga kawasan Simpang Tiga Kartini.
Berdasarkan evaluasi awal, jaringan tersebut dinilai dapat berfungsi sesuai dengan perencanaan. Sistem hidran kering tersebut dirancang untuk mempermudah petugas memperoleh sumber air tanpa harus membawa kendaraan pemadam kembali ke lokasi pengisian yang jaraknya cukup jauh.
“Yang sudah kami jalankan adalah hidran kering untuk memudahkan pengisian ulang saat terjadi kebakaran,” jelasnya.
Fida menjelaskan, kehadiran hidran kering dapat memangkas waktu dan jarak pengisian air, sehingga mobil pemadam dapat lebih cepat kembali ke lokasi kejadian. Hal ini menjadi penting karena dalam situasi kebakaran, waktu sangat menentukan untuk mencegah api meluas ke bangunan di sekitarnya.
Ia menuturkan, pengalaman dalam penanganan kebakaran terakhir menunjukkan bahwa ketersediaan sumber air masih menjadi salah satu tantangan di kawasan permukiman. Dalam waktu sekitar 30 menit, petugas bahkan harus mengeluarkan tiga tangki air dengan kapasitas masing-masing sekitar 6.000 liter, 4.000 liter, dan 10.000 liter.
Kondisi tersebut, menurut Fida, memperlihatkan pentingnya sistem penyediaan air yang memadai dan mudah dijangkau. Terlebih, kebakaran di kawasan permukiman dapat berkembang dengan cepat dan membutuhkan pasokan air secara berkelanjutan.
Ia menambahkan, sistem hidran idealnya tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan perusahaan air minum. Tekanan air dari jaringan tersebut memiliki keterbatasan karena juga harus memenuhi kebutuhan rumah tangga masyarakat.
“Kalau menggunakan jaringan PDAM, tekanan airnya terbatas karena harus menjaga kebutuhan rumah tangga,” katanya.
Karena itu, Fida menilai sistem hidran untuk proteksi kebakaran perlu dilengkapi sistem pendorong atau pompa tersendiri. Dengan demikian, pasokan air untuk pemadaman dapat diatur sesuai kebutuhan tanpa mengganggu distribusi air untuk masyarakat.
Namun, pembangunan sistem tersebut membutuhkan dukungan anggaran yang cukup besar. Selain jaringan perpipaan, dibutuhkan pula tandon atau tempat penyimpanan air yang dapat ditempatkan di sejumlah titik strategis.
Disdamkarmatan Kukar berencana mendorong perluasan jaringan hidran kering agar dapat menjangkau lebih banyak kawasan permukiman. Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah kawasan Danau Aji di Kecamatan Tenggarong yang dinilai memiliki tingkat kerawanan kebakaran cukup tinggi.
Fida menjelaskan, kawasan Danau Aji memiliki sejumlah akses jalan utama yang membentuk kawasan dengan beberapa titik permukiman. Kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam perencanaan mitigasi, terutama berkaitan dengan akses kendaraan pemadam dan ketersediaan sumber air.
“Danau Aji merupakan kawasan yang dikelilingi beberapa poros jalan utama,” ungkapnya.
Menurutnya, apabila kebakaran terjadi di bagian tengah kawasan, petugas berpotensi menghadapi kendala dalam memperoleh sumber air secara cepat. Karena itu, penempatan tandon air di titik strategis menjadi salah satu opsi yang dapat dipertimbangkan.
Namun, penyediaan tandon berkapasitas besar juga memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait ketersediaan lahan di kawasan permukiman. Penempatannya harus mempertimbangkan halaman rumah warga, akses lalu lintas, serta aktivitas masyarakat di sekitar lokasi.
Fida menegaskan, upaya mitigasi kebakaran tidak dapat hanya dilakukan pemerintah. Masyarakat perlu dilibatkan, terutama melalui koordinasi dengan ketua RT, relawan dan unsur masyarakat di wilayah yang menjadi sasaran pengembangan jaringan hidran.
“Untuk hidran, perlu duduk bersama. Damkar bisa membantu memberikan pemetaan,” katanya.
Menurutnya, pemetaan wilayah menjadi langkah penting untuk menentukan lokasi jaringan pipa, titik sumber air, hingga posisi tandon yang paling efektif. Dengan perencanaan yang tepat, sistem hidran diharapkan dapat memberikan dukungan maksimal bagi petugas saat menghadapi kondisi darurat.
Fida berharap rencana pengembangan jaringan hidran kering mendapat dukungan dari pemerintah daerah dan legislatif melalui proses perencanaan dan penganggaran. Jaringan yang sudah tersedia diharapkan dapat dilanjutkan dan diperluas hingga masuk ke kawasan permukiman yang memiliki tingkat kerawanan kebakaran tinggi.
“Mudah-mudahan ada dukungan sehingga jaringan hidran kering bisa masuk ke kawasan permukiman,” pungkasnya.
Penguatan sistem hidran tersebut diharapkan menjadi bagian dari strategi mitigasi kebakaran di Kabupaten Kukar. Selain mempercepat proses pengisian air, keberadaan jaringan hidran dan tandon di titik strategis dapat membantu petugas bekerja lebih efektif sekaligus mengurangi risiko meluasnya kebakaran di kawasan permukiman.
ADV Diskominfo Kutai Kartanegara Pewarta : Indirwan Editor : Rudy M @2026

















