KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Anggota DPRD Kota Samarinda, Viktor Yuan, menyoroti kondisi fiskal daerah yang dinilai menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan program pembangunan sekaligus penyerapan aspirasi masyarakat.
Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan Penyerapan Aspirasi Masyarakat (Reses) Anggota DPRD Kota Samarinda Masa Persidangan III Tahun 2026, Senin (5/10/2026) sore.
Dalam kegiatan tersebut, Viktor menegaskan bahwa reses merupakan momentum bagi anggota DPRD untuk kembali ke daerah pemilihan (dapil), bertemu langsung dengan masyarakat, sekaligus mendengarkan berbagai persoalan dan kebutuhan yang berkembang di lingkungan warga.
“Reses berarti kembali ke dapil dan mendengarkan langsung aspirasi masyarakat,” ujar Viktor.
Menurutnya, kondisi keuangan daerah saat ini menjadi tantangan bagi pemerintah maupun DPRD dalam merealisasikan berbagai program. Perubahan kebijakan transfer ke daerah dinilai turut memberikan dampak terhadap kemampuan fiskal pemerintah daerah dan berpengaruh terhadap pelaksanaan sejumlah program pembangunan.
Viktor yang merupakan anggota Komisi II DPRD Kota Samarinda mengatakan, keterbatasan anggaran juga perlu menjadi perhatian dalam pengembangan sektor kepemudaan dan pembangunan sumber daya manusia (SDM).
“Bagaimana SDM bisa terbangun kalau anggaran semakin dipersempit. Ini menjadi pekerjaan rumah kita,” katanya.
Ia menilai, kondisi tersebut membutuhkan komunikasi dan sinergi yang lebih kuat antara Pemerintah Kota Samarinda dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur maupun pemerintah pusat. Langkah tersebut diperlukan untuk mencari serta mengoptimalkan berbagai sumber pendapatan yang masih berpotensi dikembangkan.
Viktor menyebut Samarinda memiliki sejumlah potensi ekonomi yang dapat dikembangkan untuk memperkuat Pendapatan Asli Daerah (PAD).
“Potensi pendapatan kita masih banyak yang bisa dikembangkan,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung kondisi Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Samarinda yang menurutnya mengalami penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Viktor menyebut angka APBD sebelumnya berada di kisaran Rp5,8 triliun, sedangkan kondisi saat ini diperkirakan sekitar Rp3,3 triliun hingga Rp3,4 triliun.
Namun, ia menegaskan angka tersebut masih perlu disesuaikan dengan data resmi Pemerintah Kota Samarinda.
Dengan kondisi fiskal tersebut, Viktor meminta pemerintah lebih cermat dalam menentukan skala prioritas pembangunan. Program yang memiliki dampak langsung terhadap masyarakat harus ditempatkan berdasarkan kebutuhan serta kemampuan keuangan daerah.
“Pemerintah kota harus cermat menentukan mana yang menjadi prioritas, baik jangka pendek, menengah maupun panjang,” jelasnya.
Aspirasi Masyarakat Banyak Terkendala Anggaran
Viktor juga menyoroti banyaknya aspirasi masyarakat yang disampaikan melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) maupun kegiatan reses DPRD. Menurutnya, keterbatasan anggaran menyebabkan tidak seluruh usulan tersebut dapat direalisasikan dalam waktu singkat.
Kondisi itu juga berdampak terhadap sejumlah usulan yang telah diperjuangkan melalui pokok-pokok pikiran (pokir) DPRD. Usulan yang berasal dari kebutuhan masyarakat harus kembali disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah dan skala prioritas pembangunan.
“Banyak usulan masyarakat yang terkendala anggaran dan akhirnya mengalami hambatan untuk direalisasikan,” tuturnya.
Meski demikian, Viktor memastikan DPRD Kota Samarinda akan tetap menjalankan fungsi representasi, legislasi dan pengawasan. Aspirasi yang disampaikan masyarakat melalui reses, menurutnya, akan terus diperjuangkan agar dapat masuk dalam proses perencanaan dan penganggaran sesuai kemampuan daerah.
Dorong Pemuda Kembangkan Potensi Ekonomi Samarinda
Di hadapan masyarakat dan kalangan pemuda, Viktor juga mengajak generasi muda untuk tidak hanya melihat keterbatasan anggaran sebagai persoalan. Menurutnya, kondisi tersebut justru dapat menjadi momentum untuk mendorong kreativitas, inovasi dan pengembangan potensi ekonomi lokal.
Ia mendorong masyarakat, termasuk pengurus RT dan pemuda, agar ikut berperan dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah, mengendalikan inflasi serta mengembangkan sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Jangan hanya melihat kesulitan, tetapi jadikan sebagai peluang,” katanya.
Viktor menilai Samarinda memiliki berbagai potensi wisata dan kebudayaan yang masih dapat dikembangkan sebagai penggerak ekonomi daerah. Sejumlah destinasi yang disebutnya antara lain Pampang, Gunung Steling, Kampung Tenun dan Kampung Ketupat.
Menurutnya, pengembangan sektor pariwisata dan kebudayaan secara terintegrasi dapat memberikan dampak berantai terhadap berbagai sektor ekonomi. Meningkatnya kunjungan wisatawan akan membuka peluang bagi sektor perhotelan, transportasi, kuliner hingga UMKM.
“Kalau pariwisata dikemas dengan baik, wisatawan datang dan perputaran ekonomi UMKM ikut bergerak,” jelasnya.
Ia mengatakan, DPRD bersama Pemerintah Kota Samarinda terus mendorong penguatan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai salah satu upaya meningkatkan aktivitas ekonomi sekaligus membuka peluang peningkatan PAD.
Karena itu, Viktor berharap generasi muda dapat mengambil peran lebih besar dalam mengembangkan potensi tersebut. Pemuda dinilai tidak hanya dapat menjadi pelaku kegiatan, tetapi juga penggerak inovasi melalui kelompok sadar wisata, komunitas kreatif maupun berbagai usaha berbasis potensi lokal.
“Pemuda harus punya wawasan luas, mimpi tinggi, dan mampu merealisasikannya,” pungkasnya.
ADV DPRD Kota Samarinda Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















