KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Kebakaran hebat melanda kawasan permukiman warga di Jalan AM Alimuddin, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Senin (5/10/2026) sore. Kobaran api dengan cepat merambat dan menghanguskan puluhan bangunan rumah warga.
Berdasarkan keterangan sementara dari pihak Kelurahan Melayu, sekitar 75 bangunan rumah terdampak dalam peristiwa tersebut. Petugas pemadam kebakaran bersama relawan dan sejumlah unsur terkait langsung dikerahkan untuk mengendalikan kobaran api agar tidak semakin meluas ke permukiman di sekitarnya.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kukar, Fida Hurasani, mengatakan pihaknya segera bergerak setelah menerima laporan kebakaran. Fida juga turun langsung ke lokasi untuk memantau proses penanganan sejak awal kejadian.
Menurutnya, titik api pertama kali terlihat di bagian tengah kawasan permukiman. Kondisi bangunan yang berdekatan membuat api relatif cepat merambat, sehingga petugas harus menerapkan pola pemadaman untuk membatasi penyebaran api.
“Pemadaman berlangsung sekitar dua jam. Kendalanya terutama musim kemarau, cuaca panas, angin kencang, dan sulitnya mendapatkan sumber air,” ujar Fida.
Selain kondisi cuaca, kepadatan permukiman menjadi salah satu tantangan petugas. Angin yang bertiup cukup kencang turut mempercepat perambatan api dari satu bangunan ke bangunan lainnya.
Keterbatasan pasokan air juga menjadi kendala serius selama proses pemadaman. Petugas beberapa kali harus mencari sumber air dan melakukan pengisian ulang tangki agar proses pemadaman dapat terus berlangsung.
Fida menjelaskan, kawasan Danau Aji dan sekitarnya, termasuk Jalan AM Alimuddin, sebenarnya telah lama masuk dalam pemetaan wilayah yang rawan terjadi kebakaran. Disdamkarmatan Kukar bahkan telah beberapa kali melakukan simulasi penanganan kebakaran di kawasan tersebut.
Pemetaan dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik permukiman, kondisi akses jalan, hingga kemungkinan penempatan selang pemadam. Langkah tersebut dilakukan untuk menemukan pola penanganan yang paling efektif apabila terjadi kebakaran di kawasan padat penduduk.
Sebagai langkah mitigasi, kawasan tersebut juga telah mendapat dukungan berupa hidran kering. Selain itu, terdapat dua tandon air dengan kapasitas sekitar 5.000 liter yang disiapkan untuk membantu penanganan apabila terjadi kebakaran.
“Dua lokasi ini memang menjadi perhatian kami. Tadi juga sudah dimanfaatkan, termasuk pengisian di depan KUA untuk memperpendek akses ke Sungai Tenggarong,” jelasnya.
Dalam penanganan kebakaran, Disdamkarmatan Kukar turut meminta bantuan unit pemadam dari sejumlah wilayah untuk memperkuat personel dan armada di lapangan. Bantuan datang dari beberapa kecamatan, termasuk unit berkapasitas besar dari Sebulu dan Kota Bangun.
Relawan dari Kota Samarinda dan sejumlah wilayah lainnya juga ikut dikerahkan untuk membantu proses pemadaman. Kolaborasi tersebut dilakukan untuk mempercepat pengendalian api sekaligus mencegah kobaran menjalar lebih luas.
Meski upaya pemadaman telah dilakukan secara maksimal, Fida mengakui keterbatasan sumber air membuat proses penanganan belum dapat berjalan optimal. Kondisi tersebut, kata dia, menjadi bahan evaluasi penting bagi Disdamkarmatan Kukar dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kebakaran, khususnya di kawasan permukiman padat.
“Kami mohon maaf kepada warga karena pelayanan belum maksimal. Kami sempat kehabisan air dan kesulitan mencari sumber air,” katanya.
Kebakaran tersebut tidak hanya menimbulkan kerugian material, tetapi juga berdampak terhadap kondisi sejumlah warga. Kepulan asap dan kepanikan selama kejadian menyebabkan beberapa warga mengalami gangguan kesehatan dan membutuhkan penanganan medis.
Fida menyebut terdapat warga yang mengalami sesak napas hingga mengalami shock setelah menyaksikan kebakaran. Sejumlah warga kemudian dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
Peristiwa tersebut menjadi evaluasi bagi Disdamkarmatan Kukar untuk kembali memperkuat pemetaan kawasan rawan kebakaran, terutama di wilayah dengan tingkat kepadatan bangunan tinggi dan keterbatasan akses sumber air.
“Ini menjadi pelajaran bagi kami. Kami akan memetakan kawasan ini kembali dengan lebih baik agar kejadian serupa tidak terulang,” pungkas Fida.
Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2026

















