Menu

Mode Gelap
Hari Ketiga Pencarian Nelayan Hilang di Muara Berau Belum Membuahkan Hasil Sosialisasikan Raperda Pasar Rakyat, Rusdi Doviyanto Ajak Warga Ikut Beri Masukan DPRD Samarinda Godok Raperda Pasar Rakyat, Dovy Serap Aspirasi Warga Sambutan KONI Samarinda Matangkan Kontingen Porprov, 1.700 Atlet Masuk Tahap Seleksi Akhir KONI Kaltim Ajak Cabor Samarinda Perkuat Soliditas Menuju Porprov VIII

BERITA DAERAH · 20 Mei 2024 09:25 WITA ·

Lestarikan Kearifan Lokal, Desa Kedang Ipil Perkenalkan Nutuk Beham Budaya Kutai Adat Lawas


 Prosesi Nutuk Beham yang dilakukan oleh warga Desa Kedang Ipil.(kumalanews.id) Perbesar

Prosesi Nutuk Beham yang dilakukan oleh warga Desa Kedang Ipil.(kumalanews.id)

KUMALANEWS.ID – Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) merupakan salah satu daerah yang terkenal dengan kekayaan sumber daya alam, tetapi juga memiliki ragam budaya yang unik dan berkarakter, yang menjadi warisan tak benda bagi generasi di masa mendatang.

Salah satunya adalah Nutuk Beham, merupakan adat istiadat serta tradisi dan kebudayaan yang yang dilaksanakan secara turun temurun, sebagai kearifan lokal masyarakat Kutai Adat Lawas di Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Nutuk Beham adalah acara adat yang timbul dari niat atau nawa yang dijanjikan sebelum musim tanam dilakukan. Apabila panen berhasil dan melimpah maka akan dilakukan syukuran padi muda sebagai tanda terima kasih pada sang pencipta.

Nutuk Beham berasal dari bahasa daerah Kutai pedalaman terdiri dari dua kata, yaitu Nutuk yang artinya menumbuk padi dan Beham artinya makan dengan cara memasukan makanan kedalam mulut sebanyak-banyaknya.

“Nutuk Beham diartikan menumbuk padi ketan muda sebanyak-banyaknya untuk dijadikan kue wajik sebelum dimakan bersama,” terang Kepala Desa Kedang Ipil, Kuspawansyah, Minggu (19/5/2024).

Lebih lanjut Kuspawansyah menjelaskan, untuk proses pembuatan beham, padi atau gabah ketan muda yang baru dipanen direndam selama tiga hari tiga malam. Setelah itu, dimasukan kedalam kuali untuk disangrai.

Usai matang, lantas ketan didinginkan.Proses selanjutnya padi ketan dimasukan kedalam lesung untuk ditumbuk beramai-ramai selama satu hari satu malam, tergantung banyaknya padi ketan.

Keunikan dari proses ini yaitu, lesung yang digunakan menubuk padi ketan tersebut bisa berbunyi. Karena, dibawahnya dipasang aler yaitu semacam tongkat yang bersuara ketika bersentuhan dengan lesung.

Setelah selesai ditumbuk, padi ketan lantas dimasukan kedalam niru untuk dipisahkan atau disaring antara ampas dan berasnya. Dan proses inipun dikerjakan secara beramai-ramai oleh warga yang silih berganti.

Memasuki proses pembuatan kue wajik, beras beham dicampur dengan parutan kelapa dan gula merah serta air panas. Racikan itu lalu diaduk sampai rata, hingga menjadi gumpalan-gumpalan kue wajik dari beras beham.

Ada juga beras beham yang bisa dimakan langsung tanpa dijadikan kue wajik. Hal ini menjadi ciri khas, karena aroma serta rasanya  masih segar seperti padi ketan muda.

“Padi ketan muda ini bawa masing-masing oleh warga yang merupakan hasil panen. Kemudian dikumpulkan kepada panitia atau lembaga adat maupun ketua kelompok,” ujar Kuspawansyah.

“Sebelumnya, kita beritahukan dulu kepada warga, siapa yang mau ikut upacara nutuk beham ini silahkan mendaftar kepada panitia atua lembang adat maupun ketua kelompok,” imbuh Kuspawansyah.

disk22

Warga Desa Kedang Ipil bergotong royong dalam upacara tradisi Nutuk Beham.(kumalanews.id)

Yang tak kalah menariknya adalah sebelum kue-kue tersebut dimakan, terlebih dahulu dibacakan mantra-mantra atau memang oleh Ketua Kampung. Tujuannya adalah, untuk menghadirkan mahluk tak kasat mata. Dimomen inilah, dimaknai sebagai terima kasih karena telah menjaga alam atas panen yang berlimpah.

Usai pembacaan mantra-mantra, barulah warga dan tamu undangan dipersilahkan memakan kue tersebut. Selain langsung dimakan, kue wajik yang telah melalui prosesi nutuk beham itu juga bisa dibawa pulang oleh masyarakat setempat atau para pengujung.

“Prosesi nutuk beham ini sendiri, digelar selama satu hari satu malam penuh, sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang berlimpah pemberian sang pencipta,” ungkap Kuspawansyah.

Untuk menarik para pengunjung, kegiatan ini juga dikemas dengan menarik yang bertajuk Nutuk Beham Festival Budaya Kutai Adat Lawas, dengan melibatkan Pemerintah Daerah melalui OPD terkait, Dunia Usaha, Lembaga Adat, Komunitas Budaya serta para pelaku UMKM dan menggelar berbagai macam pertunjukan pentas seni.

“Dalam kegiatan ini kita juga melibatkan UMKM yang ada di Desa Kedang, dan ini merupakan agenda yang ke 7 kalinya,” beber Kuspawansyah.

Tak hanya itu, Kuspawansyah juga berharap agar kegiatan ini dapat terus didukung oleh seluruh pemangku kepentingan, sehingga Nutuk Beham Festival Budaya Kutai Adat Lawas bisa dikenal secara luas oleh masyarakat.

“Kami ingin ini menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan, sehingga potensi yang ada di Desa Kedang Ipil bisa dikenal secara luas,” tutup Kuspawansyah.(adv/disdikbud kukar/alf/ruz)

Artikel ini telah dibaca 397 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Hari Ketiga Pencarian Nelayan Hilang di Muara Berau Belum Membuahkan Hasil

19 Juli 2026 - 18:30 WITA

C2

Sosialisasikan Raperda Pasar Rakyat, Rusdi Doviyanto Ajak Warga Ikut Beri Masukan

19 Juli 2026 - 17:00 WITA

C1

DPRD Samarinda Godok Raperda Pasar Rakyat, Dovy Serap Aspirasi Warga Sambutan

18 Juli 2026 - 21:00 WITA

ab46

KONI Samarinda Matangkan Kontingen Porprov, 1.700 Atlet Masuk Tahap Seleksi Akhir

18 Juli 2026 - 20:00 WITA

ab45

KONI Kaltim Ajak Cabor Samarinda Perkuat Soliditas Menuju Porprov VIII

18 Juli 2026 - 19:00 WITA

ab44

KONI Samarinda Matangkan Persiapan Porprov VIII, 64 Cabor Siap Pertahankan Prestasi

18 Juli 2026 - 18:00 WITA

ab43
Trending di BERITA DAERAH