KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Penutupan Festival Budaya Dayak Kenyah ke-53 Tahun 2026 di Lamin Adat Desa Budaya Pampang, Samarinda, berlangsung meriah meski diguyur hujan, Minggu (28/6/2026). Ribuan masyarakat tetap bertahan hingga acara berakhir, bahkan ikut menari bersama dalam pertunjukan budaya, mencerminkan tingginya antusiasme dan kecintaan terhadap budaya Dayak Kenyah.
Semangat masyarakat tersebut mendapat apresiasi dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Mewakili Gubernur Kalimantan Timur Rudy Mas’ud sekaligus Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi, Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kaltim, Awang Khalik, mengatakan tingginya partisipasi pengunjung menjadi bukti bahwa Festival Budaya Dayak Kenyah telah berkembang menjadi salah satu daya tarik budaya unggulan di Kalimantan Timur.
“Meski hujan, masyarakat tetap bertahan hingga acara selesai. Ini luar biasa,” ujarnya.
Menurut Awang, festival di Desa Budaya Pampang kini tidak hanya menjadi milik masyarakat Dayak Kenyah, tetapi juga menjadi ruang budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah. Bahkan, banyak pengunjung turut larut dalam tarian bersama sebagai bentuk apresiasi terhadap budaya lokal.
“Budaya di Pampang kini menjadi kebanggaan bersama, bukan hanya milik masyarakat setempat,” katanya.
Ia menilai Festival Budaya Dayak Kenyah memiliki peran penting dalam memperkuat identitas budaya daerah sekaligus mempererat kebersamaan di tengah keberagaman masyarakat. Karena itu, nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur harus terus dijaga, dilestarikan, dan dikembangkan.
Komitmen tersebut sejalan dengan pesan Gubernur Kalimantan Timur yang menegaskan dukungan pemerintah terhadap pelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah. Selain menjaga identitas masyarakat, festival budaya juga dinilai mampu mendorong sektor pariwisata, mengembangkan ekonomi kreatif, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Penutupan Festival Budaya Dayak Kenyah ke-53 menjadi puncak rangkaian kegiatan yang telah berlangsung selama beberapa hari di Desa Budaya Pampang. Antusiasme ribuan pengunjung yang tetap memenuhi Lamin Adat meski hujan turun menunjukkan bahwa festival ini telah menjadi lebih dari sekadar pertunjukan seni, tetapi juga simbol persatuan, pelestarian budaya, dan kebanggaan masyarakat Kalimantan Timur.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















