Menu

Mode Gelap
Semarak HUT ke-81 RI, Warga Tiga RT di Gunung Arjuna Gelar Jalan Sehat Bukan Sekadar Otot, Ini Aspek yang Dinilai Juri di JOS Fitness Open Bodycontest 2026 PBFI Kaltim Dorong Kompetisi Fitness Jadi Wadah Lahirkan Atlet Berprestasi Dimas Wira Jadikan JOS Fitness Open Body Contest 2026 Batu Loncatan ke Kompetisi Lebih Tinggi JOS Fitness Open Body Contest Diharapkan Jadi Kawah Atlet Fitness Kaltim

BERITA DAERAH · 30 Jul 2026 17:00 WITA ·

Pedagang Keluhkan Pasar Pagi Samarinda Masih Sepi, Minta Penataan Kios dan Sistem Cluster Dievaluasi


 Pedagang Pasar Pagi Samarinda, Osan, mengungkapkan sepinya pengunjung menjadi penyebab utama lesunya aktivitas jual beli. Menurutnya, sebagian besar pedagang tetap ingin berjualan, namun minimnya pembeli membuat banyak kios terlihat tidak beroperasi. Foto: Beby. Perbesar

Pedagang Pasar Pagi Samarinda, Osan, mengungkapkan sepinya pengunjung menjadi penyebab utama lesunya aktivitas jual beli. Menurutnya, sebagian besar pedagang tetap ingin berjualan, namun minimnya pembeli membuat banyak kios terlihat tidak beroperasi. Foto: Beby.

KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Kondisi Pasar Pagi Samarinda yang hingga kini masih minim pengunjung kembali dikeluhkan para pedagang. Mereka menilai penataan lokasi berjualan, penerapan sistem cluster, hingga kondisi bangunan menjadi sejumlah faktor yang menyebabkan aktivitas jual beli belum kembali bergairah pasca penataan pasar.

Keluhan tersebut disampaikan salah seorang pedagang barang campuran, Ohan, saat ditemui di Pasar Pagi Samarinda, Kamis (30/7/2026). Menurutnya, anggapan bahwa banyak kios kosong karena pedagang enggan berjualan tidak sepenuhnya benar. Sebagian besar pedagang, kata dia, tetap ingin membuka usahanya, namun rendahnya jumlah pengunjung membuat mereka kesulitan memperoleh pembeli.

“Sebenarnya kios ada isinya, tetapi pengunjung yang masuk ke sini sangat sedikit,” ujar Ohan.

Ia menjelaskan, persoalan utama yang dirasakan pedagang berada pada tata letak kios, khususnya di lantai dua. Menurutnya, jalur yang dilalui pengunjung saat memasuki pasar tidak mengarahkan mereka menuju area tersebut sehingga kios-kios di bagian dalam dan ujung lorong jarang dikunjungi calon pembeli.

Ohan menilai penempatan pedagang perlu dievaluasi agar arus pengunjung dapat tersebar lebih merata ke seluruh lantai. Dengan demikian, seluruh pedagang memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan pelanggan.

“Bukan pedagang yang tidak mau jualan, tetapi pembelinya memang tidak masuk ke area ini,” katanya.

Selain tata letak, Ohan juga menyoroti penerapan sistem cluster atau pengelompokan jenis dagangan yang dinilai terlalu ketat. Menurutnya, aturan tersebut membatasi pedagang untuk menjual produk lain yang berpotensi menarik minat pembeli dan menambah pendapatan.

Ia mengungkapkan, banyak pedagang sebenarnya ingin menambah jenis dagangan, seperti menjual minuman atau produk pelengkap lainnya. Namun keinginan tersebut tidak dapat direalisasikan karena dinilai tidak sesuai dengan pembagian zona usaha yang telah ditetapkan pengelola pasar.

“Kami hanya ingin diberi kesempatan berjualan lebih fleksibel supaya pasar kembali ramai,” ungkapnya.

Ohan mengatakan larangan tersebut berasal dari pihak Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pasar yang beralasan penataan harus tetap mengikuti sistem cluster. Meski memahami tujuan penataan, ia berharap kebijakan tersebut dapat dievaluasi agar lebih menyesuaikan dengan kondisi riil di lapangan.

Menurutnya, semakin banyak variasi barang yang dijual, semakin besar pula peluang menarik pengunjung untuk datang dan berbelanja. Hal itu diyakini dapat membantu menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di Pasar Pagi Samarinda.

Tak hanya itu, Ohan juga mengeluhkan kondisi pedagang yang menempati kios di bagian ujung lorong. Minimnya lalu lintas pengunjung membuat peluang terjadinya transaksi menjadi sangat kecil dibandingkan kios yang berada di dekat pintu masuk.

“Kalau orang ramai lewat, biasanya ada saja yang mampir membeli. Sekarang yang lewat pun hampir tidak ada,” ujarnya.

Di sisi lain, ia juga menyoroti kondisi bangunan pasar yang menurutnya masih memerlukan penyempurnaan. Saat hujan turun, beberapa bagian bangunan masih mengalami kebocoran atau tempias sehingga mengganggu aktivitas perdagangan.

“Kalau hujan masih tempias, kami terpaksa tutup,” keluhnya.

Para pedagang berharap Pemerintah Kota Samarinda bersama pengelola Pasar Pagi segera melakukan evaluasi terhadap sistem penataan kios, kebijakan cluster, serta menyelesaikan berbagai kekurangan fasilitas bangunan. Mereka meyakini langkah tersebut akan mendorong meningkatnya jumlah pengunjung dan mengembalikan geliat ekonomi di salah satu pasar tradisional terbesar di Kota Samarinda.

Bagi para pedagang, ramainya pengunjung menjadi faktor utama untuk memulihkan aktivitas perdagangan. Karena itu, mereka berharap setiap kebijakan penataan pasar tidak hanya berorientasi pada keteraturan, tetapi juga mampu menciptakan ekosistem perdagangan yang hidup dan memberikan kesempatan usaha yang adil bagi seluruh pedagang.

 

Pewarta : Yana Ashari
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Semarak HUT ke-81 RI, Warga Tiga RT di Gunung Arjuna Gelar Jalan Sehat

23 Agustus 2026 - 18:00 WITA

h13

CFD Terpadu Resmi Diluncurkan di Taman Tiga Generasi, Jadi Ruang Sehat dan Penggerak UMKM

23 Agustus 2026 - 11:00 WITA

h6

Semarak HUT ke-81 RI, CFR Samarinda Gelar Lomba Mancing Antaranggota

22 Agustus 2026 - 19:00 WITA

h2

Dishub Balikpapan Siapkan Pengaturan Jam BBM Bersubsidi untuk Atasi Antrean Pertalite

21 Agustus 2026 - 18:00 WITA

h1

64 Jenis Jamu Mengandung BKO Ditemukan di Balikpapan, BPOM Telusuri Sumber Produksi

21 Agustus 2026 - 17:00 WITA

g99

HUT ke-81 RI, Dovy Ajak Warga Samarinda Jaga Persatuan dan Ciptakan Kedamaian

21 Agustus 2026 - 13:00 WITA

g98
Trending di BERITA DAERAH