KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Legenda tentang kisah cinta tragis Putri Kusuma dan Ilamuddin masih hidup dan dipercaya oleh masyarakat Samarinda Seberang hingga kini. Cerita yang diwariskan secara turun-temurun itu diyakini menjadi asal-usul kawasan Teluk Cinta atau PT Teluk Bajau yang berada di Jalan Ampera RT 16, Kelurahan Mangkupalas, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda. Kisah tersebut kembali diceritakan oleh Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Samarinda Seberang, Rusdiansyah Rays, kepada awak media, Minggu (2/8/2026).
Rusdiansyah menjelaskan, berdasarkan cerita lisan yang berkembang di tengah masyarakat, peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada penghujung abad ke-19, sekitar tahun 1899 hingga 1901. Tokoh utama dalam legenda itu adalah Putri Kusuma, putri seorang penghulu sekaligus penjaga wilayah Kampung Mangkujenang, yang jatuh cinta kepada Ilamuddin, seorang nelayan muda asal Kampung Teluk Bajau, Mangkupalas.
Namun, hubungan keduanya tidak mendapat restu keluarga. Putri Kusuma telah dijodohkan dengan seorang bangsawan Bugis-Kutai demi menjaga kehormatan keluarga dan adat yang berlaku saat itu. Penolakan tersebut berujung pada tragedi ketika Ilamuddin dibunuh. Hingga kini, menurut cerita masyarakat, makam Ilamuddin tidak pernah diketahui keberadaannya.
“Ini adalah kisah yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Cerita ini menjadi bagian dari sejarah tutur yang masih dikenang hingga sekarang,” ujar Rusdiansyah.
Ia menuturkan, Putri Kusuma yang terus menanti kepulangan kekasihnya akhirnya jatuh sakit karena menahan rindu. Setelah mengetahui Ilamuddin telah meninggal dunia, Putri Kusuma bangkit dengan sisa tenaganya dan berjalan menuju tempat yang selama ini menjadi lokasi pertemuan mereka, yang kini dikenal sebagai Teluk Cinta.
Sebelum mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Sungai Mahakam, Putri Kusuma disebut mengucapkan kalimat yang selalu diingatnya dari Ilamuddin.
“Kucintaki’, kusayangki’, kurinduki’,” ucap Rusdiansyah mengisahkan kembali legenda tersebut.
Menurut cerita yang diwariskan masyarakat, kalimat itu menjadi ucapan terakhir Putri Kusuma sebelum tubuhnya tenggelam di aliran Sungai Mahakam. Beberapa waktu kemudian, jasadnya ditemukan hanyut di kawasan Sungai Kapih. Sejak saat itu, kisah Putri Kusuma dan Ilamuddin terus dikenang sebagai simbol cinta sejati yang kandas akibat perbedaan status sosial, adat istiadat, dan keputusan keluarga.
Rusdiansyah berharap legenda tersebut tidak hanya menjadi cerita rakyat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian sejarah lisan dan budaya lokal Samarinda Seberang. Menurutnya, kisah itu memiliki nilai sejarah, budaya, dan edukasi yang penting untuk dikenalkan kepada generasi muda, sekaligus mendorong penelitian lebih lanjut guna menelusuri fakta-fakta sejarah yang melatarbelakangi lahirnya legenda Teluk Cinta.
“Warisan budaya seperti ini harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















