KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Komitmen SMPN 2 Tenggarong dalam menjaga lingkungan diwujudkan melalui inovasi pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos padat dan cair. Program ini tidak hanya berhasil mengurangi volume sampah sekolah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai ekonomis. Hal itu disampaikan oleh Kepala SMPN 2 Tenggarong, Yunus, Jum’at (21/11/2025).
Yunus menjelaskan, setiap hari sekolah menghasilkan banyak sampah daun, ranting, dan buah-buahan jatuh dari pohon seperti jambu dan belimbing. Agar tidak menumpuk dan mencemari lingkungan, sampah-sampah tersebut dikumpulkan di bak penampungan khusus untuk diolah menjadi kompos.
“Sampah daun yang sebelumnya dibuang kini kita kumpulkan dan olah. Kita punya bak fermentasi dan mesin pencacah, sehingga daun dapat diproses menjadi pupuk kompos padat,” terang Yunus.
Proses pembuatan kompos dilakukan dengan mencacah daun kering menggunakan mesin, lalu mencampurnya dengan gula merah serta cairan pengurai (M4). Setelah melalui proses fermentasi selama beberapa pekan, kompos siap digunakan atau dijual. Pupuk produksi SMPN 2 Tenggarong ini bahkan sudah dikenal oleh masyarakat sekitar dan kerap dibeli untuk kebutuhan tanaman.
Selain kompos padat, sekolah juga memproduksi kompos cair dari buah-buahan yang tidak termakan atau sudah busuk. Buah yang jatuh dari pohon ditampung di bak khusus, lalu difermentasi bersama campuran gula merah. Proses ini menghasilkan pupuk cair yang kaya nutrisi untuk tanaman.
“Banyak buah yang tidak sempat dipanen atau sudah rusak. Daripada menjadi sampah, kami olah menjadi kompos cair. Hasilnya bagus dan bisa dijual kembali,” jelasnya.
Produksi kompos ini tidak hanya membantu menjaga kebersihan sekolah, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi siswa untuk memahami konsep daur ulang, pengurangan sampah, serta pemanfaatan limbah organik. Siswa dilibatkan dalam proses pengumpulan daun, pemisahan sampah, hingga pengemasan kompos.
Yunus menyebut program ini sebagai bentuk nyata implementasi Adiwiyata, sekaligus langkah strategis dalam membangun budaya peduli lingkungan di sekolah.
“Kami ingin anak-anak belajar bahwa sampah itu bisa diolah, bukan dibuang. Ini melatih mereka berpikir kreatif, mandiri, dan peduli lingkungan,” katanya.
Dengan inovasi pengolahan kompos yang berkelanjutan, SMPN 2 Tenggarong tidak hanya berhasil menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, tetapi juga menghasilkan produk ramah lingkungan yang memberi manfaat bagi sekolah dan masyarakat.
ADV Disdikbud Kukar Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2025

















