KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) menyoroti pentingnya kesehatan mental pelajar sebagai bagian dari upaya meningkatkan mutu pendidikan secara menyeluruh. Meningkatnya tekanan akademik, perubahan sosial, serta pengaruh lingkungan digital dinilai membuat siswa semakin rentan mengalami stres dan penurunan motivasi belajar.
Plt Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, menyebut bahwa kondisi ini tidak boleh diabaikan karena kesehatan mental yang terganggu dapat memengaruhi konsentrasi, perilaku, hingga prestasi siswa. Ia menegaskan bahwa sekolah harus menjadi ruang aman bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara emosional.
“Kita tidak hanya bicara akademik, tapi perkembangan mental anak-anak kita. Kalau mereka tertekan, proses belajar tidak akan berjalan dengan baik,” ujar Pujianto, Senin (24/11/2025).
Sebagai langkah konkret, Disdikbud Kukar sedang menyusun program penguatan layanan konseling di sekolah, termasuk peningkatan kapasitas guru BK serta penyediaan pelatihan khusus terkait deteksi dini masalah psikologis siswa. Program ini dirancang agar sekolah mampu merespons persoalan emosional siswa dengan lebih profesional.
Tidak hanya itu, Disdikbud juga mendorong sekolah mengintegrasikan kegiatan yang bersifat rekreatif dan membangun suasana positif, seperti kegiatan seni, olahraga, dan program berbasis kebersamaan. Menurut Pujianto, aktivitas nonakademik yang sehat sangat membantu stabilitas emosional siswa.
“Sekolah harus memiliki iklim yang ramah dan suportif. Aktivitas positif itu penting untuk menjaga keseimbangan antara akademik dan kebutuhan mental siswa,” jelasnya.
Upaya lain yang sedang disiapkan adalah pembentukan jejaring kolaborasi antara sekolah dengan puskesmas atau tenaga psikolog di wilayah kecamatan. Jejaring ini dibutuhkan agar sekolah memiliki jalur rujukan yang jelas apabila menemukan siswa yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Pujianto menegaskan bahwa pendekatan kesehatan mental tidak boleh hanya responsif, tetapi harus bersifat preventif. Dengan sistem pendampingan yang kuat, ia yakin sekolah dapat mengurangi munculnya kasus-kasus perilaku menyimpang ataupun penurunan prestasi yang disebabkan stres.
“Kita ingin masalah mental ini ditangani sejak awal. Kalau dicegah, efeknya jauh lebih baik daripada menunggu sampai berat,” ungkapnya.
Ia berharap program penguatan kesehatan mental tersebut menjadi gerakan bersama antara guru, orang tua, dan pemerintah daerah. Menurutnya, perhatian pada kesehatan emosional anak merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas generasi muda Kukar.
“Kalau mental anak-anak kuat, maka mereka akan lebih siap menghadapi tantangan zaman dan menjadi generasi yang tangguh,” pungkas Pujianto.
ADV Disdikbud Kukar Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2025

















