KUMALANEWS.ID, BALIKPAPAN – Regenerasi petani menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi sektor pertanian di Kota Balikpapan. Di tengah pesatnya perkembangan kawasan perkotaan dan semakin terbatasnya lahan produktif, minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian masih relatif rendah. Kondisi ini menjadi perhatian serius pemerintah daerah karena berpotensi memengaruhi keberlanjutan produksi pangan di masa mendatang.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahjuningsih, mengatakan sebagian besar petani yang saat ini aktif mengelola lahan pertanian berada pada kelompok usia lanjut. Sementara jumlah generasi muda yang memilih profesi sebagai petani masih sangat terbatas.
“Selain keterbatasan lahan, tantangan lainnya adalah masih minimnya penduduk usia muda yang bergerak di bidang pertanian. Rata-rata petani kami usianya sudah cukup tua, sehingga regenerasi masih menjadi tantangan,” kata Sri Wahjuningsih, Rabu (3/6/2026).
Perempuan yang akrab disapa Yuyun itu menjelaskan, luas lahan pertanian di Kota Balikpapan saat ini hanya sekitar 15 persen dari total wilayah kota. Lahan tersebut dimanfaatkan untuk berbagai subsektor pertanian, mulai dari tanaman pangan, hortikultura, perkebunan hingga peternakan.
Menurutnya, keterbatasan lahan merupakan konsekuensi dari perkembangan Kota Balikpapan sebagai daerah perkotaan yang terus bertumbuh. Namun demikian, kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menghentikan pengembangan sektor pertanian. Justru diperlukan inovasi dan pendekatan baru agar aktivitas pertanian tetap dapat berkembang di tengah lingkungan perkotaan.
Yuyun menilai, munculnya kelompok petani milenial yang mulai mengembangkan pertanian modern menjadi salah satu harapan dalam menjawab persoalan regenerasi petani. Generasi muda dinilai lebih terbuka terhadap pemanfaatan teknologi dan metode budidaya yang lebih efisien.
“Kalau petani muda ini rata-rata bergerak di tanaman hidroponik seperti sawi dan sayuran lainnya. Mereka sudah mulai memanfaatkan teknologi dan cocok diterapkan di lahan terbatas,” ujarnya.
Ia mengatakan, sistem hidroponik dan berbagai metode pertanian modern lainnya menjadi pilihan yang cukup diminati generasi muda karena tidak membutuhkan lahan luas. Selain itu, hasil produksi dapat lebih terkontrol dan memiliki nilai ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola secara serius.
Perkembangan pertanian perkotaan atau urban farming juga mulai terlihat di sejumlah kawasan permukiman di Balikpapan. Masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah, lahan kosong, hingga area terbatas di lingkungan perumahan untuk menanam berbagai jenis sayuran dan tanaman pangan.
Melihat potensi tersebut, Pemerintah Kota Balikpapan melalui DKP3 terus mendorong pengembangan urban farming sebagai salah satu strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus memperkenalkan dunia pertanian kepada masyarakat perkotaan.
Program tersebut menyasar berbagai kalangan, mulai dari kelompok tani, rukun tetangga (RT), sekolah, komunitas masyarakat hingga kelurahan yang ingin mengembangkan kegiatan bercocok tanam di lingkungan masing-masing.
Sebagai bentuk dukungan, DKP3 secara rutin memberikan bantuan bibit tanaman produktif seperti cabai, tomat, terong, kangkung, hingga tanaman obat keluarga. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan yang tersedia secara optimal.
“Biasanya masyarakat memanfaatkan teras rumah atau lahan kosong di perumahan. Kami siapkan bibitnya, nanti mereka yang mengembangkan sesuai potensi masing-masing,” jelasnya.
Menurut Yuyun, manfaat urban farming tidak hanya sebatas menghasilkan bahan pangan untuk kebutuhan rumah tangga. Lebih dari itu, kegiatan tersebut dapat menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak dan generasi muda, untuk mengenal dunia pertanian sejak dini.
Ia menilai perubahan pola pikir terhadap sektor pertanian perlu terus dilakukan. Pertanian saat ini tidak lagi identik dengan pekerjaan tradisional yang bergantung pada lahan luas, melainkan telah berkembang menjadi sektor yang memanfaatkan teknologi, inovasi, dan kreativitas.
Karena itu, DKP3 terus berupaya mengenalkan konsep pertanian modern kepada kalangan muda melalui berbagai program pendampingan, pelatihan, hingga pemberian bantuan sarana produksi pertanian yang sesuai dengan kebutuhan wilayah perkotaan.
“Urban farming dan pertanian berbasis teknologi menjadi peluang agar sektor pertanian tetap berkembang di tengah kota yang terus tumbuh, sekaligus menarik minat generasi muda untuk ikut terlibat,” tegasnya.
Pemerintah Kota Balikpapan berharap semakin banyak generasi muda yang melihat sektor pertanian sebagai peluang usaha dan profesi yang menjanjikan. Dengan dukungan teknologi dan inovasi, regenerasi petani diharapkan dapat terus berjalan sehingga ketahanan pangan daerah tetap terjaga di masa depan.
ADV Diskominfo Kota Balikpapan Pewarta : M Hilmansyah Editor : Fairuzzabady @2026

















