Menu ✖

Mode Gelap
Resmikan SAE PASTARUNG, Bupati Kukar Dorong Pemberdayaan dan Kemandirian Warga Binaan Rodi Arianto Harap UMKM Kembali Beraktivitas di Teras Samarinda, RDP Berlanjut Besok Bapemperda DPRD Samarinda Bahas Raperda APBD 2027, Anggaran Awal Rp3,46 Triliun Perumda Varia Niaga Buka Peluang UMKM Kembali Berjualan di Teras Samarinda DPRD Samarinda Bahas Penghentian UMKM di Teras Samarinda, Pihak Terkait Dipanggil

BERITA DAERAH · 3 Agu 2026 10:00 WITA ·

Legenda Putri Kusuma dan Ilamuddin, Kisah Cinta Abadi yang Melahirkan Nama Teluk Cinta di Samarinda Seberang


 Legenda cinta tragis Putri Kusuma dan Ilamuddin yang dipercaya menjadi asal-usul kawasan Teluk Cinta (PT Teluk Bajau) di Jalan Ampera, Kelurahan Mangkupalas, Kecamatan Samarinda Seberang, kembali diceritakan Ketua LPM Kecamatan Samarinda Seberang, Rusdiansyah Rays, sebagai bagian dari upaya melestarikan sejarah lisan dan budaya lokal, Minggu (2/8/2026). Foto: ilustrasi. Perbesar

Legenda cinta tragis Putri Kusuma dan Ilamuddin yang dipercaya menjadi asal-usul kawasan Teluk Cinta (PT Teluk Bajau) di Jalan Ampera, Kelurahan Mangkupalas, Kecamatan Samarinda Seberang, kembali diceritakan Ketua LPM Kecamatan Samarinda Seberang, Rusdiansyah Rays, sebagai bagian dari upaya melestarikan sejarah lisan dan budaya lokal, Minggu (2/8/2026). Foto: ilustrasi.

KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Legenda tentang kisah cinta tragis Putri Kusuma dan Ilamuddin masih hidup dan dipercaya oleh masyarakat Samarinda Seberang hingga kini. Cerita yang diwariskan secara turun-temurun itu diyakini menjadi asal-usul kawasan Teluk Cinta atau PT Teluk Bajau yang berada di Jalan Ampera RT 16, Kelurahan Mangkupalas, Kecamatan Samarinda Seberang, Kota Samarinda. Kisah tersebut kembali diceritakan oleh Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Samarinda Seberang, Rusdiansyah Rays, kepada awak media, Minggu (2/8/2026).

Rusdiansyah menjelaskan, berdasarkan cerita lisan yang berkembang di tengah masyarakat, peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada penghujung abad ke-19, sekitar tahun 1899 hingga 1901. Tokoh utama dalam legenda itu adalah Putri Kusuma, putri seorang penghulu sekaligus penjaga wilayah Kampung Mangkujenang, yang jatuh cinta kepada Ilamuddin, seorang nelayan muda asal Kampung Teluk Bajau, Mangkupalas.

Namun, hubungan keduanya tidak mendapat restu keluarga. Putri Kusuma telah dijodohkan dengan seorang bangsawan Bugis-Kutai demi menjaga kehormatan keluarga dan adat yang berlaku saat itu. Penolakan tersebut berujung pada tragedi ketika Ilamuddin dibunuh. Hingga kini, menurut cerita masyarakat, makam Ilamuddin tidak pernah diketahui keberadaannya.

“Ini adalah kisah yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat. Cerita ini menjadi bagian dari sejarah tutur yang masih dikenang hingga sekarang,” ujar Rusdiansyah.

Ia menuturkan, Putri Kusuma yang terus menanti kepulangan kekasihnya akhirnya jatuh sakit karena menahan rindu. Setelah mengetahui Ilamuddin telah meninggal dunia, Putri Kusuma bangkit dengan sisa tenaganya dan berjalan menuju tempat yang selama ini menjadi lokasi pertemuan mereka, yang kini dikenal sebagai Teluk Cinta.

Sebelum mengakhiri hidupnya dengan menceburkan diri ke Sungai Mahakam, Putri Kusuma disebut mengucapkan kalimat yang selalu diingatnya dari Ilamuddin.

“Kucintaki’, kusayangki’, kurinduki’,” ucap Rusdiansyah mengisahkan kembali legenda tersebut.

Menurut cerita yang diwariskan masyarakat, kalimat itu menjadi ucapan terakhir Putri Kusuma sebelum tubuhnya tenggelam di aliran Sungai Mahakam. Beberapa waktu kemudian, jasadnya ditemukan hanyut di kawasan Sungai Kapih. Sejak saat itu, kisah Putri Kusuma dan Ilamuddin terus dikenang sebagai simbol cinta sejati yang kandas akibat perbedaan status sosial, adat istiadat, dan keputusan keluarga.

Rusdiansyah berharap legenda tersebut tidak hanya menjadi cerita rakyat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya pelestarian sejarah lisan dan budaya lokal Samarinda Seberang. Menurutnya, kisah itu memiliki nilai sejarah, budaya, dan edukasi yang penting untuk dikenalkan kepada generasi muda, sekaligus mendorong penelitian lebih lanjut guna menelusuri fakta-fakta sejarah yang melatarbelakangi lahirnya legenda Teluk Cinta.

“Warisan budaya seperti ini harus terus dijaga agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya.

 

Pewarta : Yana Ashari
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 49 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Resmikan SAE PASTARUNG, Bupati Kukar Dorong Pemberdayaan dan Kemandirian Warga Binaan

27 Oktober 2026 - 18:30 WITA

p13

Rodi Arianto Harap UMKM Kembali Beraktivitas di Teras Samarinda, RDP Berlanjut Besok

27 Oktober 2026 - 18:00 WITA

p12 2

Bapemperda DPRD Samarinda Bahas Raperda APBD 2027, Anggaran Awal Rp3,46 Triliun

27 Oktober 2026 - 17:30 WITA

p11 2

Perumda Varia Niaga Buka Peluang UMKM Kembali Berjualan di Teras Samarinda

27 Oktober 2026 - 17:00 WITA

p10

DPRD Samarinda Bahas Penghentian UMKM di Teras Samarinda, Pihak Terkait Dipanggil

27 Oktober 2026 - 16:30 WITA

p9

IWAPI Samarinda Siap Jadi Mitra Strategis DPRD, Perjuangkan Aspirasi Pengusaha Perempuan

27 Oktober 2026 - 16:00 WITA

p8
Trending di BERITA DAERAH