KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – JOS Fitness Open Bodycontest 2026 berlangsung meriah di lantai 3 Mall Samarinda Square, tepat di depan XXI, Samarinda, Minggu (23/8/2026). Kompetisi yang mendapat dukungan dari PBFI Kota Samarinda tersebut menjadi wadah bagi para penggiat fitness dan binaraga untuk menunjukkan hasil latihan sekaligus mengukur perkembangan fisik dan mental bertanding.
Kompetisi yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tersebut mempertandingkan tiga kategori, yakni Junior Men’s Fitness, Men’s Fitness, dan Men’s Sport Physique. Setiap kategori memiliki ketentuan atribut penampilan yang disesuaikan dengan karakter pertandingan.
Untuk kategori Junior Men’s Fitness, peserta menggunakan celana jeans dan baby oil. Sementara kategori Men’s Fitness dan Men’s Sport Physique menggunakan celana pantai serta body color untuk menunjang penampilan fisik di atas panggung.
Namun, menjadi pemenang dalam kompetisi body contest tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya massa otot. Dewan juri memiliki sejumlah aspek penilaian yang harus dipenuhi peserta, mulai dari simetri, proporsi, kondisi otot, hingga kemampuan melakukan pose dan presentasi di atas panggung.
Perwakilan dewan juri dari Samarinda, Thomas Alva Edison, menjelaskan bahwa setiap aspek memiliki bobot penting dalam menentukan kualitas penampilan seorang atlet.
“Yang dinilai bukan hanya besar otot, tetapi juga simetri dan proporsi,” jelas Thomas saat memberikan keterangan kepada awak media KumalaNews.id.
Simetri dan Proporsi Jadi Penilaian Utama
Menurut Thomas, simetri menjadi salah satu aspek dasar yang diperhatikan juri. Tubuh peserta harus terlihat seimbang antara sisi kiri dan kanan maupun bagian atas dan bawah.
“Simetris itu dilihat dari keseimbangan kiri dan kanan,” ujarnya.
Selain simetri, juri juga melihat proporsionalitas tubuh. Setiap kelompok otot diharapkan memiliki ukuran yang seimbang sehingga keseluruhan bentuk tubuh terlihat harmonis dan tidak menimbulkan kesan janggal.
“Proporsi harus terlihat seimbang dan tidak ada bagian yang janggal,” katanya.
Aspek berikutnya adalah conditioning atau kondisi fisik peserta ketika berada di atas panggung. Thomas menjelaskan, conditioning berkaitan dengan tingkat lemak tubuh serta tingkat definisi otot yang mampu ditampilkan.
“Ototnya harus terlihat jelas dan kondisinya bagus,” ujarnya.
Meski demikian, Thomas menegaskan bahwa kondisi fisik yang baik belum cukup untuk menjamin seorang peserta meraih kemenangan. Atlet juga harus mampu menampilkan keunggulan fisiknya melalui teknik presentasi dan pose yang tepat.
Kemampuan Pose Bisa Menentukan Hasil
Thomas mengatakan kemampuan melakukan pose menjadi bagian penting dalam kompetisi body contest. Atlet harus mampu mengatur posisi tubuh agar perkembangan otot yang telah dibentuk melalui latihan dapat terlihat maksimal di hadapan juri.
“Kalau tidak bisa menampilkan otot dengan baik, tiga aspek tadi bisa sia-sia,” tegasnya.
Sejumlah pose yang perlu dikuasai peserta antara lain front body pose, side body pose, back body pose, dan abdominal pose. Setiap pose memiliki fungsi untuk memperlihatkan bagian tubuh tertentu secara optimal.
Selain itu, terdapat muscular pose yang menjadi salah satu pose penting untuk menunjukkan keseluruhan perkembangan otot peserta.
Menurut Thomas, kemampuan presentasi yang baik akan membantu juri melihat secara lebih jelas kualitas fisik setiap atlet.
“Pose yang tepat membuat kualitas fisik lebih terlihat,” katanya.
Karena itu, persiapan peserta tidak hanya mencakup latihan untuk membentuk massa otot. Penguasaan teknik pose, kemampuan mengontrol tubuh, serta kepercayaan diri saat berada di atas panggung juga menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kompetisi.
Penilaian Juri Harus Independen
Dalam proses penjurian, Thomas menekankan pentingnya independensi dan objektivitas. Setiap juri melakukan penilaian secara mandiri tanpa mengetahui atau memengaruhi penilaian juri lainnya.
“Setiap juri menilai secara mandiri dan tidak saling memengaruhi,” jelasnya.
Penilaian dari masing-masing juri kemudian dihitung untuk menentukan peserta yang memperoleh hasil terbaik berdasarkan standar yang telah ditetapkan.
Menurut Thomas, pengalaman juri juga berperan dalam melihat detail keunggulan maupun kekurangan setiap peserta. Seorang atlet dapat memiliki keunggulan pada bagian lower body, sedangkan peserta lain lebih menonjol pada bagian back atau punggung.
“Semua keunggulan itu kita padukan dalam penilaian,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa objektivitas menjadi prinsip penting dalam menentukan hasil pertandingan. Terlebih, semakin tinggi level kompetisi, standar penilaian yang digunakan juga akan semakin ketat.
“Objektivitas itu sangat penting dalam penilaian,” tegas Thomas.
Libatkan Juri dari Tiga Daerah
Dalam JOS Fitness Open Bodycontest 2026, dewan juri melibatkan perwakilan dari sejumlah daerah di Kalimantan Timur. Thomas Alva Edison bertindak sebagai perwakilan juri dari Samarinda, Dany Juliansa dari Tenggarong, serta Alex Semarna dari Balikpapan.
Ketiga juri tersebut melakukan penilaian berdasarkan aspek yang telah ditetapkan, meliputi simetri, massa otot, definisi, proporsi, conditioning, serta kemampuan peserta melakukan pose dan presentasi di atas panggung.
Dengan sistem penilaian tersebut, hasil kompetisi diharapkan dapat ditentukan secara objektif berdasarkan kualitas penampilan masing-masing peserta.
JOS Fitness Open Bodycontest 2026 sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengusung semangat “Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur.”
Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut diharapkan dapat mendorong perkembangan olahraga fitness dan binaraga di Kalimantan Timur, sekaligus membuka ruang bagi atlet potensial untuk meningkatkan kemampuan dan berkompetisi pada level yang lebih tinggi.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















