KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Jembatan yang menghubungkan Dusun Suka Karya dan Dusun Berambai, Desa Bukit Pariaman, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), ditargetkan dibangun secara permanen pada 2027.
Rencana tersebut menjadi salah satu hasil Rapat Koordinasi Penanganan Jembatan Patah di wilayah RT 12, RT 4, dan RT 1 Desa Bukit Pariaman yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, Senin (28/9/2026).
Rapat koordinasi digelar sebagai tindak lanjut kunjungan lapangan yang dilakukan beberapa hari sebelumnya untuk melihat secara langsung kondisi jembatan yang mengalami kerusakan. Kondisi tersebut sebelumnya juga menjadi perhatian masyarakat setelah ramai diperbincangkan di media sosial.
Kepala Desa Bukit Pariaman, Sugeng Riyadi, mengatakan hasil pembahasan bersama pemerintah daerah, pemerintah desa, dan perwakilan masyarakat menyepakati bahwa pembangunan jembatan permanen tetap menjadi solusi utama.
“Pertemuan hari ini membahas tindak lanjut hasil kunjungan lapangan terkait kondisi jembatan yang patah,” ujar Sugeng.
Menurutnya, pembangunan permanen diperkirakan baru dapat direalisasikan pada 2027. Pertimbangan tersebut berkaitan dengan waktu pelaksanaan yang tersisa pada 2026 serta kebutuhan anggaran pembangunan yang cukup besar.
Sugeng menyebut rencana pembangunan jembatan permanen telah dimasukkan dalam perencanaan. Dalam rapat tersebut, pemerintah desa juga melibatkan ketua RT, kepala dusun, tokoh masyarakat, serta pihak terkait lainnya untuk membahas kebutuhan penanganan jembatan.
Keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat strategis bagi masyarakat karena menjadi akses utama yang menghubungkan Dusun Suka Karya dengan Dusun Berambai. Selain sebagai jalur mobilitas warga, jembatan juga menjadi akses menuju kawasan pertanian di Dusun Suka Karya.
“Jembatan ini menjadi akses utama menuju sekitar 100 hektare lahan pertanian. Karena itu, pembangunan permanen menjadi prioritas yang terus kami dorong,” jelasnya.
Siapkan Jembatan Alternatif
Sambil menunggu pembangunan permanen, Pemerintah Desa Bukit Pariaman bersama masyarakat menyiapkan akses alternatif melalui wilayah RT 4. Jembatan sementara tersebut direncanakan menggunakan material kayu dengan konstruksi yang lebih kokoh dibandingkan jembatan sebelumnya.
Akses alternatif itu diharapkan dapat membantu mobilitas masyarakat, khususnya untuk aktivitas sehari-hari dan menuju kawasan pertanian, selama jembatan utama belum dapat dibangun secara permanen.
“Untuk sementara, akses masyarakat akan dialihkan melalui RT 4 dengan jembatan kayu yang konstruksinya diperkuat,” katanya.
Namun, pengerjaan jembatan alternatif belum dimulai karena pemerintah desa masih menghitung kebutuhan anggaran dan material. Dalam prosesnya, pemerintah desa berencana melibatkan konsultan untuk memastikan kebutuhan teknis pembangunan dapat dihitung secara tepat.
Selain mengandalkan kemampuan pemerintah desa dan masyarakat, upaya penanganan sementara juga akan melibatkan sejumlah perusahaan yang hadir dalam rapat koordinasi. Dukungan tersebut diharapkan dapat diberikan melalui skema swadaya, terutama dalam penyediaan material dan kebutuhan pembangunan.
“Ada sekitar tiga perusahaan yang hadir. Kami akan mengupayakan dukungan swadaya, terutama untuk material,” ungkap Sugeng.
Kerusakan Jembatan Berlangsung Bertahap
Sugeng menjelaskan, penanganan sementara terhadap jembatan utama sebelumnya telah dilakukan secara swadaya dengan melibatkan masyarakat dan pemerintah desa. Pemerintah desa turut membantu menyediakan sejumlah material, termasuk kayu untuk memperbaiki bagian konstruksi yang mengalami kerusakan.
Menurutnya, kondisi jembatan sebenarnya telah mengalami kerusakan sejak beberapa waktu lalu dan semakin parah beberapa bulan terakhir, terutama saat Ramadan. Masyarakat, tokoh masyarakat, dan ketua RT kemudian menyampaikan keluhan karena kondisi jembatan mulai membahayakan pengguna.
Pada saat itu, jembatan belum sepenuhnya patah, tetapi kondisinya sudah tidak layak dilintasi kendaraan roda empat, terutama kendaraan dengan muatan berat. Pemerintah desa kemudian melakukan perbaikan sementara dengan mengganti sejumlah bagian kayu yang rusak menggunakan material yang dinilai lebih kuat.
Sugeng menyebut kerusakan jembatan dipengaruhi beberapa faktor, mulai dari usia konstruksi, beban kendaraan, hingga kondisi alam. Jembatan tersebut diperkirakan telah berusia sekitar 30 tahun sehingga sebagian konstruksinya mengalami penurunan kondisi.
“Usianya diperkirakan sekitar 30 tahun dan cukup sering dilintasi kendaraan bermuatan,” jelasnya.
Selain faktor usia dan beban kendaraan, curah hujan tinggi juga turut memengaruhi kondisi jembatan. Debit serta arus sungai yang meningkat menyebabkan erosi dan longsor di bagian tepi sungai, yang kemudian berdampak terhadap tiang penyangga jembatan.
Kombinasi berbagai faktor tersebut secara bertahap memperparah kondisi konstruksi hingga jembatan tidak lagi dapat digunakan secara optimal.
Dorong Dukungan Pemkab dan Perusahaan
Sugeng mengatakan kebutuhan anggaran pembangunan jembatan permanen cukup besar sehingga tidak dapat sepenuhnya mengandalkan kemampuan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes). Karena itu, Pemerintah Desa Bukit Pariaman terus berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara dan anggota DPRD untuk mendorong penanganan jembatan tersebut.
Menurutnya, dukungan lintas pihak diperlukan agar pembangunan dapat direalisasikan sesuai kebutuhan masyarakat dan kondisi lapangan.
Pemerintah Desa Bukit Pariaman juga menegaskan komitmennya untuk terus memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, termasuk menerima masukan serta merespons berbagai persoalan yang berkaitan dengan kebutuhan infrastruktur desa.
“Kami akan terus berkoordinasi dan berupaya memberikan penanganan terbaik sesuai kemampuan serta kebutuhan masyarakat,” pungkas Sugeng.
Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2026

















