KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Sejumlah warga dan pemilik toko di kawasan Pasar Pagi Samarinda menyampaikan keberatan terhadap pembangunan fasilitas di depan pertokoan mereka. Pembangunan tersebut dinilai belum disosialisasikan secara memadai dan dikhawatirkan mengganggu aktivitas perdagangan, membatasi akses kendaraan, hingga memperburuk risiko banjir di kawasan tersebut.
Perwakilan warga Pasar Pagi, Ronal, menyampaikan keberatan itu kepada awak media, Jumat (23/10/2026). Ia mengatakan, sejak awal pengerjaan, warga tidak memperoleh penjelasan secara menyeluruh mengenai tujuan, bentuk, maupun perencanaan fasilitas yang dibangun di depan toko mereka.
Menurut Ronal, warga semula mengira permukaan jalan yang diratakan akan diaspal. Namun, dalam pelaksanaannya, jalan justru dipasangi batu alam dan mengalami peninggian. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran karena berpotensi memengaruhi aliran air dan memperparah genangan ketika banjir melanda kawasan Pasar Pagi.
“Sejak awal kami bertanya-tanya apa yang dibangun. Tidak ada penjelasan yang jelas. Kami kira jalan akan diaspal, ternyata menggunakan batu alam,” ujar Ronal.
Ia mengungkapkan, warga telah beberapa kali menyampaikan keberatan, terutama terkait peninggian permukaan jalan dan rencana pemasangan fasilitas tambahan di depan toko. Mereka khawatir perubahan kondisi jalan tersebut justru menimbulkan persoalan baru bagi pemilik toko dan masyarakat yang beraktivitas di kawasan pasar.
Selain potensi banjir, Ronal menyoroti akses kendaraan yang dikhawatirkan semakin terbatas apabila sejumlah bagian kawasan ditutup atau diberi pembatas. Menurutnya, kondisi itu dapat menyulitkan kendaraan darurat, khususnya mobil pemadam kebakaran, untuk menjangkau bagian belakang pertokoan apabila terjadi kebakaran.
“Kalau terjadi kebakaran, kendaraan sulit masuk ke belakang. Akses bongkar muat barang juga bisa terhambat,” tegasnya.
Khawatir Aktivitas Perdagangan Terganggu
Ronal menyebutkan, terdapat sekitar delapan toko yang terdampak langsung oleh pembangunan di lokasi tersebut. Meski jumlahnya terbatas, ia menilai dampak yang ditimbulkan dapat berpengaruh besar terhadap keberlangsungan usaha para pedagang yang telah lama menjalankan aktivitas perdagangan di Pasar Pagi.
Ia menjelaskan, sebagian pedagang telah menjalankan usaha secara turun-temurun, mulai dari generasi kakek dan orang tua hingga anak-anak mereka. Usaha tersebut tidak hanya menjadi sumber penghasilan pemilik toko, tetapi juga menghidupi para pekerja dan keluarga yang bergantung pada aktivitas perdagangan tersebut.
Menurutnya, para pedagang juga memiliki keterikatan dengan kawasan itu dan menjalankan usaha dengan memenuhi kewajiban yang berlaku, termasuk perizinan dan pembayaran pajak.
“Usaha ini menghidupi banyak orang dan sudah berjalan turun-temurun. Kami berharap kepentingan pedagang juga diperhatikan,” ungkapnya.
Ronal turut mengungkapkan kekecewaannya karena warga merasa tidak pernah dilibatkan dalam rapat atau pertemuan untuk membahas rencana pembangunan. Ia juga mengaku belum pernah diperlihatkan denah yang dapat memberikan gambaran jelas mengenai bentuk akhir fasilitas yang akan dibangun.
Baginya, penjelasan bahwa pekerjaan dilakukan atas perintah atasan belum cukup untuk menjawab keresahan masyarakat. Ia berharap pemerintah dan pihak pelaksana dapat menyampaikan informasi secara terbuka serta memberikan kesempatan kepada warga untuk menyampaikan masukan sebelum pekerjaan dilanjutkan.
Ia juga menyoroti waktu pengerjaan yang terkadang berlangsung ketika toko masih tutup, bahkan pada malam hari. Kondisi tersebut dinilai menyulitkan warga untuk menyampaikan keberatan secara langsung. Kehadiran sejumlah anggota Satpol PP saat pekerjaan berlangsung turut membuat sebagian warga merasa tidak nyaman.
Debu dan Pasir Ganggu Pengunjung Pasar
Selain persoalan akses dan risiko banjir, Ronal mengatakan aktivitas pembangunan juga menimbulkan debu dan pasir yang mengganggu kenyamanan warga, pedagang, serta pengunjung pasar.
Ia khawatir kondisi di sekitar pertokoan yang terlihat seperti area proyek membuat calon pembeli mengira kawasan tersebut sedang ditutup. Akibatnya, pengunjung berpotensi enggan datang dan aktivitas jual beli pedagang ikut terdampak.
“Debu dan pasir sangat mengganggu. Ada pembeli yang mengira kawasan ini ditutup. Kami khawatir aktivitas usaha pedagang ikut terganggu,” katanya.
Ronal menilai, penataan kawasan Pasar Pagi seharusnya dilakukan secara menyeluruh dan proporsional dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Pemerintah, menurutnya, perlu memperhatikan kondisi pertokoan, akses jalan, hingga kawasan tepian sungai agar pembangunan benar-benar memberikan manfaat bagi warga.
Ia juga berharap pelaksanaan pembangunan mempertimbangkan kondisi keuangan daerah dan prinsip efisiensi anggaran. Dengan demikian, fasilitas yang dibangun tidak hanya memperindah kawasan, tetapi juga menjawab kebutuhan masyarakat serta tidak menimbulkan persoalan baru.
Warga Minta Fasilitas Dievaluasi
Atas berbagai persoalan tersebut, Ronal menyampaikan sejumlah permintaan dari warga dan pemilik toko. Pertama, warga meminta fasilitas yang telah dipasang dan dinilai mengganggu akses di depan pertokoan untuk dicabut agar jalan dapat kembali digunakan sebagaimana mestinya.
Kedua, akses turun di depan toko diminta diperbaiki agar lebih aman dan mudah dilalui, termasuk oleh warga lanjut usia. Ketiga, permukaan jalan di depan pertokoan diharapkan diratakan sehingga kendaraan dapat masuk dan kegiatan bongkar muat barang berlangsung lancar.
Warga juga meminta agar akses kendaraan darurat tetap tersedia dan penataan kawasan tidak memperburuk risiko banjir maupun membatasi mobilitas masyarakat.
“Kami minta fasilitas yang mengganggu dicabut dan jalan dikembalikan seperti biasa. Akses diperbaiki agar kendaraan bisa masuk dan usaha tetap berjalan,” tutup Ronal.
Melalui penyampaian aspirasi tersebut, warga berharap Pemerintah Kota Samarinda dan pihak pelaksana pembangunan segera membuka ruang dialog dengan para pedagang serta mengevaluasi pekerjaan yang telah dilakukan. Mereka menginginkan penataan Pasar Pagi tetap berjalan dengan memperhatikan keselamatan, kelancaran akses, kenyamanan pengunjung, dan keberlangsungan usaha masyarakat yang telah lama menggantungkan hidup di kawasan tersebut.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















