KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Partisipasi siswa SMK Negeri 2 Tenggarong pada Festival Museum Kayu Tuah Himbah 2025 menjadi salah satu daya tarik utama kegiatan tersebut. Para pelajar membatik langsung di lokasi acara, menghadirkan suasana edukatif sekaligus memperlihatkan potensi seni generasi muda di Kutai Kartanegara. Keikutsertaan mereka juga menjadi kelanjutan dari agenda Pekan Kebudayaan sebelumnya yang digelar beberapa bulan lalu.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, menjelaskan bahwa kehadiran siswa SMK di kegiatan festival merupakan bagian dari upaya memperkuat ekosistem pendidikan seni budaya. Menurutnya, para siswa telah melalui proses pembelajaran seni dan keterampilan di sekolah sehingga sangat tepat jika mereka dilibatkan dalam kegiatan berskala publik seperti festival museum.
Puji menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan batasan khusus terhadap motif batik yang dikerjakan oleh siswa. Seluruh proses kreatif diserahkan kepada para pelajar, mulai dari pemilihan motif hingga hasil akhir karya yang mereka tampilkan. Hal ini bertujuan untuk mendorong kebebasan berekspresi sekaligus memberi ruang bagi ide-ide baru yang berkembang dari pembelajaran di sekolah.
“Kami tidak membatasi motif batik mereka, apakah harus corak Kutai atau yang lain. Semua kembali pada kreativitas mereka sebagai bagian dari proses pendidikan seni yang mereka jalani. Apa yang mereka pelajari di sekolah dapat langsung mereka terapkan di sini,” ujar Puji, Kamis (27/11/2025)
Ia menambahkan bahwa karya batik siswa bukan ditujukan untuk tujuan komersial. Melainkan sebagai hasil proses belajar yang menekankan pemahaman seni, teknik, dan ekpresi kreatif. Menurutnya, penting bagi siswa untuk merasakan pengalaman nyata dalam menampilkan karya di ruang publik agar mereka semakin percaya diri dalam berkarya.
Kegiatan seperti Festival Museum Kayu Tuah Himbah, lanjutnya, menjadi wadah bagi sekolah-sekolah untuk mengembangkan potensi seni budaya melalui partisipasi langsung. Dengan demikian, event budaya tidak hanya menjadi tontonan masyarakat, tetapi juga ruang belajar bagi pelajar yang ingin mendalami keterampilan seni tradisi.
Puji menilai bahwa keterlibatan siswa SMK Negeri 2 Tenggarong menunjukkan bahwa sekolah vokasi memiliki kontribusi besar dalam pelestarian budaya daerah. Pembelajaran keterampilan seperti membatik dapat terus berkembang ketika diberikan ruang praktik yang nyata, sesuai dengan karakter pendidikan vokasi.
“Anak-anak ini sudah berproses dalam pembelajaran seni di sekolah. Ketika diberi ruang seperti ini, mereka bisa menunjukkan kemampuan dan sekaligus belajar berinteraksi dengan masyarakat melalui karya seni mereka,” ujarnya.
Ia berharap kegiatan-kegiatan serupa terus digelar agar generasi muda semakin dekat dengan kebudayaan daerah. Menurutnya, mengenalkan seni kepada pelajar sejak dini merupakan salah satu cara menjaga keberlanjutan budaya di tengah perkembangan zaman.
Dengan partisipasi aktif siswa SMK Negeri 2 Tenggarong dalam kegiatan festival, Disdikbud Kukar optimistis bahwa seni batik di daerah akan terus berkembang melalui inovasi dan kreativitas generasi muda.
ADV Disdikbud Kukar Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2025

















