KUMALANEWS.iD, SAMARINDA – Peraih penghargaan Kalpataru tingkat nasional 2023 asal Samarinda, Kalimantan Timur, Misman, mengapresiasi Gerakan Langit Biru Indonesia Asri yang digelar Partai Demokrat di Kota Samarinda. Ia menilai aksi kepedulian terhadap kebersihan sungai harus menjadi gerakan bersama dan tidak hanya dilakukan oleh kelompok atau partai politik tertentu.
Hal tersebut disampaikan Misman kepada awak media usai mengikuti kegiatan kepedulian lingkungan di kawasan Sungai Karang Mumus, Samarinda, Jumat (28/8/2026). Menurutnya, kegiatan memungut dan membersihkan sampah di kawasan sungai merupakan langkah positif untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga ekosistem dan kualitas lingkungan.
“Sebagai pegiat lingkungan, saya sangat mendukung kegiatan seperti ini. Saya berharap partai lain juga ikut bergerak,” ujar Misman.
Misman menegaskan, sungai tidak boleh dijadikan tempat pembuangan sampah, sekecil apa pun. Sampah yang masuk ke sungai tidak hanya mengganggu kebersihan, tetapi juga berpotensi merusak ekosistem dan menurunkan kualitas air.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga keberadaan sungai di Kalimantan, termasuk di Kota Samarinda. Menurutnya, sungai memiliki peran strategis karena sebagian besar sumber air baku di wilayah Kalimantan berasal dari air permukaan.
“Di Kalimantan, sungai menjadi sumber kehidupan. Karena itu, kita tidak bisa tawar-menawar dalam merawatnya,” jelasnya.
Menurut Misman, apabila Sungai Karang Mumus ke depan ingin benar-benar dimanfaatkan sebagai sumber air yang bersih dan sehat, diperlukan komitmen serius dari pemerintah dan masyarakat. Penanganan pencemaran, kata dia, tidak cukup hanya melalui aksi bersih-bersih, tetapi harus dibarengi dengan pembenahan sistem pengelolaan limbah.
Salah satu langkah penting yang didorongnya adalah pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Seluruh saluran pembuangan, seperti parit, got, dan drainase yang bermuara ke sungai, idealnya dilengkapi sistem pengolahan limbah sebelum air dialirkan ke badan sungai.
“Kalau sungai ingin menjadi sumber air bersih, semua saluran yang bermuara ke sungai perlu dilengkapi IPAL,” tegasnya.
Ia mengakui pembangunan sistem pengolahan limbah membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, investasi tersebut dinilai penting sebagai upaya jangka panjang untuk menjaga lingkungan sekaligus menjamin ketersediaan sumber air bagi generasi mendatang.
“Biayanya memang besar, tetapi ini investasi untuk anak cucu kita,” katanya.
Lebih lanjut, Misman mengingatkan bahwa pencemaran sungai tidak hanya berasal dari sampah yang terlihat secara kasatmata. Limbah rumah tangga dan berbagai bahan kimia juga dapat terbawa melalui saluran drainase dan masuk ke sungai.
Beberapa di antaranya seperti deterjen, sabun, oli, minyak tanah, serta berbagai bahan kimia lainnya. Limbah tersebut dapat mengalir dari parit, got, dan drainase menuju sungai hingga akhirnya bermuara ke laut.
“Pencemaran bukan hanya sampah yang terlihat, tetapi juga limbah kimia seperti deterjen, sabun dan oli,” ungkapnya.
Karena itu, ia menilai upaya menjaga sungai harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari mengurangi pembuangan sampah, mengendalikan limbah rumah tangga, hingga membangun sistem pengolahan limbah yang memadai.
Misman berharap Gerakan Langit Biru Indonesia Asri yang dilakukan Partai Demokrat dapat terus dilanjutkan dan menjadi contoh bagi kelompok maupun organisasi lainnya. Ia juga mendorong agar aksi peduli lingkungan dilakukan secara rutin, sehingga kesadaran menjaga sungai tumbuh menjadi kebiasaan masyarakat.
“Gerakan seperti ini sangat baik dan harus terus dilanjutkan,” pungkasnya.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















