KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi II DPRD Kota Samarinda bersama organisasi perangkat daerah (OPD) dan perwakilan pedagang Pasar Pagi menghasilkan sedikitnya 14 persoalan yang akan ditindaklanjuti secara bertahap. Pembahasan diarahkan pada pencarian solusi konkret agar aktivitas perdagangan di Pasar Pagi kembali bergeliat.
RDP yang membahas kondisi dan berbagai persoalan Pasar Pagi tersebut digelar di Ruang Rapat Utama Lantai II DPRD Kota Samarinda, Selasa (1/9/2026). Pertemuan dipimpin Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, didampingi Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Rusdi, serta jajaran anggota Komisi II.
Rapat tersebut turut dihadiri Sekretaris Komisi II Rusdi Doviyanto (Dovy), Sani Bin Husain, Viktor Yuan, Joko Wiratno dan Joha Fazal. Dari unsur pemerintah hadir Kepala Inspektorat Daerah Kota Samarinda, Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda Nurrahmani (Yama), Kepala Dinas Perhubungan Kota Samarinda Hotmarulitua Manalu, serta Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda.
Sementara dari unsur pedagang, hadir Forum Pedagang Pasar Pagi (FPJ) dan perwakilan pedagang dari lantai 1 hingga lantai 7. Keterlibatan perwakilan dari setiap lantai dinilai penting agar persoalan yang dibahas dapat menggambarkan kondisi Pasar Pagi secara menyeluruh.
Ketua Komisi II DPRD Kota Samarinda, Iswandi, mengatakan RDP menjadi momentum untuk mempertemukan langsung pedagang dengan OPD terkait. Dengan demikian, berbagai keluhan yang selama ini disampaikan dapat dibahas bersama dan dicarikan jalan keluar.
“Semua pihak terkait sudah hadir dan persoalan pedagang sudah terwakili,” ujar Iswandi usai RDP.
Menurutnya, dalam RDP tercatat sedikitnya 14 persoalan yang disampaikan secara tertulis. Selain itu, terdapat sejumlah persoalan lain yang disampaikan langsung oleh pedagang selama pembahasan berlangsung.
“Sudah ada 14 persoalan tertulis, ditambah beberapa yang disampaikan langsung,” katanya.
Iswandi menegaskan, persoalan yang bersifat teknis tidak akan berhenti pada RDP. Komisi II akan kembali mengundang OPD terkait dalam waktu sekitar dua hingga tiga minggu untuk menelaah setiap persoalan secara lebih rinci, sekaligus menentukan langkah penanganannya.
Salah satu pembahasan yang akan ditindaklanjuti berkaitan dengan fasilitas pendukung Pasar Pagi. Di antaranya usulan pembangunan eskalator berjalan di area luar gedung, penambahan tangga, serta sejumlah fasilitas lain yang dinilai dapat meningkatkan kemudahan dan kenyamanan masyarakat saat mengakses pasar.
“Dalam dua sampai tiga minggu, kami akan kumpulkan lagi dinas terkait untuk menelaahnya,” jelas Iswandi.
Selain persoalan fisik dan teknis, Iswandi menilai komunikasi antara pemerintah dan pedagang juga menjadi bagian penting dalam penyelesaian persoalan Pasar Pagi. Ia menyebut suasana RDP kali ini berlangsung lebih terbuka dan mencair dibandingkan pertemuan sebelumnya.
Menurutnya, komunikasi yang lebih intensif dapat mencegah kesalahpahaman sekaligus mempercepat penyelesaian persoalan di lapangan.
“Yang terpenting, suasana sudah mencair. Selama ini persoalannya banyak di komunikasi,” ungkapnya.
Untuk menjaga komunikasi tersebut, Iswandi mendorong adanya pertemuan rutin antara pemerintah dan perwakilan pedagang. Salah satu usulan yang disampaikan yakni pertemuan informal setiap dua minggu untuk membahas perkembangan dan kendala yang muncul.
“Kita jadwalkan dua minggu sekali untuk berdiskusi bersama,” ujarnya.
Ia menyadari penyelesaian seluruh persoalan Pasar Pagi tidak dapat dilakukan hanya melalui satu kali pertemuan. Menurutnya, diperlukan proses komunikasi, evaluasi, dan koordinasi secara berkelanjutan agar setiap masalah dapat diselesaikan satu per satu.
“Tidak mungkin selesai sekali atau dua kali. Bisa empat sampai lima kali,” katanya.
DPRD Dorong Pasar Pagi Kembali Bergairah
Iswandi menegaskan, pembahasan Pasar Pagi ke depan harus mulai diarahkan pada masa depan kawasan perdagangan tersebut. Ia meminta seluruh pihak tidak terus berkutat pada persoalan masa lalu, tetapi bersama-sama mencari langkah yang dapat meningkatkan aktivitas perdagangan.
Menurutnya, keberhasilan penataan Pasar Pagi bukan hanya ditandai dengan terselesaikannya persoalan teknis, tetapi juga meningkatnya jumlah pengunjung dan aktivitas ekonomi pedagang.
“Kita jangan terus bicara ke belakang. Kita harus bicara ke depan,” tegasnya.
Ia berharap sinergi antara DPRD, Pemkot Samarinda, OPD terkait, pengelola, dan para pedagang dapat menghasilkan solusi yang konkret dan berkelanjutan. Dengan komunikasi yang lebih baik serta tindak lanjut yang terukur, Pasar Pagi diharapkan kembali menjadi pusat perdagangan yang ramai dan mampu menggerakkan perekonomian masyarakat.
“Bagaimana Pasar Pagi kembali ramai, ekonomi bergerak, pedagang senyum, dan pembeli juga ramai,” pungkas Iswandi.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















