KUMALANEWS.ID, BALIKPAPAN – Ketergantungan Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, terhadap pasokan pangan dari luar daerah masih tergolong tinggi. Sekitar 85–90 persen kebutuhan pangan segar masyarakat harus dipenuhi dari daerah lain, seperti Sulawesi, Jawa, dan sejumlah wilayah di Kalimantan. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan dalam menjaga ketersediaan bahan pokok, mengendalikan harga, serta mempertahankan daya beli masyarakat.
Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Balikpapan, Agus Budi Prasetyo, mengatakan tingginya ketergantungan tersebut dipengaruhi karakteristik Balikpapan yang bukan merupakan daerah agraris serta terbatasnya lahan pertanian produktif. Hal itu disampaikannya saat kegiatan Gerakan Pangan Murah (GPM) Serentak Nasional dalam rangka Hari Pangan Sedunia 2026 di halaman parkir Balai Kota Balikpapan, Rabu (21/10/2026).
“Sekitar 85 hingga 90 persen kebutuhan pangan segar kita masih bergantung pada pasokan dari luar daerah,” ujar Agus.
Menurutnya, ketergantungan terhadap pasokan luar daerah membuat kelancaran distribusi logistik menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga pangan. Rantai distribusi yang panjang berpotensi meningkatkan biaya pengiriman dan memicu ketidakpastian harga, sehingga berdampak langsung terhadap kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tantangan tersebut semakin besar seiring pertumbuhan penduduk dan meningkatnya aktivitas ekonomi Balikpapan sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN). Pertambahan jumlah penduduk turut meningkatkan kebutuhan konsumsi pangan, sementara kemampuan produksi lokal masih terbatas.
Agus menyebutkan, luas lahan pertanian produktif di Balikpapan hanya berkisar 15 persen dari total wilayah kota. Kondisi ini menyebabkan pemenuhan kebutuhan pangan belum dapat sepenuhnya mengandalkan hasil produksi dalam daerah.
“Rantai distribusi yang panjang rentan memicu ketidakpastian harga dan memengaruhi daya beli masyarakat,” jelasnya.
GPM Jadi Upaya Menekan Harga Pangan
Untuk membantu masyarakat menghadapi fluktuasi harga bahan pokok, Pemkot Balikpapan mengandalkan Gerakan Pangan Murah sebagai salah satu bentuk intervensi pasar. Melalui program tersebut, masyarakat dapat membeli berbagai kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.
Kegiatan GPM Serentak Nasional di Balikpapan dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 21 hingga 23 Oktober 2026. Pemerintah berharap kegiatan ini dapat dimanfaatkan secara luas, terutama oleh masyarakat yang membutuhkan bahan pokok dengan harga lebih ekonomis.
Namun, Agus menilai penyebaran informasi mengenai kegiatan tersebut masih perlu diperluas agar manfaatnya dapat dirasakan lebih merata. Pada hari pertama pelaksanaan, ia melihat cukup banyak pembeli berasal dari kalangan pegawai.
Menurutnya, partisipasi pegawai tetap menjadi hal positif, tetapi masyarakat umum juga perlu mengetahui dan memanfaatkan program tersebut.
“Untuk pelaksanaan hingga 23 Oktober, kami berharap lebih banyak masyarakat yang datang,” katanya.
Karena itu, Agus meminta perangkat daerah terkait, termasuk Dinas Komunikasi dan Informatika, membantu memperluas penyebaran informasi mengenai lokasi, waktu, dan pelaksanaan GPM. Langkah ini dinilai penting agar masyarakat yang menjadi sasaran program memperoleh akses informasi yang memadai.
Selain menggelar pasar murah, Pemkot Balikpapan juga terus mendorong koordinasi dengan distributor dan daerah penghasil pangan. Kerja sama tersebut diperlukan untuk menjaga kelancaran pasokan, mengantisipasi potensi gangguan distribusi, serta mengurangi tekanan kenaikan harga di tingkat konsumen.
Optimalisasi Lahan dan Pertanian Perkotaan
Agus menegaskan, upaya memperkuat ketahanan pangan tidak cukup hanya melalui intervensi harga. Dalam jangka panjang, Balikpapan perlu meningkatkan kemampuan produksi pangan lokal agar ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi secara bertahap.
Salah satu upaya yang didorong pemerintah adalah mengoptimalkan lahan pertanian yang masih tersedia, termasuk kawasan Bukit Binjai dan Gunung Binjai di Kelurahan Teritip, Balikpapan Timur.
Pemkot juga mendorong pengembangan urban farming atau pertanian perkotaan melalui pemanfaatan lahan terbatas, termasuk pengembangan rumah kaca di tingkat kecamatan. Komoditas yang menjadi perhatian antara lain cabai dan sayuran yang kerap mengalami gejolak harga serta berpengaruh terhadap inflasi.
Pengembangan pertanian perkotaan diharapkan dapat menambah pasokan pangan dari dalam kota sekaligus membuka peluang bagi masyarakat untuk memenuhi sebagian kebutuhan rumah tangga secara mandiri.
Di sisi lain, Cadangan Pangan Pemerintah Daerah (CPPD) akan dioptimalkan untuk membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, terutama kelompok rentan. Pemanfaatan cadangan pangan tersebut juga diarahkan untuk mendukung pemenuhan gizi dan percepatan penurunan stunting di Balikpapan.
Agus menilai, penguatan ketahanan pangan perlu dilakukan secara terpadu melalui peningkatan produksi lokal, pengelolaan cadangan pangan, stabilisasi harga, dan kerja sama dengan daerah produsen utama. Dengan demikian, ketersediaan pangan di Balikpapan dapat lebih terjaga meskipun sebagian besar kebutuhan masih dipasok dari luar daerah.
Warga Diimbau Belanja Sesuai Kebutuhan
Di tengah tantangan distribusi dan fluktuasi harga pangan, Agus juga mengimbau masyarakat agar berbelanja secara bijak dan tidak melakukan pembelian berlebihan. Warga diminta membeli bahan pokok sesuai kebutuhan sehari-hari serta menghindari penumpukan atau penimbunan barang yang berpotensi mengganggu ketersediaan di pasaran.
“Belanjalah sesuai kebutuhan, jangan menumpuk atau menimbun bahan pokok,” tegasnya.
Selain mengatur pola belanja, masyarakat juga didorong memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam kebutuhan dapur, seperti cabai dan sayuran. Meskipun dilakukan dalam skala rumah tangga, langkah tersebut dinilai dapat membantu mengurangi pengeluaran keluarga sekaligus mendukung ketersediaan pangan secara mandiri.
Agus turut mengingatkan warga agar menggunakan air bersih secara hemat karena Balikpapan belum memasuki musim penghujan. Penggunaan air yang bijak diperlukan untuk menjaga ketersediaan sumber daya air bagi kebutuhan rumah tangga maupun kegiatan produktif masyarakat.
Pemkot Balikpapan berharap berbagai langkah tersebut dapat berjalan beriringan, mulai dari pelaksanaan GPM untuk membantu menjaga keterjangkauan harga, penguatan produksi lokal, optimalisasi cadangan pangan, hingga peningkatan kerja sama dengan daerah pemasok.
Melalui upaya tersebut, ketahanan pangan Balikpapan diharapkan semakin kuat dan tidak sepenuhnya bergantung pada kelancaran pasokan dari luar daerah. Selain menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok, langkah ini juga diharapkan mampu melindungi daya beli masyarakat di tengah pertumbuhan Balikpapan sebagai kota penyangga IKN.
ADV Diskominfo Kota Balikpapan Pewarta : M Hilmansyah Editor : Fairuzzabady @2026

















