Menu

Mode Gelap
Gotong Royong Jadi Kunci Jaga Kebersihan, Palaran Bersihkan Parit Antisipasi Musim Hujan NasDem Samarinda Gandeng Bank Sampah, Gerakkan Warga Peduli Kebersihan dari Palaran Gebermas Dorong Warga Peduli Sampah, Bank Sampah Kampung KB Makmur Lestari Jadi Penggerak Karhutla Ganggu Penerbangan di Kalimantan, Sejumlah Rute dari Balikpapan Delay hingga 4 Jam Kodam VI/Mulawarman Gelar Salat Istisqa, Doakan Hujan Turun dan Karhutla Mereda

IKN NUSANTARA · 16 Okt 2025 14:15 WITA ·

Otorita IKN dan BRIN Kolaborasi Kajian Toponimi dan Sistem Peringatan Dini Sosial


 Dimulai dengan peninjauan langsung infrastruktur penting kawasan Nusantara, termasuk DAS Sanggai, Otorita IKN dan BRIN teguhkan kolaborasi kajian penamaan rupa bumi (toponimi) di Kawasan Nusantara, Rabu (15/10/2025). Perbesar

Dimulai dengan peninjauan langsung infrastruktur penting kawasan Nusantara, termasuk DAS Sanggai, Otorita IKN dan BRIN teguhkan kolaborasi kajian penamaan rupa bumi (toponimi) di Kawasan Nusantara, Rabu (15/10/2025).

KUMALANEWS.ID, NUSANTARA — Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) menggelar pertemuan dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Kantor Balai Kota Otorita IKN, Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP) Nusantara, Rabu (15/10/2025). Pertemuan ini menjadi momentum penting dalam mewujudkan kolaborasi kajian penamaan rupa bumi (toponimi) di kawasan Nusantara, meliputi jalan-jalan, embung, hingga gedung-gedung perkantoran/pemerintahan.

Kegiatan ini dihadiri tujuh peneliti BRIN lintas bidang keilmuan berbeda, salah satunya memaparkan rencana kerja sama pengembangan Social Early Warning System (SEWS) untuk mendeteksi potensi konflik sosial di wilayah IKN. Kolaborasi tersebut akan dilaksanakan melalui dua tahap, mencakup riset lapangan dan penyusunan peta toponimi sesuai dengan titik lokasi yang terdapat di kawasan Nusantara.

Lebih lanjut, Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, menegaskan bahwa kerja sama dengan BRIN merupakan langkah strategis untuk memperkuat fondasi tata ruang dan tata sosial IKN menuju Ibu Kota Politik tahun 2028.

“Toponimi ini akan sangat diperlukan. Kami siap berkontribusi dengan apa saja yang BRIN butuhkan, dengan catatan kajian ini harus bisa dimanfaatkan secara nyata. Tidak hanya nama jalan saja, tetapi setiap kawasan Nusantara harus kita beri identitas,” ujar Basuki.

Basuki juga menargetkan agar hasil kajian toponimi dapat diselesaikan sebelum akhir tahun 2027. Sementara itu, Kepala Pusat Riset Geoinformatika BRIN, Prof. Dr. M. Rokhis Khomarudin, menjelaskan bahwa kajian ini tidak hanya berfokus pada penamaan geografis, tetapi juga penguatan dimensi sosial dan budaya dalam setiap unsur buatan tata kota.

“Kami perlu mendalami beberapa alternatif yang nanti akan kami usulkan, termasuk penamaan yang futuristik dan juga terkait tidak hanya warga lokal saja, tetapi juga mendapatkan masukan dari para pendatang yang ada di kawasan IKN ini,” jelas Rokhis.

Sebagai bagian dari kegiatan, rombongan BRIN turut meninjau sejumlah infrastruktur penting, seperti embung-embung, Bendungan Sepaku Semoi, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) Sanggai. Selain untuk memetakan lokasi penamaan, kunjungan ini juga memastikan kesiapan infrastruktur dasar yang menjadi penopang kehidupan masyarakat di Nusantara.

Rokhis menanggapi, riset sumber daya air yang dilakukan BRIN sebelumnya masih berbasis citra satelit, sehingga diperlukan observasi langsung di lapangan agar hasil kajian lebih akurat.

“Terkait hasil riset sebelumnya mengenai sumber daya air, sejauh ini informasinya masih berdasarkan citra satelit dan belum melalui kegiatan lapangan. Dengan kata lain, riset itu masih awal, maka kami perlu konfirmasi lebih dulu. Maka, dengan adanya tambahan data yang dilakukan BRIN di IKN ini akan memperkuat hasil riset, sebelumnya.”

Lebih lanjut, peneliti yang berfokus pada bidang teknologi penginderaan jauh dan geomatika tersebut menyampaikan, “jadi, prinsipnya garbage in, garbage out, artinya kalau kita melakukan sebuah riset, apabila data risetnya sampah, hasilnya juga akan sampah. Karena itu, dengan hadirnya para periset tersebut langsung ke lapangan, harapannya dapat melihat bagaimana kondisi existing (sebenarnya) yang ada di IKN. Alhasil, kita akan mendapatkan data yang baik dengan hasil riset yang memiliki kualitas.”

Rokhis turut mengapresiasi keberfungsian embung-embung yang ada di IKN, baik sebagai penampung air sekaligus penunjang kawasan perekonomian Nusantara, termasuk melalui penanaman kopi liberika di DAS Sanggai.

“Danau ini menjadi penting bagi ekonomi hijau, yang mana di sekelilingnya ternyata sudah ditanami oleh tanaman kopi liberika. Terlebih lagi, saya mendengar sudah ada 54 embung yang dibangun di IKN, yang nantinya juga akan memenuhi kebutuhan air baku bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Nusantara,” ungkap Rokhis.

Pertemuan ini menandai awal sinergi strategis antara Otorita IKN dan BRIN dalam menghadirkan basis data ilmiah yang kuat bagi pembangunan Nusantara, tidak hanya sebagai kota pemerintahan, tetapi juga sebagai pusat riset, inovasi, dan peradaban baru Indonesia.

 

Sumber: Humas Otorita Ibu Kota Nusantara
@2025
Artikel ini telah dibaca 11 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Antisipasi Kekeringan dan Karhutla, OIKN-BMKG Jalankan Operasi Modifikasi Cuaca

24 Agustus 2026 - 18:00 WITA

h17

Delegasi ICAPPS 2026 Kunjungi Nusantara, Bahas Konsep Kota Berkelanjutan

22 Agustus 2026 - 20:00 WITA

h4

Suharso Monoarfa Tinjau IKN, Soroti Konsistensi Konsep Kota Cerdas hingga Peluang Investasi

20 Agustus 2026 - 22:00 WITA

g83

Upacara Penurunan Bendera di Nusantara Berlangsung Khidmat, OIKN Tegaskan Semangat Kebersamaan

17 Agustus 2026 - 23:00 WITA

g44

HUT Ke-81 RI di Nusantara, Basuki Tegaskan Pembangunan IKN Harus Inklusif

17 Agustus 2026 - 21:00 WITA

g42

Malam Renungan Suci di Nusantara, Basuki Tegaskan Pembangunan IKN Terus Berlanjut

17 Agustus 2026 - 10:00 WITA

g31
Trending di IKN NUSANTARA