Menu

Mode Gelap
Tebing Gunung Lonceng Disiapkan Jadi Wisata Berbasis Sejarah, Camat Samarinda Seberang: Jangan Hanya Indah, Harus Punya Cerita DPRD Samarinda Dorong Kelompok Rentan Jadi Pelaku Pembangunan, Targetkan Penurunan Angka Kemiskinan Pemkot Balikpapan Bentuk Tim Terpadu, Pengawasan Toko Swalayan Akan Diperketat Dasawisma Mentari Jadi Inspirasi Ketahanan Pangan, PKK Kaltim Apresiasi Inovasi Warga Balikpapan Verifikasi PKK Kaltim: Kampung Bungas hingga Program Antinarkoba Balikpapan Tuai Apresiasi

BERITA DAERAH · 14 Jun 2026 13:00 WITA ·

Di Atas Tebing Lonceng, Samarinda Terlihat Indah; di Bawahnya Tersimpan Harapan agar Seberang Tak Lagi Terpinggirkan


 Senja menyelimuti Kota Samarinda yang terlihat dari Tebing Lonceng di ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Cahaya lampu kota yang memantul di Sungai Mahakam menghadirkan panorama yang menjadi salah satu daya tarik wisata Samarinda Seberang. Foto: Istimewa. Perbesar

Senja menyelimuti Kota Samarinda yang terlihat dari Tebing Lonceng di ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Cahaya lampu kota yang memantul di Sungai Mahakam menghadirkan panorama yang menjadi salah satu daya tarik wisata Samarinda Seberang. Foto: Istimewa.

KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Menjelang senja, langit perlahan berubah jingga di atas Sungai Mahakam. Dari ketinggian sekitar 300 meter di atas permukaan laut, lampu-lampu Kota Samarinda mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya di permukaan sungai yang membelah kota. Dari Tebing Lonceng, panorama itu terlihat begitu luas, seolah memperlihatkan wajah Samarinda dari sudut yang berbeda.

Bagi wisatawan, tempat ini adalah lokasi terbaik untuk menikmati keindahan kota dari atas bukit. Namun bagi masyarakat Samarinda Seberang, Tebing Lonceng bukan sekadar destinasi wisata. Di balik keindahannya, tersimpan harapan agar pembangunan tidak hanya berpusat di jantung kota, tetapi juga menjangkau kawasan di seberang Sungai Mahakam yang menyimpan banyak potensi.

Harapan itu disampaikan Pemandu Wisata Samarinda Seberang sekaligus Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Kecamatan Samarinda Seberang, Rusdiansyah Rais, saat ditemui di kawasan Tebing Lonceng, Sabtu (13/6/2026) malam.

Menurut Rusdi, Tebing Lonceng merupakan salah satu titik panorama terbaik di Samarinda Seberang. Dari lokasi tersebut, pengunjung dapat menikmati pemandangan hampir 360 derajat yang memperlihatkan bentang alam dan wajah Kota Samarinda dari berbagai arah.

“Ini salah satu view terbaik di wilayah seberang,” ujarnya.

Ke arah selatan, mata memandang hingga muara sungai. Di sisi utara terlihat Samarinda Seberang dan pusat Kota Samarinda yang dipenuhi cahaya bangunan. Sementara di timur tampak kawasan Sungai Kapih serta Jembatan Mahkota II, sedangkan sisi barat menyuguhkan hamparan hutan dan permukiman warga.

Destinasi yang berada di Kelurahan Mangkupalas ini mulai dirintis sebagai objek wisata sejak 2016. Awalnya hanya menjadi lokasi masyarakat menikmati udara segar dan berolahraga, namun perlahan berkembang menjadi tempat wisata yang semakin ramai dikunjungi.

Kini berbagai fasilitas telah tersedia, mulai dari musala, toilet, kafetaria, warung makanan, spot foto, hingga vila untuk wisatawan yang ingin menikmati suasana malam dari atas bukit.

“Fasilitas terus bertambah sehingga pengunjung semakin nyaman,” kata Rusdi.

Keberadaan Tebing Lonceng juga membawa manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Banyak warga yang memperoleh penghasilan melalui usaha kuliner, jasa parkir, pengelolaan vila, hingga pekerjaan sebagai petugas kebersihan dan pramusaji. Produk-produk UMKM seperti kue tradisional pun dapat dipasarkan kepada wisatawan yang datang.

Menurut Rusdi, sektor wisata mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat apabila mendapat dukungan yang lebih besar dari pemerintah.

Namun di balik potensinya, pengembangan kawasan ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah persoalan mitigasi bencana, terutama potensi longsor akibat kondisi geologi kawasan yang memiliki aliran air di bawah permukaan tanah.

Ia mengatakan pihaknya telah beberapa kali berdiskusi dan melakukan survei bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) serta Dinas Lingkungan Hidup untuk mencari solusi atas persoalan tersebut.

“Aspek keselamatan pengunjung harus menjadi prioritas,” tegasnya.

Selain itu, promosi destinasi wisata di Samarinda Seberang dinilai masih belum optimal. Padahal kawasan ini memiliki banyak objek wisata yang dapat dikemas menjadi satu paket perjalanan.

Rusdi membayangkan wisatawan dapat menikmati Tebing Lonceng, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kampung Ketupat, Rumah Tua, Masjid Tua, Kampung Tenun, hingga Kampung Toraja dalam satu rute wisata yang terintegrasi.

Ia bahkan mengusulkan adanya transportasi wisata yang menghubungkan destinasi-destinasi tersebut sehingga wisatawan lebih mudah menjelajahi potensi Samarinda Seberang.

Jejak Sejarah di Balik Nama Gunung Lonceng

Di balik panorama yang memikat, kawasan ini juga menyimpan kisah sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Menurut Rusdi, kawasan tersebut pernah dikenal sebagai Gunung Butun pada era 1970-an. Setelah berdirinya pemancar TVRI, masyarakat menyebutnya Gunung Lampu. Memasuki awal 1990-an, nama Gunung RCTI mulai populer seiring keberadaan pemancar televisi swasta.

Namun hingga kini, masyarakat tetap lebih akrab menyebutnya sebagai Gunung Lonceng.

Konon, pada masa Kesultanan Kutai, sebuah lonceng ditempatkan di kawasan itu sebagai alat peringatan untuk mengawasi lalu lintas kapal yang melintasi Sungai Mahakam. Ketika kapal asing atau perompak terdeteksi dari arah muara, lonceng dibunyikan sebagai tanda bahaya bagi masyarakat dan pasukan penjaga wilayah.

“Dulu lonceng menjadi alat peringatan untuk menjaga kawasan ini,” jelas Rusdi.

Cerita tersebut menjadikan Tebing Lonceng bukan hanya memiliki nilai wisata alam, tetapi juga nilai sejarah yang memperkaya identitas Samarinda Seberang.

Harapan untuk Pemerataan Pembangunan

Di ujung perbincangan, Rusdi kembali menegaskan harapan masyarakat agar pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar terhadap kawasan Samarinda Seberang, termasuk Loa Janan Ilir dan Palaran.

Menurutnya, pembangunan fasilitas publik, sarana pendidikan, infrastruktur, ruang terbuka, hingga pengembangan sektor pariwisata perlu dilakukan secara lebih merata agar manfaat pembangunan dapat dirasakan seluruh warga.

“Kami berharap pemerintah melihat ini sebagai potensi besar yang bisa memberdayakan masyarakat,” katanya.

Ia meyakini, apabila dikelola dengan baik, destinasi wisata seperti Tebing Lonceng mampu membuka lapangan pekerjaan, menggerakkan UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Di atas bukit itu, Samarinda memang tampak indah. Namun bagi warga Samarinda Seberang, keindahan tersebut juga menjadi simbol harapan bahwa suatu saat perhatian pembangunan akan mengalir lebih merata, sehingga potensi yang selama ini tumbuh secara swadaya dapat berkembang menjadi kekuatan baru bagi pariwisata dan ekonomi kota.

 

Pewarta : Yana Ashari
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 5 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Tebing Gunung Lonceng Disiapkan Jadi Wisata Berbasis Sejarah, Camat Samarinda Seberang: Jangan Hanya Indah, Harus Punya Cerita

15 Juni 2026 - 13:00 WITA

kam23

DPRD Samarinda Dorong Kelompok Rentan Jadi Pelaku Pembangunan, Targetkan Penurunan Angka Kemiskinan

15 Juni 2026 - 12:00 WITA

kam22

Pemkot Balikpapan Bentuk Tim Terpadu, Pengawasan Toko Swalayan Akan Diperketat

15 Juni 2026 - 11:00 WITA

kam19

Dasawisma Mentari Jadi Inspirasi Ketahanan Pangan, PKK Kaltim Apresiasi Inovasi Warga Balikpapan

14 Juni 2026 - 18:00 WITA

kam18

Verifikasi PKK Kaltim: Kampung Bungas hingga Program Antinarkoba Balikpapan Tuai Apresiasi

14 Juni 2026 - 17:00 WITA

kam17

Pelatihan Jurnalistik di SMA Muhammadiyah Tenggarong

14 Juni 2026 - 16:00 WITA

kam15
Trending di BERITA DAERAH