KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Nama Arbain mungkin tidak lahir dari ruang-ruang politik yang gemerlap. Ia tumbuh dari kehidupan sederhana di Loa Janan, menapaki jalan panjang sebagai petani, pedagang, hingga kontraktor sebelum akhirnya duduk sebagai anggota DPRD Kota Samarinda.
Bagi Arbain, politik bukan tujuan akhir, melainkan ruang pengabdian yang ia pilih setelah melewati berbagai pengalaman hidup di lapangan. Latar belakang itulah yang membuatnya dikenal sebagai salah satu legislator dengan rekam jejak akar rumput yang kuat.
Pria berusia 51 tahun yang berdomisili di Kutai Kartanegara ini menempuh pendidikan di SMEA Muhammadiyah 2 pada awal 1990-an. Sejak muda, ia sudah akrab dengan dunia kerja, jauh sebelum mengenal jabatan dan panggung politik.
Salah satu pengalaman awalnya adalah saat dipercaya sebagai Kaur Pembangunan Desa Tanah Datar, Kecamatan Muara Badak, pada 2000–2006. Setelah itu, ia juga aktif di dunia usaha melalui CV Yuriko selama hampir dua dekade, sembari tetap bersentuhan dengan aktivitas sosial dan organisasi masyarakat.
Karier politiknya mulai terbuka lebar ketika ia terpilih menjadi anggota DPRD Kota Samarinda pada periode 2019–2021. Namun bagi Arbain, perjalanan itu bukan lompatan tiba-tiba, melainkan hasil dari proses panjang interaksi dengan masyarakat dan pengalaman hidup yang beragam.
Di berbagai organisasi, ia juga dikenal aktif. Mulai dari Sekretaris Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kutai Kartanegara, anggota HIPPNI/IFYE Indonesia, hingga keterlibatannya di KNPI Kalimantan Timur. Semua itu membentuk perspektifnya tentang bagaimana masyarakat bergerak dan berjuang dari bawah.
Politik Bukan Profesi, Tapi Pengabdian
Saat berbicara soal motivasinya, Arbain tidak menutupi bahwa dirinya pernah berada di berbagai dunia kerja yang berbeda. Namun justru dari situ ia merasa ada tanggung jawab yang lebih besar.
“Sebagai manusia, kita harus bisa memberi manfaat yang lebih luas,” ujarnya singkat, Jumat (19/6/2026).
Ia menilai, banyak persoalan masyarakat yang tidak cukup hanya dikritisi dari luar sistem. Menurutnya, perubahan justru harus diperjuangkan dari dalam.
“Kalau kita mau memperbaiki sesuatu, ya harus masuk ke dalam sistem,” katanya.
Bagi Arbain, kursi DPRD bukan tempat mencari pekerjaan. Sebab sebelum menjadi legislator, ia sudah lebih dulu memiliki usaha yang berjalan dan bahkan membuka lapangan kerja bagi orang lain.
“Ini bukan pekerjaan, ini pengabdian,” tegasnya.
Dari Lapangan ke Ruang Kebijakan
Pandangan itu tidak datang tanpa pengalaman. Bertahun-tahun berkecimpung di desa, dunia usaha, hingga organisasi membuatnya memahami langsung dinamika masyarakat bawah. Hal itulah yang kini ia bawa ke ruang kebijakan.
Ia juga melihat sistem pemilu terbuka memberi kesempatan lebih adil bagi siapa pun yang ingin maju sebagai wakil rakyat. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk menyampaikan gagasan langsung kepada masyarakat.
“Kalau bukan sekarang, kapan lagi? Kalau bukan kita, siapa lagi?” ucapnya.
Bagi Arbain, kalimat sederhana itu menjadi dorongan yang mengantarnya ke panggung politik, bukan untuk mengejar posisi, tetapi untuk memastikan suara masyarakat tetap terdengar.
Dukungan Keluarga Jadi Fondasi
Di balik perjalanan politiknya, Arbain mengaku tidak berjalan sendiri. Keluarga menjadi penopang utama, meski tidak pernah ikut terlibat dalam aktivitas politik praktis.
Orang tua, istri, hingga anak-anaknya memberikan ruang penuh untuknya menentukan langkah. Namun mereka tetap hadir sebagai sumber dukungan moral dalam setiap keputusan yang diambil.
“Yang penting keluarga percaya. Mereka tidak ikut campur, tapi selalu mendukung,” tuturnya.
Kini, dengan pengalaman panjang dari berbagai sektor kehidupan, Arbain memaknai jabatannya sebagai wakil rakyat sebagai ruang untuk kembali kepada masyarakat yang telah membentuknya.
Bagi dia, politik bukan sekadar jabatan, melainkan jalan panjang pengabdian yang tidak pernah selesai.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















