KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Ketua Panitia Pelaksana Festival Budaya Dayak Kenyah Tahun 2026, Madan Bit, menegaskan bahwa Festival Budaya Dayak Kenyah yang digelar di Desa Wisata Budaya Pampang bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wadah untuk melestarikan budaya leluhur, memperkuat nilai gotong royong, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat adat.
Pernyataan tersebut disampaikan Madan Bit saat pelaksanaan Festival Budaya Dayak Kenyah yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-53 Desa Wisata Budaya Pampang di Lamin Adat Pampang, Kamis (25/6/2026). Festival yang menjadi salah satu agenda budaya unggulan Kota Samarinda itu dihadiri pemerintah daerah, tokoh adat, masyarakat, serta wisatawan yang datang untuk menyaksikan kekayaan seni dan budaya Dayak Kenyah.
Madan menjelaskan bahwa persiapan festival telah dilakukan sejak awal April 2026. Selama hampir tiga bulan, panitia bersama masyarakat adat bergotong royong mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari latihan seni tari, penataan lokasi acara, hingga pembersihan kawasan Desa Budaya Pampang.
“Persiapan sudah dimulai sejak awal April. Semua masyarakat terlibat untuk menyukseskan festival ini,” ujarnya.
Menurutnya, keterlibatan masyarakat dalam proses persiapan menjadi bagian penting dari upaya menjaga nilai kebersamaan yang telah diwariskan oleh para leluhur. Semangat gotong royong tersebut dinilai perlu terus ditanamkan kepada generasi muda di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola kehidupan sosial masyarakat saat ini.
Ia mengakui bahwa tantangan terbesar dalam pelestarian budaya adalah menumbuhkan kembali minat generasi muda agar tetap mengenal dan mencintai tradisi daerahnya. Karena itu, festival budaya menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan nilai-nilai adat sekaligus memberikan ruang bagi anak-anak dan remaja untuk terlibat langsung dalam kegiatan budaya.
“Festival ini menjadi media pembelajaran agar generasi muda tidak melupakan budaya dan adat istiadatnya,” katanya.
Madan menegaskan bahwa budaya dan adat istiadat merupakan aset berharga yang harus dijaga keberlangsungannya. Selain memiliki nilai sejarah dan identitas bagi masyarakat Dayak Kenyah, budaya juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai sektor ekonomi kreatif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, berbagai pertunjukan seni, tarian tradisional, kerajinan tangan, hingga produk khas masyarakat adat memiliki daya tarik tersendiri yang dapat menjadi magnet bagi wisatawan.
“Budaya bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” tegasnya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan festival setiap tahun turut memberikan dampak positif terhadap aktivitas ekonomi warga. Selama kegiatan berlangsung, berbagai produk UMKM lokal dan kerajinan tradisional masyarakat dipamerkan serta dipasarkan kepada pengunjung yang datang dari berbagai daerah.
Produk-produk tersebut mulai dari kerajinan khas Dayak, aksesoris tradisional, kuliner lokal, hingga berbagai hasil karya masyarakat yang mencerminkan kekayaan budaya setempat. Kehadiran wisatawan dinilai mampu meningkatkan perputaran ekonomi dan membuka peluang usaha bagi warga.
“UMKM masyarakat ikut bergerak. Kerajinan tradisional bisa dipromosikan dan ekonomi warga juga mendapatkan manfaat,” jelasnya.
Lebih lanjut, Madan mengungkapkan bahwa Festival Budaya Dayak Kenyah merupakan bentuk transformasi dari tradisi pesta panen yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Dayak. Tradisi tersebut dahulu dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil pertanian yang diperoleh masyarakat setelah masa panen.
Seiring perkembangan zaman, tradisi syukuran panen kemudian dikemas dalam bentuk festival budaya yang lebih terbuka dan dapat disaksikan oleh masyarakat luas tanpa menghilangkan nilai-nilai adat yang terkandung di dalamnya.
“Semangat syukur atas hasil panen tetap ada, hanya bentuk penyampaiannya yang berkembang menjadi festival budaya,” tuturnya.
Dalam pelaksanaan festival, masyarakat adat juga terus menjalin sinergi dengan pemerintah daerah sebagai mitra dalam menjaga dan mengembangkan budaya lokal. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga kini adalah prosesi Alut Adang, yaitu ritual penghormatan kepada tamu kehormatan yang hadir dalam kegiatan adat.
Prosesi tersebut menjadi simbol penghargaan masyarakat Dayak kepada para pemimpin, tokoh masyarakat, dan pihak-pihak yang selama ini memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya.
“Alut Adang adalah bentuk penghormatan adat kepada tamu yang hadir dan mendukung keberlangsungan budaya kami,” ungkapnya.
Menutup keterangannya, Madan Bit berharap pemerintah daerah dapat memberikan dukungan yang lebih kuat terhadap keberlangsungan Festival Budaya Dayak Kenyah melalui pembentukan regulasi yang memberikan kepastian pelaksanaan kegiatan dari tahun ke tahun.
Ia berharap adanya Peraturan Daerah (Perda) yang secara khusus mengatur pelestarian dan pengembangan Desa Wisata Budaya Pampang beserta festival budayanya, sehingga kegiatan tersebut tetap menjadi agenda budaya resmi daerah meskipun terjadi pergantian kepemimpinan.
“Kami berharap festival ini memiliki payung hukum yang kuat agar terus berjalan dan menjadi warisan budaya yang dapat dinikmati generasi mendatang,” pungkasnya.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















