KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Persoalan yang terjadi di Pasar Pagi Samarinda dinilai tidak dapat hanya dilihat dari tingkat omzet pedagang. Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Perdagangan menilai berbagai persoalan di kawasan tersebut saling berkaitan, sehingga membutuhkan penanganan secara menyeluruh dan komitmen bersama antara pemerintah dan para pedagang.
Hal itu disampaikan Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda, Nurrahmani atau Yama, usai mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi II DPRD Kota Samarinda terkait pembahasan kondisi Pasar Pagi, di Ruang Rapat Utama Lantai II DPRD Kota Samarinda, Selasa (1/9/2026).
Menurut Yama, berbagai persoalan yang disampaikan pedagang dalam RDP merupakan masukan penting bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi. Ia menegaskan, kritik maupun saran dari pedagang akan menjadi bahan pembahasan selama disampaikan untuk mendorong perbaikan pengelolaan Pasar Pagi.
“Persoalan Pasar Pagi tidak bisa hanya bicara omzet. Kami terbuka terhadap kritik dan saran yang membangun,” ujar Yama.
Ia menjelaskan, pemerintah dalam waktu dekat akan kembali menggelar pertemuan bersama perwakilan pedagang di kawasan Pasar Pagi. Pertemuan tersebut akan digunakan untuk membahas persoalan secara lebih rinci sekaligus mencari langkah penyelesaian yang dapat disepakati bersama.
“Dalam waktu dekat kami akan diskusi lagi di Pasar Pagi. Kami ingin mencari langkah terbaik bersama,” jelasnya.
Yama menilai keterlibatan perwakilan pedagang menjadi penting agar setiap keputusan yang dihasilkan dapat dipahami dan dijalankan bersama. Karena itu, pemerintah meminta para perwakilan tidak hanya menyampaikan aspirasi, tetapi juga memiliki komitmen terhadap hasil pembahasan.
Menurutnya, apabila seluruh perwakilan memiliki kesepahaman, perbaikan di Pasar Pagi dapat dilakukan secara bertahap dan saling mendukung. Dengan pola tersebut, penyelesaian persoalan diharapkan tidak berhenti pada forum rapat, tetapi dapat diterapkan di lapangan.
“Yang penting ada komitmen bersama. Kalau satu bergerak, yang lain ikut memperbaiki,” katanya.
Yama menegaskan, pemerintah tidak ingin persoalan Pasar Pagi hanya diukur berdasarkan besar kecilnya omzet pedagang. Menurutnya, aktivitas perdagangan dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi kawasan, akses, fasilitas, pengelolaan ruang hingga kenyamanan masyarakat yang datang berbelanja.
Karena itu, setiap persoalan perlu dibahas berdasarkan kondisi di lapangan dan tidak dapat diselesaikan hanya dengan melihat satu aspek.
Soal Kompensasi, Pemkot Fokus Pada Perbaikan
Mengenai kemungkinan pemberian kompensasi atau insentif bagi pedagang yang menghadapi kendala, Yama menjelaskan bahwa penataan Pasar Pagi bukan merupakan proses jual-beli ruang yang secara langsung menjadi dasar pemberian kompensasi.
Ia mengatakan, pemerintah melakukan penataan berdasarkan pembagian ruang dan peta yang telah disiapkan. Karena itu, pendekatan yang dilakukan saat ini lebih diarahkan pada upaya perbaikan kondisi pasar.
“Ini bukan persoalan jual-beli, tetapi pembagian ruang. Jadi fokus kami adalah perbaikan,” terangnya.
Menurut Yama, proses perbaikan tersebut harus dibahas secara terbuka antara pemerintah dan pedagang. Pembahasan juga akan dilakukan secara bertahap karena persoalan yang ada cukup beragam dan membutuhkan solusi yang berbeda.
Ia menambahkan, pemerintah tidak menutup kemungkinan untuk melakukan beberapa kali pertemuan guna mengurai persoalan satu per satu. Pertemuan tersebut diharapkan dapat menghasilkan kesepakatan yang realistis dan dapat diterapkan oleh seluruh pihak.
“Perbaikannya kita bicarakan bersama, tidak cukup sekali pertemuan,” ungkapnya.
Yama berharap dialog antara pemerintah dan pedagang dapat menghasilkan pemikiran bersama mengenai arah penataan Pasar Pagi ke depan. Pemerintah, kata dia, siap menjalankan komitmennya, namun hal tersebut harus diikuti dengan komitmen dari para pedagang.
“Pemerintah komitmen, pedagang juga komitmen. Dengan begitu, semuanya bisa berjalan,” pungkas Yama.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















