KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Ketahanan Pangan (Disketapang) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menunda pelaksanaan program Gerakan Tanam Bawang Merah dan Cabai (Gertam Babe) yang semula dijadwalkan pada 2026 menjadi 2027. Kebijakan ini diambil sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi cuaca ekstrem akibat fenomena El Niño yang berpotensi menyebabkan kemarau berkepanjangan dan menghambat pertumbuhan tanaman.
Kepala Disketapang Kukar, Ananias, mengatakan penundaan dilakukan karena ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama dalam keberhasilan budidaya bawang merah dan cabai. Dalam kondisi kemarau yang cukup berat, kebutuhan air untuk menyiram tanaman dikhawatirkan sulit terpenuhi sehingga berisiko menurunkan produktivitas, bahkan menyebabkan kegagalan panen.
Padahal, program Gertam Babe dirancang untuk mendorong kemandirian pangan sekaligus meningkatkan potensi ekonomi masyarakat. Sasaran program ini mencakup sejumlah kelompok, di antaranya Kelompok Wanita Tani (KWT), Tim Penggerak PKK, remaja masjid, hingga warga binaan di lapas perempuan.
“Dalam kondisi sekarang, air untuk kebutuhan sehari-hari saja sulit, apalagi untuk menyiram tanaman. Kalau peluang keberhasilannya sangat kecil, lebih baik ditunda,” ujar Ananias, Senin (12/10/2026).
Menurutnya, keputusan tersebut bukan berarti pemerintah kehilangan optimisme terhadap program Gertam Babe. Penundaan justru dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi riil di lapangan agar pelaksanaan kegiatan tidak dipaksakan ketika faktor pendukung utama, khususnya air, belum tersedia secara memadai.
Ananias menilai penggunaan anggaran pemerintah harus disesuaikan dengan kesiapan lingkungan dan peluang keberhasilan kegiatan. Apabila penanaman tetap dilaksanakan di tengah kondisi cuaca yang tidak mendukung, bantuan yang diberikan berisiko tidak menghasilkan manfaat sesuai target.
“Bukan pesimistis, tetapi kita harus realistis. Jangan dipaksakan jika kondisi alam belum mendukung, karena anggaran negara harus digunakan secara efektif,” tegasnya.
Disketapang Kukar juga memperhatikan perkembangan kondisi cuaca yang diperkirakan masih dipengaruhi El Niño hingga akhir tahun. Atas pertimbangan tersebut, pelaksanaan Gertam Babe dijadwalkan kembali pada 2027, dengan harapan kondisi lingkungan dan ketersediaan air lebih mendukung kegiatan budidaya.
Meski pelaksanaan program tahun ini ditunda, Ananias menyebut Gertam Babe telah memberikan hasil positif di sejumlah wilayah yang lebih dahulu menjalankan penanaman cabai. Salah satunya di Kecamatan Sangasanga, ketika hasil penjualan cabai mampu menambah kas kelompok hingga Rp15 juta.
Hasil serupa juga dilaporkan oleh kelompok masyarakat di Handil Terusan, Kecamatan Anggana, serta Samboja. Capaian tersebut menunjukkan bahwa budidaya cabai berpotensi menjadi kegiatan produktif yang tidak hanya mendukung kebutuhan pangan, tetapi juga memberikan tambahan pendapatan bagi kelompok masyarakat.
Menurut Ananias, peluang ekonomi dari penanaman cabai cukup menjanjikan apabila kegiatan dilakukan dengan perawatan yang baik dan hasil panen dipasarkan secara tepat. Terlebih, harga cabai yang relatif tinggi dapat memberikan nilai tambah bagi kelompok penerima manfaat.
Dalam pelaksanaannya, Disketapang Kukar telah menyiapkan dukungan sarana produksi untuk menunjang kegiatan Gertam Babe. Bantuan tersebut meliputi wadah tanam atau planter bag berkapasitas 35 liter, media tanam berupa tanah humus, pupuk kandang, pupuk majemuk NPK, pupuk organik cair, serta bibit cabai.
Melalui dukungan tersebut, kelompok penerima diharapkan dapat melakukan penanaman, perawatan, hingga memanfaatkan hasil panen untuk kebutuhan sendiri maupun dijual. Pendapatan dari penjualan juga dapat dimasukkan ke kas kelompok untuk mendukung keberlanjutan kegiatan.
Ananias menjelaskan, dana yang terkumpul dapat digunakan kembali untuk membeli bibit baru ketika tanaman sebelumnya sudah tidak produktif. Sementara itu, media tanam yang masih layak dapat dimanfaatkan kembali setelah diolah, sehingga biaya untuk siklus penanaman berikutnya bisa ditekan.
Pada 2026, program Gertam Babe direncanakan mencakup komoditas cabai dan bawang merah. Namun, kedua kegiatan tersebut ditunda karena membutuhkan dukungan kondisi lingkungan, terutama ketersediaan air yang memadai, agar proses pertumbuhan tanaman berjalan optimal.
Disketapang Kukar berharap program ini dapat dilaksanakan kembali pada 2027 dengan persiapan yang lebih matang dan kondisi cuaca yang lebih mendukung. Dengan demikian, bantuan pemerintah dapat dimanfaatkan secara maksimal serta memberikan hasil nyata bagi masyarakat penerima.
Penundaan tersebut menjadi langkah antisipatif agar program ketahanan pangan berbasis masyarakat tetap berjalan efektif dan berkelanjutan. Ke depan, Gertam Babe diharapkan mampu memperkuat kemandirian pangan sekaligus membuka peluang peningkatan pendapatan kelompok masyarakat di Kabupaten Kutai Kartanegara.
ADV Diskominfo Kutai Kartanegara Pewarta : Indirwan Editor : Rudy M @2026

















