KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Guna menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah derasnya pengaruh global, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mengambil langkah strategis untuk memperkuat muatan budaya lokal dalam proses pembelajaran di sekolah. Upaya ini dilakukan untuk memastikan generasi muda tidak hanya mengenal akar budayanya, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai fondasi dalam menghadapi tantangan zaman.
Kebudayaan daerah dinilai memiliki nilai historis dan filosofi yang penting bagi pembentukan karakter anak muda. Disdikbud Kukar ingin menghadirkan pendekatan pembelajaran yang tidak sekadar mengenalkan budaya sebagai materi tambahan, tetapi sebagai bagian yang menyatu dengan proses pendidikan yang relevan dan kontekstual.
“Kalau dari Disdikbud Kukar mau budaya lokal itu hadir bukan hanya sebagai pengetahuan, tetapi sebagai identitas yang membentuk pola pikir dan kreativitas generasi muda Kukar,” ujar Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, Rabu (19/11/2025).
Puji menjelaskan bahwa penguatan kurikulum budaya lokal bertujuan menanamkan rasa bangga dan kepedulian terhadap warisan leluhur. Nilai-nilai adat, sejarah kerajaan Kutai, hingga tradisi kesenian daerah ke depan diharapkan bisa diadaptasi dalam berbagai bentuk pembelajaran yang lebih interaktif dan modern.
“Anak muda kita harus mengenal akar identitasnya. Dari situlah akan tumbuh rasa memiliki dan keinginan untuk menjaga budaya. Kalau sudah tertanam sejak sekolah, mereka tidak akan mudah tergerus modernisasi,” jelasnya.
Puji menilai bahwa penguatan identitas budaya tidak harus berbentuk ajaran tekstual saja. Ia menyebut banyak pendekatan kreatif yang bisa diterapkan, seperti cerita rakyat yang dikemas dalam media digital, nilai adat yang disisipkan dalam pembelajaran karakter, hingga pengenalan simbol-simbol budaya dalam karya visual siswa.
“Budaya kita kaya sekali. Kalau bisa dikemas dengan cara yang dekat dengan dunia anak muda, mereka akan lebih mudah memahami dan mencintainya,” tambahnya.
Ia menyebut, sejumlah sekolah di Kukar sudah mulai menampilkan antusiasme untuk memperluas ruang bagi ekspresi budaya lokal dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini disebut sebagai bukti bahwa edukasi berbasis kearifan lokal memiliki tempat yang kuat di hati masyarakat.
“Tetap yang menjadi prinsip adalah akar budaya Kutai Kartanegara. Identitas itu tidak boleh hilang, meski kita bergerak mengikuti perkembangan zaman,” tegasnya.
Disdikbud Kukar meyakini bahwa penguatan kurikulum berbasis budaya tidak hanya memberi dampak pada pelestarian tradisi, tetapi juga berperan dalam memperkuat karakter generasi masa depan agar lebih berdaya, percaya diri, dan memiliki pijakan nilai yang kokoh.
“Kalau generasi muda memahami budayanya, mereka tidak hanya menjadi cerdas secara intelektual, tapi juga matang secara identitas,” pungkasnya.
ADV Disdikbud Kukar Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2025

















