KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Di balik kemegahannya sebagai ikon Kota Tenggarong, Jam Nirum kini menghadapi ancaman serius. Usia bangunan yang hampir satu abad, cuaca ekstrem Kalimantan Timur, serta tekanan urbanisasi disebut menjadi tantangan utama dalam upaya pelestarian salah satu peninggalan kolonial paling penting di Kukar.
Pamong Budaya Ahli Muda Disdikbud Kukar, Mohammad Saidar atau Derry, mengungkapkan bahwa kondisi Jam Nirum perlahan mengalami perubahan akibat pelapukan material, kelembaban tinggi, serta perubahan iklim yang memengaruhi struktur bangunan. Menurutnya, perawatan Jam Nirum tidak bisa lagi dilakukan secara konvensional.
“Kita dihadapkan pada dilema antara mempertahankan keaslian material dengan kebutuhan restorasi modern. Perubahan iklim membuat pekerjaan konservasi semakin menantang,” jelas Derry, Kamis (27/11/2025).
Jam Nirum yang dibangun pada 1936 dengan arsitektur Indische Empire itu mulanya dirancang untuk iklim tropis masa kolonial. Namun, perubahan lingkungan Kota Tenggarong yang semakin padat dan dinamis membuat kondisi bangunan harus mendapat perhatian ekstra. Intensitas hujan, suhu panas yang ekstrem, serta polusi kota disebut berpengaruh pada ketahanan material.
Di sisi lain, minimnya tenaga konservator budaya juga menjadi persoalan krusial. Disdikbud Kukar kini hanya memiliki sumber daya terbatas untuk melakukan kajian mendalam terhadap kebutuhan konservasi bangunan bersejarah.
“Usianya sudah nyaris satu abad. Kalau tidak ditangani secara ilmiah, kita bisa kehilangan salah satu aset sejarah paling penting di Tenggarong,” ujar Derry.
Lokasi Jam Nirum yang berada di antara Museum Mulawarman dan Masjid Jami’ Adji Amir Hasanuddin menambah urgensi pelestarian kawasan. Bangunan ini tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga penghubung sejarah antara masa Kesultanan Kutai Kartanegara dengan periode kolonial Belanda.
Tekanan modernisasi kota juga membuat aktivitas masyarakat di sekitar kawasan meningkat, sehingga diperlukan penataan ulang untuk melindungi Jam Nirum dari getaran, kepadatan lalu lintas, dan potensi kerusakan akibat aktivitas publik.
Disdikbud Kukar sedang menyusun sejumlah langkah strategis, termasuk kajian struktural, rencana restorasi bertahap, dan penguatan status Jam Nirum sebagai bagian penting dari kawasan cagar budaya. Bahkan, pemerintah juga mempertimbangkan penggunaan teknologi pemantauan kondisi bangunan secara berkala.
Selain itu, program edukasi sejarah juga diarahkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, agar memahami pentingnya pelestarian bangunan tua bukan hanya sebagai objek foto, tetapi sebagai rekam jejak identitas daerah.
“Jam Nirum adalah monumen hidup. Ia merekam peristiwa dan perubahan zaman. Kalau dibiarkan rusak, berarti kita membiarkan memori kolektif masyarakat ikut hilang,” tegas Derry.
Dengan tantangan pelestarian yang semakin kompleks, pemerintah daerah diharapkan memperkuat dukungan anggaran dan kebijakan pelindungan cagar budaya agar Jam Nirum tetap kokoh menjadi simbol sejarah, bahkan pada masa depan.
ADV Disdikbud Kukar Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2025

















