KUMALANEWS.ID, SAMARINDA — Proses relokasi pedagang Pasar Pagi Samarinda terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hingga pertengahan Januari 2026, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda mencatat hampir 1.500 pedagang telah mengambil kunci lapak dari total 1.804 pedagang yang masuk dalam skema relokasi tahap pertama.
Informasi tersebut disampaikan Kepala Disdag Kota Samarinda, Nurrahmi, yang akrab disapa Yama, usai mengikuti rapat hearing bersama Komisi II DPRD Kota Samarinda, Rabu (14/1/2026). Menurutnya, capaian tersebut menjadi indikator positif atas upaya penataan pasar yang sedang dilakukan oleh Pemerintah Kota Samarinda.
“Salah satu poin yang dibahas dalam rapat tadi adalah sejauh mana pergerakan pedagang Pasar Pagi. Dari total 1.804 pedagang pada tahap pertama, yang sudah mengambil kunci lapak hampir mencapai 1.500,” ungkap Yama kepada media Kumalanews.id.
Meski demikian, Yama mengakui masih terdapat ratusan pedagang yang belum mengambil kunci lapak. Kondisi tersebut disebabkan oleh sejumlah faktor, di antaranya pedagang yang masih berada di luar daerah, termasuk di wilayah Sulawesi. Pemerintah Kota Samarinda, lanjutnya, terus mendorong agar para pedagang tersebut segera menyelesaikan proses pengambilan kunci.
Terkait rencana relokasi tahap kedua, Yama menegaskan bahwa pihaknya masih menunggu arahan dan keputusan resmi dari Wali Kota Samarinda. Saat ini, fokus Disdag masih diarahkan pada penyelesaian tahap pertama, termasuk validasi data pedagang serta proses pemindahan lapak secara bertahap.
“Data yang dimasukkan ke dalam aplikasi saat ini memang khusus untuk tahap pertama. Hal ini sengaja dilakukan agar penyelesaian tahap pertama dapat berjalan maksimal. Bukan berarti tahap kedua ditiadakan, nanti akan ada skema tersendiri,” jelasnya.
Ia juga menanggapi keluhan sebagian pedagang yang mengaku memiliki Surat Keterangan Tempat Usaha dan Kios (SKTUK), namun belum memperoleh lapak. Menurut Yama, persoalan tersebut berpotensi menjadi salah satu pembahasan utama dalam relokasi tahap kedua, khususnya bagi pedagang yang lapaknya selama ini digunakan oleh pihak lain.
“Pada tahap pertama, prioritas diberikan kepada pedagang yang benar-benar aktif berjualan. Untuk tahap kedua nanti, persoalan antara pemilik SKTUK dan pihak yang selama ini menempati atau menggunakan lapak akan kita bahas dan carikan solusi bersama,” ujarnya.
Sebagai langkah antisipasi, Disdag Kota Samarinda telah menyiapkan sejumlah opsi kebijakan atau skema penataan, mulai dari rencana A, B, hingga C. Seluruh opsi tersebut akan dipresentasikan kepada Wali Kota Samarinda sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan akhir.
“Tugas kami adalah menyiapkan konsep dan opsi terbaik. Keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Bapak Wali Kota,” tegas Yama.
Terkait target waktu penyelesaian, Yama berharap proses relokasi tahap pertama dapat dirampungkan pada Januari 2026. Meski belum ada target resmi dari Wali Kota, Disdag terus mendorong agar pedagang yang telah menerima kunci lapak dapat segera memulai aktivitas jual beli.
“Kami sudah mengondisikan, pedagang yang sudah mengambil kunci dipersilakan untuk mulai berjualan. Namun di lapangan, memang belum semuanya langsung aktif karena masih dalam tahap persiapan,” katanya.
Di sisi lain, Yama memastikan kondisi harga kebutuhan pokok di Kota Samarinda hingga saat ini masih aman dan terkendali. Meskipun sempat terjadi kenaikan harga pada beberapa komoditas seperti cabai dan bawang, ia menilai ketersediaan barang di pasaran masih mencukupi dan tidak menimbulkan gejolak berarti.
“Selama stok tersedia, insya Allah tidak menjadi persoalan besar. Secara umum, kondisi harga bahan pokok di Samarinda masih relatif aman,” pungkasnya.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady ©️2026

















