KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Wakil Ketua DPRD Kota Samarinda, Celni Pita Sari, menegaskan pentingnya pengembangan sektor kebudayaan sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Hal ini disampaikannya kepada awak media usai pembahasan lintas organisasi perangkat daerah bersama Dinas Pendidikan dan Bappeda Kota Samarinda, Kamis (23/4/2026).
Dalam keterangannya, Celni mengungkapkan bahwa langkah awal yang perlu dilakukan adalah mengidentifikasi kembali potensi budaya lokal yang dimiliki Kota Samarinda. Menurutnya, inventarisasi tersebut menjadi kunci untuk menentukan arah pengembangan yang tepat, terutama dalam menjadikan budaya sebagai daya tarik wisata yang berkelanjutan.
“Langkah pertama tentu kita harus memetakan dulu potensi budaya yang ada. Dari situ baru bisa ditentukan strategi pengembangannya agar benar-benar berdampak, termasuk terhadap peningkatan PAD,” ujarnya.
Ia menilai, hingga saat ini Samarinda masih tertinggal dibandingkan sejumlah daerah lain dalam pengelolaan dan pelestarian budaya. Padahal, sektor tersebut memiliki peluang besar untuk dikembangkan, tidak hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai sumber ekonomi daerah.
Celni mencontohkan daerah seperti Kutai Kartanegara dan Kutai Timur yang dinilai telah menunjukkan komitmen kuat melalui alokasi anggaran besar untuk sektor kebudayaan. Kebijakan tersebut terbukti mampu mendorong perkembangan budaya sekaligus meningkatkan daya tarik wisata di wilayah masing-masing.
“Sementara Samarinda masih perlu berbenah, terutama dalam hal keberlanjutan program. Pembangunan fasilitas budaya tidak cukup hanya berhenti pada fisik, tetapi juga harus diiringi dengan perawatan dan pengelolaan yang konsisten,” tegasnya.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah kondisi Museum Samarinda. Meski sempat mencatat puluhan ribu kunjungan dalam satu tahun, pengelolaannya dinilai belum optimal akibat keterbatasan anggaran perawatan. Padahal, jika dikelola secara maksimal, museum tersebut berpotensi menjadi sumber pendapatan sekaligus sarana edukasi bagi masyarakat dan wisatawan.
Selain itu, Celni juga menyoroti keberadaan rumah adat seperti lamin serta kawasan budaya di sejumlah titik, termasuk di wilayah Kadri Oening, yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal. Ia mengingatkan, tanpa aktivitas rutin dan pemeliharaan yang memadai, aset-aset tersebut berisiko terbengkalai.
“Budaya ini jangan hanya dibangun lalu ditinggalkan. Harus ada kegiatan berkelanjutan yang bisa menarik masyarakat untuk datang, sehingga memberikan dampak ekonomi yang nyata,” katanya.
Di akhir keterangannya, Celni menegaskan pentingnya dukungan anggaran yang memadai agar program pengembangan sektor budaya dapat berjalan optimal. Ia berharap, ke depan kebudayaan tidak hanya menjadi simbol identitas daerah, tetapi juga mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan PAD Kota Samarinda.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















