KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Momentum peringatan Hari Keluarga Internasional dimanfaatkan Ismail Latisi untuk mengingatkan pentingnya peran keluarga dalam membentuk karakter anak di tengah derasnya perkembangan teknologi dan era digital saat ini. Menurutnya, keluarga tetap menjadi pondasi utama dalam membangun kepribadian anak sebelum mereka mengenal lingkungan luar.
Hal itu disampaikannya saat dikonfirmasi awak media di ruang kerjanya. Ia menegaskan bahwa peran ayah dan ibu tidak dapat digantikan oleh siapa pun, terutama dalam memberikan pendidikan karakter, kasih sayang, dan kedekatan emosional kepada anak.
“Kalau kita berbicara kaitannya dengan anak, maka yang tidak bisa dilepaskan adalah peran keluarga. Keluarga itu madrasah pertama, sekolah pertama bagi anak,” ujar Ismail, Selasa (12/5/2026).
Politisi Fraksi PKS tersebut menjelaskan bahwa keluarga memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan anak tumbuh dengan baik di tengah berbagai tantangan sosial yang semakin kompleks. Menurutnya, pendidikan formal hanya berfungsi sebagai pendukung, sedangkan pendidikan utama tetap berasal dari rumah.
Ia menilai kondisi masyarakat saat ini mulai menunjukkan gejala yang mengkhawatirkan, yakni munculnya fenomena fatherless dan motherless. Bukan berarti orang tua tidak ada secara fisik, melainkan hadir tanpa keterlibatan emosional dengan anak-anak mereka.
“Orang tuanya ada, bapaknya ada, ibunya ada, tapi sibuk dengan urusannya masing-masing. Di era digital ini, ayah sibuk dengan handphone-nya, ibu juga sibuk dengan handphone-nya, begitu juga anak. Akhirnya peran keluarga terabaikan,” katanya.
Menurut Ismail, situasi tersebut menjadi “lampu merah” bagi masyarakat karena dapat memicu berbagai persoalan sosial di kalangan anak dan remaja. Minimnya perhatian dan kasih sayang dari orang tua, kata dia, sering kali membuat anak mencari pelarian di luar rumah.
Ia menyebut anak yang tidak mendapatkan cinta dan perhatian dari keluarga cenderung mencari pengakuan dari lingkungan pergaulan. Jika berada di lingkungan yang positif, hal itu mungkin tidak menimbulkan masalah. Namun, tidak sedikit anak yang akhirnya terjerumus ke dalam perilaku negatif.
“Ketika anak tidak mendapatkan cinta dari orang tuanya, akhirnya dia mencari cinta di luar. Kalau yang didapat baik, alhamdulillah. Tapi banyak juga yang akhirnya terpengaruh hal-hal negatif,” ucapnya.
Lebih lanjut, Ismail mengungkapkan bahwa kurangnya kedekatan emosional dalam keluarga dapat menjadi salah satu penyebab munculnya berbagai persoalan sosial, mulai dari bullying, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, hingga tindak kriminalitas di kalangan anak muda.
Karena itu, ia mengajak para orang tua untuk mulai membangun kembali komunikasi yang hangat dengan anak-anak mereka. Menurutnya, kehadiran orang tua tidak cukup hanya secara fisik, tetapi juga harus hadir secara psikologis dan emosional.
“Sekolah itu hanya fasilitator yang membantu. Peran paling utama tetap ada di keluarga dan orang tua. Jangan sampai ada anak-anak yang terabaikan, tidak mendapatkan cinta dari orang tuanya padahal orang tuanya ada,” tegasnya.
Ia berharap peringatan Hari Keluarga Internasional tidak hanya menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum refleksi bagi setiap keluarga agar lebih memperkuat hubungan antara orang tua dan anak. Dengan keluarga yang harmonis dan penuh perhatian, Ismail meyakini berbagai persoalan sosial di masyarakat dapat dicegah sejak dini.
ADV Sekretariat DPRD Kota Samarinda Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















