KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Waktu persiapan yang hanya satu bulan tidak menyurutkan semangat Sanggar Pilar Samarinda untuk menghadirkan pertunjukan drama musikal Hikayat Balo Lipa. Karya yang mengangkat pertemuan budaya Kutai dan Bugis tersebut ditampilkan dalam gelaran Gema Gawi Gau Fest 2026 di Kampung Ketupat Samarinda, Minggu (13/9/2026) malam.
Pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya Sanggar Pilar menghadirkan seni pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mengenalkan kekayaan budaya lokal kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Ketua Pelaksana Gema Gawi Gau Fest 2026, Remiza, yang turut tampil sebagai karakter bala atau perantau Bugis, mengatakan kegiatan tersebut berawal dari keikutsertaan Sanggar Pilar dalam program Raya Budaya Etam, sebuah program Kementerian Kebudayaan yang berkolaborasi dengan Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Timur, Hetifah.
Menurut Remiza, Sanggar Pilar harus melalui sejumlah tahapan sebelum memperoleh dukungan pendanaan untuk merealisasikan kegiatan tersebut. Proses dimulai dari pendaftaran hingga presentasi program yang diajukan.
“Alhamdulillah, kami mendapat dukungan setelah melalui proses presentasi,” ujar Remiza.
Setelah mendapatkan dukungan tersebut, Sanggar Pilar kemudian mengembangkan konsep pertunjukan dengan mengangkat Hikayat Balo Lipa dalam format drama musikal. Cerita tersebut dipilih karena menggambarkan akulturasi budaya Kutai dan Bugis yang berkembang di Samarinda.
“Kami mengangkat budaya Kutai dan Bugis dalam satu cerita drama musikal,” jelasnya.
Latihan Empat hingga Lima Kali Sepekan
Di balik penampilan di atas panggung, para pemain harus menjalani proses latihan yang cukup intensif. Dengan waktu persiapan sekitar satu bulan, latihan dilakukan empat hingga lima kali dalam sepekan.
Materi latihan tidak hanya berfokus pada kemampuan akting. Para pemain juga dituntut menguasai vokal dan gerakan tari agar mampu menyesuaikan diri dengan konsep drama musikal yang dipentaskan.
“Kami latihan empat sampai lima kali seminggu, mulai dari akting, menari hingga menyanyi,” ungkap Remiza.
Tantangan semakin terasa karena sebagian pemain sebelumnya belum memiliki kemampuan menari. Namun, kondisi tersebut tidak menjadi penghalang. Para pemain berlatih bersama dengan arahan koreografer hingga mampu mengikuti rangkaian gerakan yang dibutuhkan dalam pertunjukan.
“Sebagian besar belum bisa menari, jadi kami latihan bersama koreografer,” katanya.
Menurut Remiza, proses latihan tersebut justru menjadi pengalaman berharga bagi para anggota sanggar. Mereka tidak hanya belajar seni pertunjukan, tetapi juga membangun kerja sama, kedisiplinan, dan keberanian untuk mencoba kemampuan baru.
Berharap Menjadi Agenda Tahunan
Remiza berharap dukungan terhadap kegiatan seni dan kebudayaan yang melibatkan generasi muda dapat terus berlanjut. Menurutnya, ruang berkarya seperti Gema Gawi Gau Fest penting untuk memberikan kesempatan kepada anak muda Samarinda dalam mengembangkan kreativitas sekaligus memperkenalkan budaya daerah.
Ia berharap program serupa dapat menjadi agenda tahunan sehingga semakin banyak generasi muda yang terlibat dalam kegiatan seni dan kebudayaan.
“Semoga kegiatan ini bisa menjadi agenda tahunan dan terus memberdayakan anak-anak muda,” harapnya.
Ke depan, Remiza berharap kegiatan seni dan budaya dapat dikemas semakin menarik serta memberikan ruang yang lebih luas bagi komunitas dan generasi muda. Dengan demikian, budaya lokal tidak hanya tetap terjaga, tetapi juga dapat terus hidup melalui kreativitas generasi penerus.
Pertunjukan Hikayat Balo Lipa menjadi salah satu contoh bagaimana cerita dan budaya masa lalu dapat dihadirkan melalui kemasan yang lebih segar. Melalui drama, musik, tari, dan vokal, Sanggar Pilar berupaya menjadikan panggung seni sebagai ruang pertemuan sekaligus perayaan keberagaman budaya di Samarinda.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















