Menu

Mode Gelap
Uji Coba Perlinsos Digital Dongkrak Aktivasi IKD di Balikpapan hingga 15 Persen Koperasi Merah Putih di Balikpapan Utara Mulai Bergerak, Dorong Ekonomi Warga Disnaker Balikpapan Bidik Penyerapan Tenaga Kerja JMF 2026 Tembus di Atas 50 Persen Dinsos Samarinda: Serapan Anggaran 2026 Capai 31 Persen, Kemiskinan Turun Jadi 3,45 Persen Komisi IV DPRD Samarinda Minta Dinsos Percepat Pembaruan Data Sosial Demi Bantuan Tepat Sasaran

SENI BUDAYA · 24 Sep 2025 17:15 WITA ·

Ritual Beluluh, Prosesi Penyucian Sultan Dalam Rangkaian Erau Adat Kutai


 Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI, Aji Muhammad Arifin, saat melaksanakan ritual Beluluh pada sore hari. (Foto. Dok: Awal) Perbesar

Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI, Aji Muhammad Arifin, saat melaksanakan ritual Beluluh pada sore hari. (Foto. Dok: Awal)

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Selama perayaan Erau Adat Pelas Benua, setiap hari digelar sebuah ritual khusus di area depan Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura atau yang kini dikenal sebagai Museum Mulawarman.

Ritual sakral ini disebut Beluluh, yakni prosesi penyucian bagi Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura ke-XXI, Aji Muhammad Arifin. Tujuannya untuk membersihkan Sultan dari berbagai unsur kejahatan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat.

Biasanya dilaksanakan pada sore hari, prosesi dimulai dengan Sultan yang didudukkan di atas tilam kasturi sebagai tahap pembukaan. Selanjutnya, Sultan bangkit dan menaiki balai bambu dengan terlebih dahulu memijak pusaka batu tijakan.

Sultan kemudian duduk di bagian tertinggi balai, tepat di bawah ikatan daun beringin (rendu), dan dipayungi selembar kain kuning bernama kirab tuhing. Setelah itu, prosesi tepong tawar dilaksanakan. Dalam tahap ini, Belian Bini memercikkan air kembang ke sekeliling Sultan. Sultan lalu mengusap kepalanya dengan air tersebut, sebelum Belian Bini menaburkan beras kuning sebagai simbol doa dan restu.

Usai tepong tawar, ritual berlanjut dengan prosesi menarik ketikai lepas, yakni anyaman daun kelapa yang dirancang agar terurai saat kedua ujungnya ditarik. Dalam prosesi ini, Sultan memegang salah satu ujung, sementara ujung lainnya ditarik oleh tamu kehormatan yang ditunjuk khusus, biasanya pejabat daerah atau tokoh tertentu. Prosesi ini sekaligus menjadi penutup dari rangkaian ritual Beluluh.

Perlu diketahui, nama Beluluh berasal dari gabungan kata buluh yang berarti batang bambu dan luluh yang berarti musnah. Penamaan ini merujuk pada balai bambu bertingkat tiga yang digunakan sebagai singgasana Sultan selama ritual. Balai tersebut diletakkan di atas lukisan tambak karang, dengan kaki-kakinya dihiasi daun kelapa. Pada setiap sudutnya, ditempatkan sesajian bernama peduduk.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, segala unsur jahat yang mengitari Sultan akan diluluhkan di atas balai bambu tersebut, sehingga Beluluh bukan hanya ritual adat, melainkan juga simbol penyucian dan perlindungan bagi Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 142 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Diguyur Hujan, Festival Budaya Dayak Kenyah Tetap Dipadati Ribuan Pengunjung

29 Juni 2026 - 10:02 WITA

a127

Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 Diserbu Pengunjung, Panitia Dorong Peningkatan Fasilitas

29 Juni 2026 - 09:00 WITA

a126

Festival Budaya Dayak Kenyah Ditutup Meriah, Ketua Adat Pampang Bangga Antusiasme Masyarakat

29 Juni 2026 - 08:00 WITA

a125

Tari Kembar 4 Meriahkan Festival Budaya Pampang, Simbol Harmoni Dayak dan Jawa di Samarinda

25 Juni 2026 - 19:00 WITA

a99

Festival Budaya Dayak Kenyah Jadi Sarana Pelestarian Tradisi dan Penggerak Ekonomi Masyarakat Pampang

25 Juni 2026 - 16:00 WITA

a96

HUT ke-53 Desa Budaya Pampang, Andi Harun Ajak Generasi Muda Jaga Warisan Budaya dan Kelestarian Alam

25 Juni 2026 - 13:00 WITA

a93
Trending di BERITA DAERAH