Menu ✖

Mode Gelap
Lantik Pejabat Administrator dan Pengawas, Bupati Kukar Minta Adaptasi Cepat dan Pelayanan Publik Ditingkatkan Mahakam Investment Forum 2026 Dihelat di IKN, Buka Peluang Investasi dan Kerja Sama Internasional DPRD Samarinda Dorong Pengelolaan Pedagang Polder Air Hitam Lebih Tertata, Jumlahnya Hampir 200 Orang Andi Satya Resmi Buka Turnamen Galatua U40, 12 Tim Ramaikan HUT ke-62 Golkar di Samarinda Meriahkan HUT ke-62, Golkar Samarinda Gelar Turnamen Galatua U40 Diikuti 12 Tim

SENI BUDAYA · 26 Sep 2025 15:15 WITA ·

Tari Dewa Memanah, Ritual Sakral dalam Erau Adat Kutai


 Tari Dewa Memanah yang dibawakan penari perempuan, Dewa Belian, pada malam ritual sakral Bepelas Sultan. (Foto. Dok: Awal) Perbesar

Tari Dewa Memanah yang dibawakan penari perempuan, Dewa Belian, pada malam ritual sakral Bepelas Sultan. (Foto. Dok: Awal)

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Dalam setiap rangkaian Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura, selalu hadir satu tarian sakral yang menjadi bagian penting dari ritual Bepelas, yakni Tari Dewa Memanah.

Tarian ini merupakan warisan sakral Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Gerakannya menggambarkan sosok Dewa yang melepaskan panah ke empat penjuru mata angin sebagai simbol untuk mengusir gangguan dari dimensi lain, memohon keselamatan, serta restu agar jalannya ritual berlangsung lancar.

lip0011e e

Tari Dewa Memanah yang dibawakan penari perempuan, Dewa Belian, pada malam ritual sakral Bepelas Sultan. (Foto. Dok: Awal)

Tari Dewa Memanah dibawakan oleh penari perempuan yang disebut Dewa Belian. Dalam prosesi, penari menggunakan busur dan anak panah berujung tujuh cabang api yang melambangkan kekuatan dan perlindungan. Panah dilepaskan ke arah hulu sungai, muara sungai, matahari terbit, dan matahari terbenam. Setiap gerakan mengandung makna kepahlawanan, ketekunan, serta perlindungan bagi masyarakat.

Suasana sakral semakin terasa ketika tarian diiringi alunan gamelan. Dalam beberapa prosesi, iringan dapat berupa lantunan mantra dan ritme tubuh, menambah kekhusyukan jalannya ritual.

Lebih dari sekadar ritual pengusir marabahaya, Tari Dewa Memanah juga dimaknai sebagai upaya menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, serta harmoni antara alam dengan Sang Pencipta.

Melalui festival Erau yang rutin digelar, Tari Dewa Memanah terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi muda. Hal ini menjadi bagian penting dari upaya menjaga warisan budaya tanah Kutai agar tetap hidup di tengah masyarakat.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 263 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

BeSeprah Erau Adat Kutai 2026, Tradisi Jamuan Rakyat yang Pererat Kebersamaan

24 September 2026 - 13:00 WITA

k95

Erau 2026 Resmi Dibuka, Bupati Kukar Ajak Masyarakat Jaga Warisan Budaya dan Kebersamaan

20 September 2026 - 12:00 WITA

k48

Tiang Ayu Ditegakkan, Tandai Dimulainya Erau Adat Kutai 2026

20 September 2026 - 11:00 WITA

k47

Merangin, Ritual Sakral Kesultanan Kutai Menandai Awal Perjalanan Menuju Erau

19 September 2026 - 09:00 WITA

k45

Menjamu Benua Digelar, Kesultanan Kutai Sambut Erau 2026

17 September 2026 - 20:00 WITA

k33

Beluluh Sultan Buka Jalan Menuju Semarak Erau Adat Kutai 2026

17 September 2026 - 14:00 WITA

k26
Trending di BERITA DAERAH