KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA — Di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat, tradisi sastra lisan Kutai kini berada di ambang kepunahan. Generasi muda semakin jarang mendengar, apalagi mempelajari, seni tutur klasik seperti Tarsul, Dandeng, dan Ladong yang selama ratusan tahun menjadi penanda identitas masyarakat Kutai.
Menurunnya minat terhadap seni lisan tidak hanya berdampak pada berkurangnya pementasan, tetapi juga mengancam hilangnya nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap syair dan tuturannya. Kondisi ini membuat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara mengambil langkah serius untuk menjaga agar warisan tradisi lisan tidak sekadar menjadi catatan sejarah.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, menegaskan bahwa sastra lisan memiliki peran yang jauh melampaui hiburan. Tradisi tutur merupakan sarana penyampaian pesan moral, petuah leluhur, hingga gambaran cara hidup masyarakat Kutai tempo dulu.
“Kalau tradisi lisan hilang, yang hilang bukan hanya seni. Kita kehilangan cara pandang leluhur, kehilangan identitas yang membentuk karakter masyarakat kita sejak dulu,” ujar Puji, Jum’at (28/11/2025).
Ia menilai bahwa generasi saat ini hidup dalam ekosistem digital yang membuat mereka lebih akrab dengan budaya populer global dibanding tradisi daerah. Namun menurut Puji, tantangan tersebut bukan alasan untuk menyerah, melainkan momentum untuk berinovasi dalam cara memperkenalkan kembali tradisi tutur kepada generasi berikutnya.
“Sastra lisan harus dipulihkan dan disesuaikan dengan konteks zaman. Bukan diubah, tapi dikemas lebih dekat dengan cara anak-anak mengonsumsi konten,” tambahnya.
Selain adaptasi media, Disdikbud Kukar juga melihat pentingnya peran keluarga dan komunitas budaya sebagai penjaga living tradition. Tanpa keterlibatan masyarakat, pelestarian sastra lisan akan bergerak lambat dan kehilangan kesinambungan antargenerasi.
Puji menegaskan bahwa pelestarian tradisi tutur merupakan bagian dari upaya merawat memori kolektif masyarakat, terutama di tengah derasnya arus pendatang baru saat Ibu Kota Nusantara (IKN) berkembang di wilayah sekitar Kukar.
Menurutnya, kearifan lokal dalam sastra lisan bisa menjadi benteng budaya sekaligus identitas yang memperkuat karakter masyarakat di tengah perubahan demografis yang cepat.
Ia berharap pelestarian sastra lisan tidak hanya menjadi tugas pemerintah, tetapi gerakan bersama agar warisan leluhur tetap hidup, dipahami, dan dibanggakan oleh generasi muda.
Dengan tekad itu, Disdikbud Kukar terus mendorong pemulihan tradisi lisan sebagai bagian penting dari warisan budaya yang wajib dijaga agar tidak hilang dari kehidupan masyarakat modern.
ADV Disdikbud Kukar Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2025

















