KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai mengarahkan strategi pelestarian budaya ke bidang digital. Langkah ini dilakukan sebagai respons terhadap perubahan perilaku generasi muda yang kini lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial dan platform daring.
Kabid Kebudayaan Disdikbud Kukar, Puji Utomo, mengatakan bahwa pihaknya kini fokus memperkuat kemampuan literasi digital generasi muda untuk memproduksi konten budaya yang kreatif, informatif, dan relevan dengan perkembangan zaman. Program ini menjadi salah satu terobosan untuk memastikan nilai-nilai budaya Kutai tetap hidup di ruang digital.
“Pelestarian budaya tidak bisa hanya dilakukan lewat panggung dan acara adat. Kita harus hadir di platform digital agar budaya Kutai bisa dikenal lebih luas oleh anak muda,” ujar Puji di Tenggarong, Jum’at (28/11/2025).
Menurutnya, para peserta yang terlibat dalam pembinaan kebudayaan akan dilatih membuat berbagai jenis konten, mulai dari video pendek, infografis sejarah, dokumentasi kesenian, hingga storytelling budaya di media sosial. Pendekatan ini diharapkan dapat menarik minat Gen Z yang lebih dekat dengan teknologi.
“Kami ingin anak muda menjadi kreator budaya. Bukan sekadar penonton atau pewaris pasif, tapi benar-benar aktif memproduksi dan menyebarkan nilai-nilai lokal,” jelasnya.
Puji menambahkan, upaya digitalisasi budaya ini juga menjadi strategi untuk menjawab tantangan kurangnya referensi budaya lokal di internet. Selama ini, sebagian besar informasi mengenai tradisi di Kukar masih tersimpan dalam bentuk arsip fisik, yang sulit dijangkau generasi muda.
“Banyak cerita dan pengetahuan budaya yang hanya tersimpan di buku atau ingatan para tetua adat. Kalau tidak didigitalisasi, kita berisiko kehilangan warisan itu,” tegasnya.
Selain pelatihan produksi konten, Disdikbud Kukar juga tengah merancang portal budaya daring yang akan menjadi pusat informasi sejarah, kesenian, dan adat istiadat Kutai. Portal tersebut nantinya dapat diakses oleh pelajar, peneliti, maupun masyarakat umum.
Ia menyebut, kolaborasi dengan komunitas kreatif dan sekolah menjadi kunci keberhasilan program ini. Pengembangan konten budaya harus dilakukan secara kolektif agar informasi yang dihasilkan tetap akurat namun dikemas dengan cara yang menarik.
“Kolaborasi ini penting untuk memastikan nilai budaya tetap autentik, sambil tetap bisa diterima generasi muda,” ujar Puji.
Ke depan, Disdikbud Kukar menargetkan lahirnya ratusan kreator muda yang mampu mempromosikan budaya Kutai melalui platform digital. Dengan begitu, pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada acara seremonial, tetapi benar-benar hadir dalam keseharian masyarakat era modern.
“Yang kita jaga bukan hanya bentuk seni dan tradisinya, tapi juga cara agar budaya itu tetap hidup di tengah masyarakat yang terus berubah,” tutupnya.
ADV Disdikbud Kukar Pewarta : Indirwan Editor : Fairuzzabady @2025

















