Menu

Mode Gelap
Koalisi Damai Gelar Editor Meeting untuk Perkuat Tata Kelola Digital Berbasis HAM Wakapolri Luncurkan Program Pelayanan Pengaduan Reserse Solar Nusantara Batch 1 Jadi Tonggak Transformasi Pendidikan Energi Terbarukan Siap Sambut Lonjakan Wisata, IKN Perketat Standar Keamanan Produk Pangan Menjelang Nataru IKN Resmikan Kelompok Alumni “Comdif Digital Nusantara” dan Tutup Pelatihan Coding Mama & Difabel Batch 5

SENI BUDAYA · 6 Okt 2023 14:49 WITA ·

Belimbur Puncak Upacara Erau di Tanah Kutai


 Belimbur merupakan tradisi saling menyiramkan air kepada sesama anggota masyarakat yang merupakan bagian dari ritual penutup Erau Adat Pelas Benua.(Foto : Awal) Perbesar

Belimbur merupakan tradisi saling menyiramkan air kepada sesama anggota masyarakat yang merupakan bagian dari ritual penutup Erau Adat Pelas Benua.(Foto : Awal)

Kumalanews – Berbarengan dengan rombongan utusan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang mengantarkan Naga Bini dan Naga Laki ke Kutai Lama, diadakan serangkaian ritual lainnya di depan Keraton Kesultanan Kutai.

Rangkaian ritual ini dimulai dengan beumban, begorok, rangga titi, dan berakhir dengan belimbur. Belimbur tidak hanya menjadi ritual terakhir dari rangkaian ini, tetapi juga menjadi puncak rangkaian.

Dalam ritual ini, masyarakat Kutai larut dalam suka cita dan keceriaan sambil berbasah-basahan. Setiap sudut jalan di Kutai pada sore itu basah dengan siraman air dari berbagai lapisan masyarakat.

Belimbur merupakan tradisi saling menyiramkan air kepada sesama anggota masyarakat yang merupakan bagian dari ritual penutup Erau Adat Pelas Benua. Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas kelancaran pelaksanaan Erau.

M32T 93 scaled

Belimbur merupakan tradisi saling menyiramkan air kepada sesama anggota masyarakat yang merupakan bagian dari ritual penutup Erau Adat Pelas Benua.(Foto : Awal)

Selain itu, belimbur memiliki maksud filosofis sebagai sarana pembersihan diri dari sifat buruk dan unsur kejahatan. Air yang menjadi sumber kehidupan dipercaya sebagai media untuk melunturkan sifat buruk manusia.

Ritual ini dilakukan setelah upacara rangga titi berakhir. Dimulainya ritual ini ditandai dengan dipercikkannya air tuli oleh Sultan kepada para hadirin. Setelahnya, masyarakat saling menyiramkan air kepada sesamanya. Ritual ini terbuka untuk masyarakat umum, kecuali orangtua yang membawa anak di bawah umur serta para lansia.

Pada masa sekarang, tradisi ini berkembang menjadi festival penuh suka cita. Selain memiliki nilai filosofis, ajang ini juga menjadi sarana menjalin keakraban antarmasyarakat dalam suasana yang jauh dari tata krama formal.

Seiring perkembangan zaman, masyarakat kini tidak sekadar menyiram secara harfiah. Ada beberapa di antara mereka yang sampai menggunakan media seperti pompa pemadam kebakaran atau membungkus air dalam kantong-kantong plastik. Bagi para remaja, festival ini menjadi ajang perang air antar sesamanya yang hanya terjadi setahun sekali.(adm_alf/ik)

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Petala Borneo Tutup Malam Apresiasi OIKN dengan Penampilan Memukau dan Ajak Penonton Menari Jepen

9 Desember 2025 - 19:00 WITA

lip028i

Rayakan Ragam Kesenian Nusantara:Otorita IKN Gelar Malam Apresiasi Insan Budaya, Pariwisata, dan Ekraf

7 Desember 2025 - 13:15 WITA

WhatsApp Image 2025 12 07 at 11.44.16

Diskusi Budaya PKKB: Menguatkan Tradisi, Meneguhkan Jati Diri di Era Perubahan

7 Desember 2025 - 13:03 WITA

WhatsApp Image 2025 12 07 at 03.48.01

FPPI DPC Samarinda Gelar Lomba Tari Kreasi Nusantara di Museum Kota Samarinda

6 Desember 2025 - 19:45 WITA

WhatsApp Image 2025 12 06 at 19.35.22

Pameran Kebudayaan Bilah Nusantara 2025 Resmi Dibuka, Angkat Spirit Pelestarian Tradisi dan Pemberdayaan Perempuan

5 Desember 2025 - 18:45 WITA

dprd smd 75

Pameran Kebudayaan Bilah Nusantara 2025

4 Desember 2025 - 13:30 WITA

WhatsApp Image 2025 12 04 at 06.32.18
Trending di BERITA DAERAH