Menu

Mode Gelap
DPRD Samarinda Minta Jalur Afirmasi SPMB Lebih Fleksibel, Ronal: Jangan Hanya Bergantung pada Data Desil Disdikbud Samarinda Tegaskan Jalur Afirmasi SPMB 2026 Berdasarkan Data Desil Nasional, SKTM Tetap Jadi Solusi UMKM Kreatif Weekend Fair 2026 Hadir di Samarinda, Belanja Murah hingga Hiburan Seru Menanti Dari Petani hingga Legislator: Arbain Jadikan Politik Sebagai Jalan Pengabdian 23 Tahun Mengabdi, Kadisdikbud Kukar Raih Satyalancana Karya Satya: “Ini Amanah, Bukan Sekadar Penghargaan”

BERITA DAERAH · 30 Mei 2025 11:15 WITA ·

Olah Gubang, Mengarungi Musik Tradisi dari Pedalaman Kutai


 Olah Gubang, Mengarungi Musik Tradisi dari Pedalaman Kutai Perbesar

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Dari pedalaman Kutai Kartanegara (Kukar), lahir sebuah komunitas musik yang menawarkan warna berbeda dalam lanskap kesenian Kalimantan Timur (Kaltim). Bernama Olah Gubang, kelompok ini merupakan manifestasi dari semangat empat pemuda Tenggarong yang ingin memberi ruang ekspresi bagi seni musik tradisi yang mereka cintai.

Berawal dari divisi musik Sanggar Tari Gubang di bawah naungan Yayasan Gubang, Achmad Fauzi (akrab disapa Ozi) bersama Jesdi Maulana A Noya, Ilham Saputra, dan Renaldy Pratama, menggagas Olah Gubang sebagai identitas terpisah dari sanggar tari yang menaunginya.

“Dulu kami tampil main musik, tapi publik menyangka kami pengiring tari. Padahal kami tampil sebagai musisi. Dari situlah muncul ide dan gagasan untuk memberi nama khusus,” ujar pendiri Olah Gubang, Achmad Fauzi, Jumat (30/5/2025).

Nama Olah Gubang berasal dari Bahasa daerah Kutai. Gubang berarti Perahu, sedangkan Olah merujuk pada Dayung.  Filosofi ini menggambarkan perjalanan bersama yang tidak akan sampai ke tujuan tanpa usaha dan kolaborasi

Dalam karya-karyanya, Olah Gubang tidak membatasi diri pada satu genre. Mereka menyebut musik mereka sebagai alternatif tradisi, menggabungkan alat musik etnik seperti gambus, suling dan sape’ dengan instrumen modern.

Lebih dari sekadar komunitas musik, Olah Gubang telah menjadi rumah kreatif yang memberikan ruang eksplorasi bagi anak-anak muda, sekaligus menjadi penggerak pelestarian budaya lokal.

“Kami bukan hanya main musik, kami belajar, berdiskusi, bahkan punya kelas yang kami sebut ‘Ngaji Seni’,” pungkas Fauzi.

 

Pewarta : M. Zailany
Editor  : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 139 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

DPRD Samarinda Minta Jalur Afirmasi SPMB Lebih Fleksibel, Ronal: Jangan Hanya Bergantung pada Data Desil

19 Juni 2026 - 17:00 WITA

a25

Disdikbud Samarinda Tegaskan Jalur Afirmasi SPMB 2026 Berdasarkan Data Desil Nasional, SKTM Tetap Jadi Solusi

19 Juni 2026 - 16:00 WITA

a24

UMKM Kreatif Weekend Fair 2026 Hadir di Samarinda, Belanja Murah hingga Hiburan Seru Menanti

19 Juni 2026 - 15:00 WITA

a23

Dari Petani hingga Legislator: Arbain Jadikan Politik Sebagai Jalan Pengabdian

19 Juni 2026 - 14:00 WITA

a22

23 Tahun Mengabdi, Kadisdikbud Kukar Raih Satyalancana Karya Satya: “Ini Amanah, Bukan Sekadar Penghargaan”

19 Juni 2026 - 13:00 WITA

a21

Akademisi Nilai Raperda Kebakaran Samarinda Jadi Payung Hukum Strategis dan Perkuat Sistem Penyelamatan

18 Juni 2026 - 21:00 WITA

a20
Trending di BERITA DAERAH