Menu ✖

Mode Gelap
DPRD Kukar Kejar Pembahasan Perubahan APBD 2026, Ditargetkan Tuntas 30 September KML Golongan Siaga Digelar, Dispora Kukar Dorong Penguatan Kompetensi Pembina Pramuka DLHK Kukar Dorong TPS 3R, Sampah Diolah Jadi Kompos hingga Produk Bernilai Ekonomi Raperda Perubahan APBD Kukar 2026 Masuki Tahap Akhir Pembahasan Pemkot Balikpapan Efisiensi Hampir Rp100 Miliar, Tukin hingga Perjalanan Dinas Dipangkas

SENI BUDAYA · 29 Sep 2025 10:15 WITA ·

Hari Ketujuh Erau, Ritual Mengulur Naga Jadi Puncak Kemeriahan


 Prosesi Ngulur Naga, yakni Naga Laki dan Naga Bini, diarak oleh rombongan utusan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar. Perbesar

Prosesi Ngulur Naga, yakni Naga Laki dan Naga Bini, diarak oleh rombongan utusan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar.

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Hari ketujuh Festival Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi puncak dari seluruh rangkaian prosesi adat. Sejak pagi hingga siang hari, berbagai ritual digelar, salah satunya yang paling sakral adalah Mengulur Naga. Pada prosesi ini, sepasang replika naga diarak menggunakan perahu dari Keraton Kutai menuju Kutai Lama, tempat asal muasal legenda sang naga, Minggu (28/9/2025).

Upacara mengulur naga erat kaitannya dengan legenda Putri Karang Melenu, permaisuri Raja pertama Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Keduanya dipercaya bukan berasal dari manusia biasa, melainkan muncul melalui peristiwa gaib yang hingga kini diwariskan dalam legenda masyarakat Kutai. Dikisahkan, Aji Batara Agung Dewa Sakti ditemukan sebagai bayi di atas Batu Raga Mas dengan tangan kanan menggenggam telur ayam dan tangan kiri memegang keris emas. Sementara itu, Putri Karang Melenu diyakini muncul dari pusaran Sungai Mahakam, terbaring di atas gong yang dijunjung seekor naga.

Replika naga dalam upacara ini melambangkan naga legendaris pengiring Putri Karang Melenu. Panjangnya mencapai sekitar 31,5 meter, dengan kepala dan ekor terbuat dari kayu, badan dari rangka rotan dan bambu yang dibalut kain kuning, serta sisik yang dihias kain perca warna-warni. Kedua naga, Naga Laki dan Naga Bini, dibuat sebelum Festival Erau berlangsung, lalu disemayamkan di kedua sayap Keraton Kutai (Museum Mulawarman).

Dalam prosesi, kedua naga diarak menggunakan kapal dari Keraton menuju Kutai Lama. Sepanjang perjalanan, kapal singgah di sejumlah titik untuk memberi kesempatan dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) melaksanakan komunikasi spiritual dengan dunia gaib. Setibanya di Jaitan Layar, Kutai Lama, kapal berputar tujuh kali sebelum merapat ke tepian.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan pemisahan bagian kepala dan ekor naga dari tubuhnya. Kepala dan ekor dibawa kembali ke Keraton sebagai pusaka untuk Festival Erau di tahun-tahun berikutnya, sementara badan naga diturunkan ke Sungai Mahakam. Masyarakat pun berlomba mengambil bagian sisik naga, yang diyakini memiliki kekuatan membawa keberkahan serta mewujudkan harapan bagi pemiliknya.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 97 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

BeSeprah Erau Adat Kutai 2026, Tradisi Jamuan Rakyat yang Pererat Kebersamaan

24 September 2026 - 13:00 WITA

k95

Erau 2026 Resmi Dibuka, Bupati Kukar Ajak Masyarakat Jaga Warisan Budaya dan Kebersamaan

20 September 2026 - 12:00 WITA

k48

Tiang Ayu Ditegakkan, Tandai Dimulainya Erau Adat Kutai 2026

20 September 2026 - 11:00 WITA

k47

Merangin, Ritual Sakral Kesultanan Kutai Menandai Awal Perjalanan Menuju Erau

19 September 2026 - 09:00 WITA

k45

Menjamu Benua Digelar, Kesultanan Kutai Sambut Erau 2026

17 September 2026 - 20:00 WITA

k33

Beluluh Sultan Buka Jalan Menuju Semarak Erau Adat Kutai 2026

17 September 2026 - 14:00 WITA

k26
Trending di BERITA DAERAH