Menu

Mode Gelap
HUT Ke-81 RI, DPRD Samarinda Siapkan Rangkaian Kegiatan untuk Masyarakat DPRD Samarinda Perjelas Aturan Serah Terima PSU Perumahan Bagi Hasil Pajak Samarinda Baru 35,69 Persen, DPRD Minta Pemprov Buka Data Raperda Pemakaman Umum Samarinda Masuk Pembahasan Kedua, Ditargetkan Segera Finalisasi Pemkot Balikpapan Perketat Pengawasan Truk, Pos Dishub Diaktifkan hingga Malam

SENI BUDAYA · 29 Sep 2025 10:15 WITA ·

Hari Ketujuh Erau, Ritual Mengulur Naga Jadi Puncak Kemeriahan


 Prosesi Ngulur Naga, yakni Naga Laki dan Naga Bini, diarak oleh rombongan utusan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar. Perbesar

Prosesi Ngulur Naga, yakni Naga Laki dan Naga Bini, diarak oleh rombongan utusan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menuju Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kukar.

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Hari ketujuh Festival Erau Adat Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi puncak dari seluruh rangkaian prosesi adat. Sejak pagi hingga siang hari, berbagai ritual digelar, salah satunya yang paling sakral adalah Mengulur Naga. Pada prosesi ini, sepasang replika naga diarak menggunakan perahu dari Keraton Kutai menuju Kutai Lama, tempat asal muasal legenda sang naga, Minggu (28/9/2025).

Upacara mengulur naga erat kaitannya dengan legenda Putri Karang Melenu, permaisuri Raja pertama Kutai, Aji Batara Agung Dewa Sakti. Keduanya dipercaya bukan berasal dari manusia biasa, melainkan muncul melalui peristiwa gaib yang hingga kini diwariskan dalam legenda masyarakat Kutai. Dikisahkan, Aji Batara Agung Dewa Sakti ditemukan sebagai bayi di atas Batu Raga Mas dengan tangan kanan menggenggam telur ayam dan tangan kiri memegang keris emas. Sementara itu, Putri Karang Melenu diyakini muncul dari pusaran Sungai Mahakam, terbaring di atas gong yang dijunjung seekor naga.

Replika naga dalam upacara ini melambangkan naga legendaris pengiring Putri Karang Melenu. Panjangnya mencapai sekitar 31,5 meter, dengan kepala dan ekor terbuat dari kayu, badan dari rangka rotan dan bambu yang dibalut kain kuning, serta sisik yang dihias kain perca warna-warni. Kedua naga, Naga Laki dan Naga Bini, dibuat sebelum Festival Erau berlangsung, lalu disemayamkan di kedua sayap Keraton Kutai (Museum Mulawarman).

Dalam prosesi, kedua naga diarak menggunakan kapal dari Keraton menuju Kutai Lama. Sepanjang perjalanan, kapal singgah di sejumlah titik untuk memberi kesempatan dewa (wanita pengabdi ritual) dan belian (pria pengabdi ritual) melaksanakan komunikasi spiritual dengan dunia gaib. Setibanya di Jaitan Layar, Kutai Lama, kapal berputar tujuh kali sebelum merapat ke tepian.

Ritual kemudian dilanjutkan dengan pemisahan bagian kepala dan ekor naga dari tubuhnya. Kepala dan ekor dibawa kembali ke Keraton sebagai pusaka untuk Festival Erau di tahun-tahun berikutnya, sementara badan naga diturunkan ke Sungai Mahakam. Masyarakat pun berlomba mengambil bagian sisik naga, yang diyakini memiliki kekuatan membawa keberkahan serta mewujudkan harapan bagi pemiliknya.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 85 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Jepen Street Dance Hidupkan Warisan Budaya Kaltim di Tengah CFD Samarinda

9 Agustus 2026 - 13:00 WITA

f11

Petala Borneo Guncang IDEF 2026, Ajak Penonton Dunia Datang ke Erau Kukar

25 Juli 2026 - 17:00 WITA

d56

Diguyur Hujan, Festival Budaya Dayak Kenyah Tetap Dipadati Ribuan Pengunjung

29 Juni 2026 - 10:02 WITA

a127

Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 Diserbu Pengunjung, Panitia Dorong Peningkatan Fasilitas

29 Juni 2026 - 09:00 WITA

a126

Festival Budaya Dayak Kenyah Ditutup Meriah, Ketua Adat Pampang Bangga Antusiasme Masyarakat

29 Juni 2026 - 08:00 WITA

a125

Tari Kembar 4 Meriahkan Festival Budaya Pampang, Simbol Harmoni Dayak dan Jawa di Samarinda

25 Juni 2026 - 19:00 WITA

a99
Trending di BERITA DAERAH