KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Musim kemarau mulai berdampak terhadap produktivitas sektor pertanian di Kecamatan Kota Bangun Darat, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur. Keterbatasan pasokan air untuk persawahan serta kendala dalam pembukaan lahan menjadi tantangan bagi petani dalam mempertahankan hasil produksi.
Camat Kota Bangun Darat, Julkifli, mengatakan sektor pertanian dan perkebunan masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat di wilayahnya. Sejumlah komoditas yang berkembang antara lain kelapa sawit, karet, serta berbagai tanaman hortikultura yang dibudidayakan di beberapa desa.
“Kelapa sawit menjadi salah satu komoditas yang menonjol. Selain itu, masyarakat juga mengembangkan karet dan hortikultura di sejumlah desa,” ujar Julkifli, Rabu (14/10/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan hortikultura di Kota Bangun Darat telah menunjukkan potensi yang cukup baik, terutama di Desa Sumber Sari, Sari Nadi, dan Kota Bangun II. Salah satu komoditas yang menjadi andalan petani setempat adalah semangka yang memiliki kualitas baik dan berpeluang terus dikembangkan.
Menurutnya, potensi tersebut perlu dipertahankan melalui pengelolaan pertanian yang berkelanjutan serta dukungan terhadap kebutuhan produksi petani. Pengembangan hortikultura dinilai dapat menjadi alternatif sumber pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat perekonomian desa.
Selain hortikultura, sektor tanaman pangan juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan. Desa Sari Nadi menjadi salah satu kawasan yang diandalkan untuk budidaya padi, dengan luas lahan yang disebut mencapai sekitar 60 hektare.
Julkifli menyebutkan, salah satu komoditas unggulan di wilayah tersebut adalah padi yang dikenal masyarakat setempat sebagai Padi Mentis Susu. Pengembangan komoditas ini diharapkan dapat mendukung ketersediaan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan petani.
Namun, potensi tersebut menghadapi tantangan akibat musim kemarau yang menyebabkan berkurangnya ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian. Kondisi ini berdampak langsung terhadap aktivitas pengolahan lahan, pertumbuhan tanaman, hingga hasil panen yang diperoleh petani.
“Musim kemarau sangat berpengaruh. Banyak saluran air menuju sawah yang mengering sehingga berdampak pada penurunan hasil pertanian,” jelasnya.
Keterbatasan air menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian, terutama bagi petani yang bergantung pada pasokan air untuk menjaga pertumbuhan tanaman. Apabila kondisi kering berlangsung lebih lama, kegiatan pertanian berpotensi tidak berjalan optimal seperti saat ketersediaan air masih mencukupi.
Di samping persoalan pengairan, pembukaan lahan juga menjadi tantangan tersendiri. Julkifli menjelaskan, aktivitas pembukaan lahan turut dipengaruhi kondisi musim, sementara penggunaan api untuk membersihkan lahan tidak boleh dilakukan sembarangan karena berisiko memicu kebakaran dan harus mematuhi ketentuan yang berlaku.
Situasi tersebut membuat petani perlu menyesuaikan cara pengolahan lahan agar kegiatan pertanian tetap berjalan tanpa menimbulkan risiko kebakaran. Menurutnya, kondisi ini turut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi aktivitas dan pengembangan lahan pertanian di wilayahnya.
Bantuan Pertanian Berkurang
Di sisi lain, dukungan pemerintah terhadap sektor pertanian juga menjadi perhatian. Julkifli mengatakan, bantuan melalui program organisasi perangkat daerah (OPD) terkait pada tahun ini masih tersedia, tetapi jumlahnya mengalami pengurangan seiring keterbatasan kondisi keuangan pemerintah.
“Bantuan dari OPD terkait tahun ini masih ada, tetapi jumlahnya berkurang karena kita juga memahami kondisi keuangan pemerintah,” katanya.
Ia berharap dukungan terhadap petani tetap menjadi perhatian, terutama dalam penyediaan bibit dan kebutuhan produksi lainnya. Bantuan tersebut dinilai penting untuk membantu petani mempertahankan kegiatan usaha tani di tengah tekanan musim kemarau dan keterbatasan biaya produksi.
Menurut Julkifli, penguatan sektor pertanian tidak hanya bergantung pada potensi komoditas dan kemampuan petani, tetapi juga membutuhkan dukungan sarana produksi serta pengelolaan sumber daya air yang memadai.
Dengan potensi kelapa sawit, karet, hortikultura, dan tanaman pangan yang dimiliki, Kecamatan Kota Bangun Darat diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sektor pertanian di tengah tantangan cuaca. Dukungan pemerintah dan pengelolaan lahan yang tepat diharapkan dapat membantu mempertahankan produktivitas sekaligus menjaga sumber penghasilan masyarakat setempat.
ADV Diskominfo Kutai Kartanegara Pewarta : Indirwan Editor : Rudy M @2026

















