KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Pertanian sawah di Kelurahan Bukit Biru, Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), kini bergerak ke arah sistem yang lebih modern.
Langkah ini tak lepas dari dukungan program Ruang Produksi Pada Kawasan Padi Sawah Kabupaten Kutai Kartanegara (RAPAK KUKAR) yang menempatkan Bukit Biru sebagai salah satu dari lima kawasan prioritas pengembangan pertanian padi di Kukar.
Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Bukit Biru yang dipimpin Suwarman menjadi ujung tombak penerapan pertanian sawah semi modern di kawasan ini.
Suwarman mengungkapkan, berbagai bantuan dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar menjadi kunci peningkatan produktivitas para petani di tengah tantangan pembangunan yang makin pesat.
“Alhamdulillah sekarang kami sudah mulai terbantu. Kalau dulu semua serba manual, sekarang kami punya hand traktor, pompa air, mesin panen, bahkan drone pertanian untuk membantu pemetaan sawah dan penyemprotan pupuk,” kata Suwarman saat ditemui
Sebagai zona prioritas RAPAK KUKAR, Bukit Biru juga mendapat dukungan pembangunan infrastruktur pendukung seperti embung, saluran irigasi, dan jalan usaha tani.
Dengan dukungan ini, jadwal tanam padi diharapkan tetap terjaga meskipun kondisi cuaca sering berubah-ubah.
“Kalau irigasi dan embung selesai dibangun, Insyaallah panen bisa tetap dua kali setahun dengan hasil yang lebih baik,” ujar Suwarman.
Meski perlahan beralih ke peralatan modern, Suwarman menegaskan bahwa semangat gotong royong masih menjadi nafas utama para petani Bukit Biru.
Tradisi kerja bakti tetap digelar bersama-sama setiap awal musim tanam menjadi simbol kebersamaan diantara para petani.
“Teknologi membantu meringankan pekerjaan, tapi nilai kebersamaan itu yang kami jaga,” jelas Suwarman.
Selain memenuhi kebutuhan warga sekitar, hasil panen Bukit Biru juga dipasarkan ke Tenggarong dan sekitarnya. Beras lokalnya dikenal pulen dan harum sehingga memiliki pembeli tetap.
“Kami memang bukan sentra padi terbesar di Kukar, tapi beras Bukit Biru punya rasa khas yang banyak dicari,” ungkap Suwarman.
Meski demikian, regenerasi petani tetap menjadi tantangan yang belum mudah dipecahkan. Anak-anak muda kini mulai enggan turun ke sawah.
Karena itu, Gapoktan berupaya menarik minat generasi muda dengan memperkenalkan teknologi pertanian modern.
“Kalau ada drone, mesin tanam, pupuk organik, anak-anak muda bisa belajar dan tertarik kembali ke sawah,” terang Suwarman.
Bagi Suwarman, sawah Bukit Biru bukan sekadar lahan produksi, tetapi juga warisan yang harus dijaga.
Pewarta : Akmal Hafidz Krisnowo Editor : Fairuzzabady

















