Menu ✖

Mode Gelap
Operasi Narkoba Gunung Bugis Diapresiasi, Pemerintah dan DPRD Balikpapan Dorong Penindakan Berkelanjutan 17 Orang Positif Narkoba Saat Operasi Ketiga di Gunung Bugis, Polda Kaltim Siapkan Rehabilitasi Helmi Abdullah Ajak Masyarakat Perbanyak Shalawat dan Istigfar di Kaltim Bershalawat XIV Kompensasi Lahan Jalan Tembusan Sambutan–Merdeka Baru Dibayar 40 Persen, DPRD Samarinda Minta Kejelasan Akses Jalan Tembusan Sambutan–Merdeka Belum Tercatat sebagai Aset Daerah, BPKAD Samarinda Telusuri Dokumen Perencanaan

IKN NUSANTARA · 1 Des 2025 13:45 WITA ·

Memperkenalkan Padi Gogo sebagai Andalan Baru Ketahanan Pangan di Nusantara


 Sosialisasi Pengembangan Lahan Percontohan (Demplot) Budidaya Padi Gogo kepada para petani di Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara yang dilaksanakan pada Kamis (27/11/2025). Perbesar

Sosialisasi Pengembangan Lahan Percontohan (Demplot) Budidaya Padi Gogo kepada para petani di Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara yang dilaksanakan pada Kamis (27/11/2025).

KUMALANEWS.ID, NUSANTARA – Peningkatan produktivitas pangan di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN) semakin diperkuat melalui pengenalan varietas unggul Padi Gogo dan penerapan teknologi pertanian konservasi yang dinilai mampu memberikan hasil panen lebih tinggi, ramah lingkungan, serta sesuai dengan karakteristik lahan kering yang mendominasi kawasan Nusantara.

Upaya ini diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Pengembangan Lahan Percontohan (Demplot) Budidaya Padi Gogo kepada para petani di Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara yang dilaksanakan pada Kamis (27/11/2025), dengan menghadirkan para ahli Intitut Pertanian Bogor (IPB), mitra industri, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.

Direktur Ketahanan Pangan Otorita IKN, Setia Lenggono, menyampaikan bahwa pengembangan Padi Gogo menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan pangan di IKN.

“Kegiatan Sosialisasi Pedoman Padi Gogo yang kita lakukan ini adalah langkah awal dalam meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi padi gogo di wilayah IKN. Padi gogo, seperti Mayas merupakan komoditas pangan yang umum dibudidayakan petani lokal karena lebih adaptif ditanam pada lahan kering. Selain harganya lebih tinggi dari padi biasa karena cita-rasanya yang enak dan harum,  sehingga peningkatan produksi secara signifikan dapat  meningkatkan sumber pendapatan petani ,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa produktivitas padi gogo lokal di Muara Jawa rata-rata hanya 2 ton per hektare, sementara varietas unggul seperti IPB Gogo 9 yang diperkenalkan pada sosialisasi ini mampu menghasilkan hingga 4 ton per hektare apabila dikelola dengan baik. Menurutnya, Padi Gogo juga sejalan dengan prinsip pertanian konservasi karena tidak memerlukan pengolahan lahan intensif, dapat ditanam secara tumpang sari, dan tidak mentoleransi praktik pembakaran lahan yang mencemari udara dan membunuh organisme pengurai tanah, serta tidak sesuai dengan visi IKN sebagai kota berkelanjutan.

Tidak berhenti hanya sampai pada tahap sosialisaai pedoman, kegiatan ini ditindaklanjuti dengan serah terima benih pada para petani dan penanaman padi IPB Gogo 9 di demplot yang telah dipersiapkan oleh Kelompok Tani Maju Bersama Desa Muara Jawa Ulu. Jika demplot ini berhasil, kedepannya pengembangan Padi Gogo di wilayah IKN akan dikembangkan pada zona pertanian di wilayah pengembangan (WP) yang lain, serta kawasan pengembangan (KP IKN) yang umumnya memiliki karakteristik tanah yang kering. Hal ini dilakukan sebagai upaya nyata untuk memastikan alokasi minimal 10 persen kawasan daratan IKN sebagai area produksi pangan dapat mulai dilaksanakan secara bertahap.

Guru Besar Agronomi dan Hortikultura IPB, Prof. Dr. Ir. Suwarto, M.Si, yang memberikan pendampingan teknis, menjelaskan bahwa varietas IPB 9G dipilih karena telah teruji di berbagai daerah. “Kami mengambil varietas yang memang sudah dicoba di banyak tempat dan terbukti adaptif, yaitu IPB 9G. Keunggulannya adalah umur panen lebih pendek, pertumbuhan dan produktivitas tinggi. Potensinya mencapai 9 ton per hektare, dan realisasinya bisa 4–4,5 ton, lebih tinggi daripada varietas lokal,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa lahan kering yang mendominasi wilayah pengembangan IKN menjadikan Padi Gogo sebagai pilihan paling tepat untuk pemenuhan sumber karbohidrat masyarakat. Selain itu, teknologi konservasi dalam budidaya Padi Gogo juga memungkinkan pola tanam tumpang sari yang lebih berkelanjutan.

Otorita IKN berharap pengenalan varietas unggul, penerapan teknologi konservasi, dan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dapat meningkatkan produktivitas lahan pertanian dan kesejahteraan petani, serta mendukung terwujudnya Nusantara sebagai kota hutan yang tangguh dan berkelanjutan. Harapannya, hasil panen Padi Gogo ke depan dapat dikemas dengan baik untuk diperkenalkan dan dipasarkan kepada masyarakat kota melalui Pasar Komunitas di KIPP ataupun melalui Food Festival yang rutin digelar Otorita IKN sebagai langkah awal memperluas pasar beras Padi Gogo.

 

Humas Otorita Ibu Kota Nusantara
@2025
Artikel ini telah dibaca 32 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Kongres XX PDHI Digelar di IKN, Perkuat Sinergi Kesehatan Hewan dan Kedaulatan Pangan

15 Oktober 2026 - 19:00 WITA

n66

Otorita IKN Teken Kerja Sama Investasi Rp3,7 Triliun, Bangun Hunian ASN dan Fasilitas Kota

14 Oktober 2026 - 19:00 WITA

n53

Otorita IKN Buka Kanal Aspirasi RDTR Kawasan Penyangga, Masyarakat Bisa Beri Masukan hingga 22 Oktober

12 Oktober 2026 - 10:00 WITA

n12

IKN Jadi Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027, Perkuat Kolaborasi Ekonomi Kalimantan

9 Oktober 2026 - 12:30 WITA

m63

Peserta KRTJ ke-16 Tinjau Infrastruktur IKN, Apresiasi Progres Pembangunan Nusantara

9 Oktober 2026 - 11:00 WITA

m57

Delegasi REAAA Kagumi Perkembangan Nusantara, Soroti Konsep Kota Berkelanjutan

5 Oktober 2026 - 19:00 WITA

m2
Trending di IKN NUSANTARA