KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Dinas Pariwisata (Dispar) Provinsi Kalimantan Timur menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan sektor pariwisata tidak cukup hanya diukur dari meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Lebih dari itu, setiap program yang dijalankan harus mampu memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat, mulai dari pelaku usaha pariwisata, UMKM, hingga sektor ekonomi kreatif.
Penegasan tersebut disampaikan Kepala Dispar Kaltim, Ririn Sari Dewi, saat menjadi narasumber dalam kegiatan Bincang-Bincang Pariwisata bertema “Sinergi Pemerintah, Pelaku Usaha dan Mitra dalam Mewujudkan Tantangan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif” yang berlangsung di Hotel Grand Verona Samarinda, Selasa (30/6/2026).
Ririn menjelaskan, indikator jumlah wisatawan memang menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan pariwisata secara nasional. Namun, menurutnya, ukuran tersebut tidak boleh menjadi satu-satunya acuan karena tujuan utama pembangunan pariwisata adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Yang kami bangun bukan hanya destinasi, tetapi juga manusianya. Program kami langsung menyentuh masyarakat, pelaku pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Ia mengatakan hampir seluruh program Dispar Kaltim difokuskan pada penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan, sertifikasi kompetensi berbasis Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), pendampingan desa wisata, fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), hingga promosi produk dan destinasi wisata.
Menurut Ririn, meskipun anggaran Dispar Kaltim beberapa kali mengalami efisiensi, pihaknya tetap mempertahankan program-program pemberdayaan masyarakat sebagai prioritas utama.
“Kami tidak ingin anggaran habis untuk kegiatan seremonial. Yang terpenting adalah bagaimana masyarakat memiliki kemampuan, kompetensi, dan daya saing sehingga manfaat pariwisata benar-benar dirasakan,” katanya.
Selain peningkatan kualitas SDM, Dispar Kaltim juga terus memperluas promosi melalui forum business to business (B2B) yang mempertemukan pelaku usaha lokal dengan agen perjalanan dari luar negeri. Berbagai produk wisata Kalimantan Timur juga terus dipromosikan pada ajang nasional maupun internasional guna memperluas pasar dan menarik lebih banyak wisatawan.
Di sisi lain, pembinaan desa wisata terus diperkuat melalui kolaborasi dengan berbagai mitra strategis, seperti Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), PLN, BUMN, hingga perusahaan swasta.
“Kami terus mendampingi desa wisata agar naik kelas. Tidak hanya membangun destinasi, tetapi juga meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi wisatanya,” jelas Ririn.
Dalam forum yang sama, General Manager Grand Verona Hotel Samarinda, Hendri Kurniawan, menilai sektor pariwisata memiliki efek berganda (multiplier effect) yang sangat besar terhadap perekonomian daerah.
Menurutnya, geliat industri perhotelan secara langsung turut menggerakkan berbagai sektor usaha, mulai dari petani, peternak, pemasok bahan pangan, percetakan, hingga pelaku UMKM.
“Kalau hotel bergerak, otomatis banyak sektor usaha ikut bergerak. Pariwisata harus dipandang sebagai penggerak ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPD PUTRI Kaltim, Dian Rosita, menilai tantangan terbesar pengembangan pariwisata di Kalimantan Timur justru terletak pada kualitas sumber daya manusia.
Berdasarkan pengalamannya mendampingi berbagai desa wisata, ia menilai peningkatan kapasitas pengelola destinasi, legalitas usaha, standar pelayanan, hingga kemampuan manajemen menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan sebuah destinasi.
“Potensi alam Kaltim sangat luar biasa. Namun, tanpa SDM yang siap mengelolanya, destinasi akan sulit berkembang,” katanya.
Hal senada disampaikan Fashion Designer Anas Maghfur yang mendorong pelaku ekonomi kreatif terus berinovasi dengan memperkuat identitas produk, memanfaatkan media sosial, aktif dalam komunitas, serta rutin mengikuti pameran dan fashion show.
Menurutnya, promosi yang konsisten dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar produk kreatif asal Kalimantan Timur mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.
Melalui forum diskusi tersebut, Dispar Kaltim berharap sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan berbagai mitra strategis semakin kuat. Kolaborasi itu diharapkan mampu mendorong pembangunan sektor pariwisata yang tidak hanya meningkatkan angka kunjungan wisatawan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi lokal, dan menghadirkan kesejahteraan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di seluruh Kalimantan Timur.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















