Menu

Mode Gelap
Antisipasi Kekeringan dan Karhutla, OIKN-BMKG Jalankan Operasi Modifikasi Cuaca Pemkot Balikpapan Atur Jam Layanan Pertalite dan Biosolar, Lima SPBU Disiapkan Kurangi Antrean Temui Ratusan Sopir, Andi Harun Buka Ruang Evaluasi Fuel Card Solar Subsidi DPRD Samarinda Dorong Pemerintah Libatkan Sopir dalam Penataan Kupon Solar Subsidi Semarak HUT ke-81 RI, Warga Tiga RT di Gunung Arjuna Gelar Jalan Sehat

BERITA DAERAH · 6 Jul 2026 13:00 WITA ·

Dinkes Balikpapan Perkuat Edukasi Keluarga untuk Cegah HIV dan Perilaku Seksual Berisiko


 Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, menegaskan pencegahan perilaku seksual berisiko harus dimulai dari keluarga melalui penguatan pendidikan karakter dan agama sebagai upaya menekan penularan HIV/AIDS serta penyakit menular seksual lainnya, Senin (6/7/2026). Foto: M Hilmansyah. Perbesar

Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, menegaskan pencegahan perilaku seksual berisiko harus dimulai dari keluarga melalui penguatan pendidikan karakter dan agama sebagai upaya menekan penularan HIV/AIDS serta penyakit menular seksual lainnya, Senin (6/7/2026). Foto: M Hilmansyah.

KUMALANEWS.ID, BALIKPAPAN – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan menegaskan bahwa penguatan ketahanan keluarga, pendidikan agama, dan edukasi kesehatan sejak dini menjadi langkah penting dalam mencegah perilaku seksual berisiko yang dapat meningkatkan penularan HIV/AIDS di masyarakat. Upaya tersebut dinilai semakin penting seiring meningkatnya mobilitas penduduk di Balikpapan sebagai kota penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kota Balikpapan, Alwiati, saat menanggapi kebijakan pemerintah pusat yang memasukkan penyebaran budaya LGBTQ sebagai salah satu ancaman nonmiliter dalam Peraturan Presiden Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2025–2029, Senin (6/7/2026).

Alwiati mengatakan, dari sudut pandang kesehatan masyarakat, fokus utama Dinas Kesehatan adalah mencegah perilaku seksual yang berisiko karena berkaitan dengan penularan HIV/AIDS dan penyakit menular seksual lainnya. Menurutnya, pencegahan tidak cukup hanya melalui pelayanan kesehatan, tetapi harus dimulai dari lingkungan keluarga sebagai tempat pertama membentuk karakter dan perilaku anak.

“Pencegahan harus dimulai dari keluarga,” ujar Alwiati.

Ia menjelaskan, perkembangan Balikpapan sebagai kota penyangga IKN membuat arus perpindahan penduduk semakin tinggi. Kondisi tersebut membawa tantangan baru bagi sektor kesehatan karena berpotensi meningkatkan risiko penyebaran berbagai penyakit menular apabila tidak diimbangi dengan edukasi dan upaya pencegahan yang berkelanjutan.

Menurutnya, Dinas Kesehatan terus mengintensifkan promosi kesehatan melalui penyuluhan, layanan konseling, pemeriksaan HIV secara sukarela, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menerapkan perilaku hidup sehat dan bertanggung jawab.

“Kami terus mengedukasi masyarakat agar memahami pentingnya menjaga kesehatan diri,” katanya.

Alwiati mengungkapkan, berdasarkan pemantauan Dinas Kesehatan, jumlah kasus HIV baru di Kota Balikpapan masih menunjukkan tren peningkatan. Salah satu kelompok yang tercatat dalam surveilans epidemiologi adalah laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (LSL). Ia menjelaskan bahwa istilah LSL merupakan istilah epidemiologi yang digunakan dalam dunia kesehatan untuk mengidentifikasi kelompok dengan risiko tertentu dalam penyusunan program pencegahan dan penanggulangan HIV, bukan sebagai bentuk pelabelan terhadap identitas seseorang.

Selain memperkuat layanan kesehatan, Dinkes mengajak orang tua untuk membangun komunikasi yang terbuka dengan anak-anak mengenai kesehatan reproduksi, pergaulan, dan nilai-nilai kehidupan. Menurut Alwiati, hubungan keluarga yang harmonis akan membantu anak lebih mudah menerima arahan dan terhindar dari berbagai perilaku berisiko.

“Komunikasi orang tua dan anak harus terus diperkuat,” ujarnya.

Ia juga menilai pendidikan agama memiliki peran penting dalam membentuk karakter, moral, dan tanggung jawab generasi muda. Karena itu, keluarga diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini sebagai bekal menghadapi berbagai tantangan sosial di era modern.

Di samping itu, Alwiati menekankan pentingnya keterlibatan kedua orang tua dalam proses pengasuhan, terutama kehadiran figur ayah yang dinilai memiliki kontribusi besar dalam membangun ketahanan keluarga dan memberikan teladan bagi anak.

“Peran ayah sangat penting dalam membentuk karakter anak,” tegasnya.

Dinas Kesehatan Kota Balikpapan berharap sinergi antara keluarga, sekolah, tokoh agama, tenaga kesehatan, dan seluruh elemen masyarakat dapat terus diperkuat. Dengan kolaborasi tersebut, upaya pencegahan HIV/AIDS, peningkatan kesehatan masyarakat, serta pembinaan generasi muda diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan.

 

Pewarta : M Hilmansyah
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 19 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Pemkot Balikpapan Atur Jam Layanan Pertalite dan Biosolar, Lima SPBU Disiapkan Kurangi Antrean

24 Agustus 2026 - 17:00 WITA

h16

Temui Ratusan Sopir, Andi Harun Buka Ruang Evaluasi Fuel Card Solar Subsidi

24 Agustus 2026 - 16:00 WITA

h15

DPRD Samarinda Dorong Pemerintah Libatkan Sopir dalam Penataan Kupon Solar Subsidi

24 Agustus 2026 - 15:00 WITA

h14

Semarak HUT ke-81 RI, Warga Tiga RT di Gunung Arjuna Gelar Jalan Sehat

23 Agustus 2026 - 18:00 WITA

h13

CFD Terpadu Resmi Diluncurkan di Taman Tiga Generasi, Jadi Ruang Sehat dan Penggerak UMKM

23 Agustus 2026 - 11:00 WITA

h6

Semarak HUT ke-81 RI, CFR Samarinda Gelar Lomba Mancing Antaranggota

22 Agustus 2026 - 19:00 WITA

h2
Trending di BERITA DAERAH