Menu

Mode Gelap
IKN Youth Forum Dorong Generasi Muda Lawan Hoaks dan Kawal Masa Depan Nusantara May Day 2026 di Kukar, Momentum Perkuat Sinergi dan Kepedulian bagi Pekerja May Day 2026, Perempuan Mahardhika Samarinda Soroti Ketidakadilan Buruh Perempuan Nelayan Muara Badak Ditemukan Meninggal Dunia Usai Terseret Arus Investasi Rp1,2 Triliun Masuk IKN, Dua Investor Pelopor Teken PKS

SENI BUDAYA · 25 Des 2023 14:22 WITA ·

Lestarikan Seni Musik Tradisional, Ini Profil Pemain Sape’ Dayak Kenyah Kaltim


 Mahdi Rijani atau Aditya Clara Yooh Saat Mengisi di Sebuah Acara Yang Berlangsung di Taman Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara.(foto : ruz/kumalanews.id) Perbesar

Mahdi Rijani atau Aditya Clara Yooh Saat Mengisi di Sebuah Acara Yang Berlangsung di Taman Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara.(foto : ruz/kumalanews.id)

KUMALANEWS.ID – Alat Musik Tradisional Khas Dayak di Kalimantan Timur (Kaltim) bernama Sape’ saat ini memang menjadi trend di kalangan generasi muda, untuk dimainkan dalam sebuah pertunjukan.

Selain alunan nada dan suaranya menyentuh jiwa serta sangat enak di dengarkan, alat musik tradisional tersebut juga dikagumi maupun menyita perhatian banyak orang.

Misalnya saja seorang pemuda di Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim) bernama Mahdi Rijani atau lebih dikenal dengan nama panggungnya Aditya Clara Yooh (38) dengan piawai memainkan alat musik tradisional tersebut.

Kegemaran dan ketertarikan Mahdi Rijani atau Aditya Clara Yooh terhadap alat musik tradisional Sape’ itu, sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Penyinggahan Kutai Barat (Kubar) Kalimantan Timur (Kaltim).

Sejak duduk di bangku SMP itulah, Mahdi Rijani atau Aditya Clara Yooh terus menekuni dan belajar serta berlatih terus memainkan alat musik tradisional tersebut hingga mahir.

“Dulu di Sekolah saya SMP Negeri 1 Penyinggahan, Kubar, ada muatan lokal untuk mengenal berbagai khas tradisional salah satunya alat musik Dayak yaitu Sape’, ujar Mahdi Rijani, Senin (25/12/2023).

Selain alunannya yang sangat unik, Mahdi Rijani atau Aditya Clara Yooh juga berkeinginan untuk melestarikan seni musik tradisional khas suku Dayak di Kalimantan Timur (Kaltim) khususnya Dayak Kenyah, serta ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa alat musik Sape’ masih ada yang memainkannya secara manual.

“Maka dari itu saya pun tertarik untuk memainkan alat musik Sape’ ini dan juga sebagai bentuk untuk melestarikan agar lebih dikenal luas,” terangnya.

Menurut pria kelahiran September 1985 silam itu, kesulitan dalam memainkan alat musik tradisional ini terkadang ada tangga nada yang naik maupun turun di saat satu lagu berlangsung, dan hal itulah yang menjadi tantangan ketika tampil di atas panggung.

“Kesulitannya memainkan musik modern di tuangkan ke alunan Daway tradisional saja, kadang nada ada yang turun dan naik di saat 1 lagu berlangsung, bahkan fred sape kadang harus di tambah,” ungkapnya.

“Tersulitnya apa bila dalam  perfrom kolaborasi, lagu yang di mainkan harus berubah tangga nada secara cepat atau otomatis dan itu menjadi tantang saat berada diatas panggung,” tambahnya.

Untuk memainkan alat musik tradisional Sape’ ini haruslah sabar dan tekun dalam berlatih, serta harus kuat mengingat lagu-lagu maupun tangga naga atau kunci gitar dan Daway khas Sape’ tersebut.

Meski demikian, untuk lebih mudah memainkan alat musik tradisional itu, harus ada kemauan serta sudah memiliki basic atau paham dengan tangga nada di gitar.

“Siapapun bisa memainkannya, namun harus   memiliki basic yang paham dengan tangga nada gitar, dan itu akan lebih mudah. Intinya adalah, apabila ada niat dan kemauan belajar pasti bisa,” beber Mahdi Rijani.

wk2

Mahdi Rijani atau Aditya Clara Yooh Saat Mengisi di Sebuah Acara Yang Berlangsung di Taman Kota Raja Tenggarong, Kutai Kartanegara.(foto : ruz/kumalanews.id)

Mahdi Rijani menyebut, bahwa alat musik tradisional Sape’ ini sama persis seperti gitar. Akan tetapi, dalam memainkan sedikit berbeda, baik itu cara petik dan tekniknya.

“Susah susah gampang, karena Sape’ ini mempunyai suara serta tehnik yang khas dan unik di dalam nada maupun alunannya,” jelasnya.

Selama menggeluti dan memainkan alat musik tradisional Sape’ ini, Mahdi Rijani juga acap kali menemukan kendala. Pasalnya, saat ini dirinya masih mengandalkan swadaya mandiri.

Meski dalam swadaya mandiri, namun hal tersebut tidak menjadi penghalang bagi Mahdi Rijani, untuk terus melestarikan dan memperkenalkan seni musik tradisional Sape’ Dayak Kenyah kepada mata dunia.

“Kendalanya pasti ada. Misalnya,saat tampil ke ruang publik, dimana harus di naungi oleh instansi terkait. Pasalnya, saya berjuang swadaya mandiri untuk melestarikan Daway Sape’ ini,” terangnya.

Dalam perjalanannya, Mahdi Rijani sering tampil di berbagai event, baik di tingkat regional maupun nasional. Bahkan Mahdi Rijani juga pernah berduet dengan musisi legendaris di Tanah Air yaitu Iwan Fals.

Tak hanya itu, Mahdi juga pernah mengisi beberapa projek dan berkolaborasi dengan musisi lokal di Kalimantan Timur (Kaltim) hingga mengikuti Festival Musik di tingkat Nasional bersama Musisi Jalanan di Kutai Kartanegara (Kukar) serta menjadi finalis 10 besar dan tampil di Stasiun Televisi Nasional.

“Dalam berkarir saya banyak terlibat berbagai projek dan mengisi acara, di baik ditingkat regional maupun Nasional dan pernah berduet dengan Iwan Fals di Jakarta,” ungkapnya.

Mahdi Rijani juga berharap, agar generasi muda di Kalimantan Timur (Kaltim) untuk terus melestarikan seni musik tradisional Sape’ dan jangan pernah malu untuk memperkenalkan seni budaya yang ada di Kaltim.

“Jangan malu dan gengsi untuk maju ke publik membawa nama sendiri, lebih- lebih nama besar Kaltim dalam memainkan alat musik tradisional tradisional kita ini, tetap lestarikan seni budaya kita,” pungkasnya. (alf/ruz)

Artikel ini telah dibaca 401 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Simfoni Swara Nusantara Hidupkan KIPP IKN, Harmoni Musik dan Budaya Tarik Antusias Pengunjung

29 Maret 2026 - 10:00 WITA

musik001

Reog Ponorogo Hidupkan Bendungan Sepaku Semoi, Warga Antusias Nikmati Ruang Publik Baru di IKN

29 Maret 2026 - 09:00 WITA

reog1

Malam Pelipur Lara, Saat Musik Tradisi Borneo Berbicara Ke Hati

13 Februari 2026 - 08:00 WITA

Melalui buku ini kami ingin menunjukkan bahwa pembangunan IKN tahap I dilaksanakan dengan perencanaan yang matang standar teknis yang jelas serta visi besar pembangunan berkelanjutan 82

Promosikan Budaya Nusantara dan UMKM, Duta Budaya Indonesia Siap Tampil di Rotterdam Belanda April 2026

22 Januari 2026 - 16:00 WITA

b22332e6 1bfb 4a1d a44e 583a8c58ba15

Nada Tradisi yang Dicatat Negara: Perjalanan Achmad Fauzi Menghidupkan Keroncong Tingkilan Kutai

19 Januari 2026 - 15:00 WITA

Beige and Yellow Abstract Shapes Film Photo Collage

Petala Borneo Menabuh Identitas Kutai: Dari Tanah Tradisi Menuju Panggung Musik Digital

3 Januari 2026 - 15:00 WITA

Beige and Brown Simple Fashion Collection Photo Collage Banner
Trending di BERITA DAERAH