KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Sebelum berlangsungnya puncak upacara Erau Adat Kutai, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menggelar prosesi sakral yang disebut Merangin. Ritual ini dilaksanakan pada malam hari di luar keraton sebagai media pemberitahuan kepada khalayak ramai bahwa dalam beberapa hari ke depan, pesta adat dan budaya Erau akan segera digelar.
Merangin dimaknai sebagai awal perjalanan para Belian, yakni pelaksana upacara adat, dalam menjalankan perintah Sultan. Prosesi ini diwujudkan dengan berjalan dan mendatangi rumah-rumah warga yang sebelumnya telah diundang dalam acara adat. Tujuannya adalah menyampaikan laporan, mengajak serta, sekaligus memberikan penghormatan kepada tamu, baik dari kalangan masyarakat maupun dimensi spiritual.
Ritual Merangin dibuka dengan pembacaan mantra oleh pimpinan upacara, diikuti tujuh Belian Laki dan tujuh Belian Bini yang mengelilingi Binyawan di tengah bangunan. Sesekali beras kuning ditebarkan sebagai tanda dimulainya prosesi. Tabuhan gendang dan gong yang terus berirama membuat suasana semakin magis, terutama saat para Belian Laki mulai berputar mengelilingi Binyawan. Ritual ini kemudian diakhiri dengan tarian tujuh Belian Bini yang menari mengitari Binyawan sebanyak tujuh kali.
Koordinator Belian, Sartin, menyebut Merangin dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut, mulai dari Merangin Satu, Merangin Dua, hingga Merangin Tiga yang dilanjutkan dengan ritual Mengatur Dahar.
“Dengan Merangin ini, kami mengajak semua pihak untuk turut serta dalam rangkaian Erau. Supaya mereka merasa dihargai, dihormati, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Kamis (18/9/2025) malam.
Lebih dari sekadar ritual, prosesi ini memiliki pesan penting bagi generasi muda. Melalui Merangin, nilai-nilai budaya leluhur yang diwariskan turun-temurun dapat terus dikenalkan dan dilestarikan.
“Harapan kami, generasi muda bisa lebih mengenal dan menghargai tradisi sakral seperti ini. Walaupun sakral, tradisi ini tidak akan lekang oleh waktu jika terus dijaga dan diperhatikan,” pungkas Sartin.
Pewarta & Editor : Fairuzzabady

















