Menu

Mode Gelap
Lima Hari Pencarian, Operasi SAR Nelayan Hilang di Muara Berau Resmi Ditutup Banggar DPRD Samarinda Kaji Draf KUA-PPAS 2027, Fokus pada Fiskal dan Peningkatan PAD Bapemperda DPRD Samarinda Rampungkan Finalisasi Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025 Banggar DPRD Samarinda Prioritaskan Program Masyarakat di Tengah Keterbatasan Fiskal 2027 DPRD Samarinda Dukung Upskilling 1.200 Guru, Perkuat Transformasi Digital Sekolah

SENI BUDAYA · 18 Sep 2025 21:15 WITA ·

Ritual Merangin Jadi Awal Perjalanan Sakral Belian dalam Rangkaian Erau Adat Kutai


 Para Belian melaksanakan ritual sakral Merangin dengan mengelilingi Binyawan, diiringi tabuhan gendang dan gong yang berirama, sehingga menciptakan suasana semakin magis. (Fairuzzabady/Kumalanews.id) Perbesar

Para Belian melaksanakan ritual sakral Merangin dengan mengelilingi Binyawan, diiringi tabuhan gendang dan gong yang berirama, sehingga menciptakan suasana semakin magis. (Fairuzzabady/Kumalanews.id)

KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Sebelum berlangsungnya puncak upacara Erau Adat Kutai, Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menggelar prosesi sakral yang disebut Merangin. Ritual ini dilaksanakan pada malam hari di luar keraton sebagai media pemberitahuan kepada khalayak ramai bahwa dalam beberapa hari ke depan, pesta adat dan budaya Erau akan segera digelar.

Merangin dimaknai sebagai awal perjalanan para Belian, yakni pelaksana upacara adat, dalam menjalankan perintah Sultan. Prosesi ini diwujudkan dengan berjalan dan mendatangi rumah-rumah warga yang sebelumnya telah diundang dalam acara adat. Tujuannya adalah menyampaikan laporan, mengajak serta, sekaligus memberikan penghormatan kepada tamu, baik dari kalangan masyarakat maupun dimensi spiritual.

Ritual Merangin dibuka dengan pembacaan mantra oleh pimpinan upacara, diikuti tujuh Belian Laki dan tujuh Belian Bini yang mengelilingi Binyawan di tengah bangunan. Sesekali beras kuning ditebarkan sebagai tanda dimulainya prosesi. Tabuhan gendang dan gong yang terus berirama membuat suasana semakin magis, terutama saat para Belian Laki mulai berputar mengelilingi Binyawan. Ritual ini kemudian diakhiri dengan tarian tujuh Belian Bini yang menari mengitari Binyawan sebanyak tujuh kali.

Koordinator Belian, Sartin, menyebut Merangin dilaksanakan selama tiga malam berturut-turut, mulai dari Merangin Satu, Merangin Dua, hingga Merangin Tiga yang dilanjutkan dengan ritual Mengatur Dahar.

“Dengan Merangin ini, kami mengajak semua pihak untuk turut serta dalam rangkaian Erau. Supaya mereka merasa dihargai, dihormati, dan tidak melakukan hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya, Kamis (18/9/2025) malam.

Lebih dari sekadar ritual, prosesi ini memiliki pesan penting bagi generasi muda. Melalui Merangin, nilai-nilai budaya leluhur yang diwariskan turun-temurun dapat terus dikenalkan dan dilestarikan.

“Harapan kami, generasi muda bisa lebih mengenal dan menghargai tradisi sakral seperti ini. Walaupun sakral, tradisi ini tidak akan lekang oleh waktu jika terus dijaga dan diperhatikan,” pungkas Sartin.

 

Pewarta & Editor : Fairuzzabady
Artikel ini telah dibaca 121 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Diguyur Hujan, Festival Budaya Dayak Kenyah Tetap Dipadati Ribuan Pengunjung

29 Juni 2026 - 10:02 WITA

a127

Festival Budaya Dayak Kenyah 2026 Diserbu Pengunjung, Panitia Dorong Peningkatan Fasilitas

29 Juni 2026 - 09:00 WITA

a126

Festival Budaya Dayak Kenyah Ditutup Meriah, Ketua Adat Pampang Bangga Antusiasme Masyarakat

29 Juni 2026 - 08:00 WITA

a125

Tari Kembar 4 Meriahkan Festival Budaya Pampang, Simbol Harmoni Dayak dan Jawa di Samarinda

25 Juni 2026 - 19:00 WITA

a99

Festival Budaya Dayak Kenyah Jadi Sarana Pelestarian Tradisi dan Penggerak Ekonomi Masyarakat Pampang

25 Juni 2026 - 16:00 WITA

a96

HUT ke-53 Desa Budaya Pampang, Andi Harun Ajak Generasi Muda Jaga Warisan Budaya dan Kelestarian Alam

25 Juni 2026 - 13:00 WITA

a93
Trending di BERITA DAERAH