KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Pentas musik Tingkiland Fest 2025 kembali menghadirkan inovasi dalam dunia pertunjukan di Kutai Kartanegara. Tidak sekadar menampilkan musisi untuk membawakan karya mereka, ajang ini justru mengusung konsep kolaborasi besar-besaran lintas genre yang dipadukan dengan musik tradisi Tingkilan. Pendekatan kreatif inilah yang menjadikan Tingkiland Fest tampil berbeda dari berbagai pagelaran musik lainnya.
Founder sekaligus perwakilan Petala, Achmad Fauzi, menjelaskan bahwa konsep yang diangkat tahun ini berfokus pada perpaduan antara kekhasan Tingkilan dengan berbagai aliran musik modern. Menurutnya, langkah ini mampu menghadirkan tampilan pertunjukan yang lebih kaya dan menarik.
“Biasanya sebuah acara hanya mengundang artis untuk tampil membawakan lagu-lagunya. Tapi di Tingkiland Fest, konsepnya lebih menonjolkan kolaborasi, khususnya antara musik Tingkilan dengan berbagai genre musik lain,” ujar Fauzi, Selasa (25/11/2025).
Ia menambahkan bahwa identitas Tingkilan tetap dipertahankan melalui ciri khas gambus, namun dikemas ulang agar selaras dengan nuansa musik modern. Petala sendiri tampil selama dua hari. Pada salah satu panggung, mereka menggandeng KSB Seraong yang mempersembahkan tarian tradisional untuk memperkaya visual pertunjukan.
Di panggung lainnya, Fauzi bersama ENJI Band menampilkan kolaborasi unik antara Tingkilan dan musik reggae. Menurutnya, keberagaman kolaborasi ini membuktikan bahwa Tingkilan mampu bersanding secara harmonis dengan berbagai genre seperti dangdut, pop, reggae, hingga pop modern.
“Kami bangga bisa menjadi bagian dari acara ini. Tingkiland Fest bisa dibilang menjadi sejarah pertama di Tenggarong, karena musik Tingkilan dikolaborasikan dengan seluruh genre musik di Kutai Kartanegara,” ujarnya.
Fauzi menegaskan bahwa konsep besar Tingkiland Fest sangat selaras dengan visi Petala, yakni mendorong musik Tingkilan agar terus berkembang, dikenal luas, dan mampu menembus panggung nasional. Penampilan Petala pada malam pertama, 22 November 2025, bahkan turut melibatkan unsur tari dalam beberapa lagu untuk menambah kekuatan artistik.
Ia menyebut bahwa keberadaan Tingkiland Fest menjadi ruang baru bagi para pelaku musik Tingkilan. Selama ini, Tingkilan lebih banyak berada pada ranah pelestarian budaya. Namun lewat festival ini, musik tradisi khas Kutai tersebut mulai diarahkan ke industri kreatif dengan kemasan yang lebih segar.
“Dampaknya sudah terlihat. Grup-grup Tingkilan di Tenggarong jadi lebih aktif, produktif, dan semakin berani bereksperimen,” jelasnya.
“Jadi bukan hanya soal melestarikan tradisi, tetapi juga menciptakan hal-hal baru dengan kemasan yang lebih modern,” sambungnya.
Adapun kelompok seni Tingkilan yang terlibat dalam Tingkiland Fest 2025 antara lain Petala, AJB, Pelandok, Tepian Mahakam, dan Cahaya Mahakam. Untuk kolaborasi lintas genre, festival ini menampilkan musik reggae, dangdut, pop, hingga pop modern, dan ditutup dengan penampilan Element Band pada malam terakhir.
Sebagai pelaku seni, Fauzi berharap Tingkiland Fest dapat menjadi agenda tahunan. “Dampaknya besar untuk kemajuan musik Tingkilan di Tenggarong. Semoga acara seperti ini bisa berlanjut setiap tahun,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, Fauzi juga menyinggung hubungan musik Tingkilan dengan Ibu Kota Nusantara (IKN). Ia bersama tim Petala pernah diundang menjadi narasumber untuk memperkenalkan musik Tingkilan kepada Otorita IKN.
“Kepala Otorita IKN, Basuki Hadimuljono, sangat tertarik dengan musik Tingkilan dan mempertanyakan mengapa genre ini belum dikenal luas di Jawa,” ungkap Fauzi.
Dari pertemuan tersebut, kemudian lahir workshop musik Tingkilan yang diselenggarakan di wilayah IKN. Ke depannya, diharapkan akan terbentuk pula kelompok musik Tingkilan yang tumbuh dan berkembang di kawasan ibu kota baru tersebut.
Dengan dukungan panggung seperti Tingkiland Fest 2025, para pelaku seni meyakini bahwa musik Tingkilan memiliki peluang besar untuk menembus pasar yang lebih luas dari Tenggarong, menuju pentas nasional.
Pewarta & Editor: Fairuzzabdy @2025

















