KUMALANEWS.ID, SAMARINDA — Pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Penataan dan Pengembangan Ekonomi Kreatif di DPRD Kota Samarinda mendapat perhatian dari para pelaku industri kreatif, termasuk subsektor fashion yang dinilai masih belum terakomodasi secara optimal dalam regulasi daerah.
Musrifah Gilfa, yang akrab disapa Bunda Gilfa, penggiat fashion sekaligus pendiri brand lokal Gilfante, berharap keputusan yang dihasilkan dalam rapat finalisasi hari ini dapat membawa angin segar bagi pengembangan subsektor fashion di Samarinda.
“Saya berharap keputusan hari ini membuka ruang lebih besar bagi subsektor fashion. Dari 17 subsektor ekonomi kreatif, fashion harusnya mendapat perhatian khusus karena memiliki ekosistem yang jauh lebih luas dibandingkan subsektor model,” ujarnya.
Fashion Belum Tercantum Spesifik dalam EKRAF Kementerian
Menurut Bunda Gilfa, dalam Ekraf Kementerian, istilah fashion justru belum tertulis secara spesifik. Yang muncul hanya subsektor model.
“Padahal fashion mencakup ekosistem yang lebih besar, dari hulu ke hilir. Tidak hanya model, tetapi desain, produksi, distribusi, hingga pemasaran. Karena itu saya mengusulkan agar dalam regulasi daerah nanti fashion disebut secara jelas sebagai subsektor yang berdiri sendiri,” tegasnya.
Komunitas Fashion Samarinda Terus Berkembang
Sebagai Ketua Komunitas Fashion Samarinda, Bunda Gilfa menyebut jumlah pelaku fashion di kota ini cukup besar dan terus bertambah.
“Setiap tahun kami melakukan regenerasi dengan membuka rekrutmen anggota baru. Banyak pemula, termasuk ibu rumah tangga dan pelajar. Komunitas kami menjadi wadah sosial untuk belajar, bertukar pengalaman, dan mengasah keterampilan,” tuturnya.
Sejak hijrah ke Samarinda pada 2016, ia melihat perlunya ruang bersama bagi pelaku kreatif yang ingin berkembang. Dari situ, komunitas yang ia kelola tumbuh menjadi ruang pembinaan bagi masyarakat.
Brand Lokal Gilfante Jadi Ruang Kreatif
Selain komunitas, Bunda Gilfa juga mengembangkan brand fashion Gilfante, yang menjadi wadah bagi pelaku kreatif lokal untuk berproses dan berkarya.
“Usaha fashion yang saya jalankan bersinergi dengan komunitas. Anggota yang sudah mandiri bisa berkembang, sementara pemula kami bimbing dasar-dasarnya,” jelasnya.
Ia berharap ke depan, Raperda Ekonomi Kreatif dapat memberikan dukungan yang lebih konkret bagi subsektor fashion mulai dari pembinaan, ruang pamer, hingga akses pemasaran.
“Semua subsektor ekraf saling berhubungan. Musik memang nomor satu di Samarinda, tetapi fashion juga punya potensi besar jika diberi ruang yang tepat,” pungkasnya.
Pewarta : Yana Editor : Fathur @2025

















