Sanggar Seni & Budaya Panji Keroan Koetai Bersatoe (PKKB)
Bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV Kaltimtara
Dukung “Mandau Menuju WBTB UNESCO”
KUMALANEWS.ID, SAMARINDA — Agenda besar pelestarian budaya kembali dihadirkan melalui Pameran Kebudayaan Bilah Nusantara, sebuah gelaran prestisius yang diselenggarakan oleh Sanggar Seni & Budaya Panji Keroan Koetai Bersatoe (PKKB) bersama Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV (Kaltim–Kaltara).
Acara ini akan berlangsung:
📅 5–7 Desember 2025
⏰ Pukul 09.00–21.00 WITA
📍 Museum Samarinda
Mengusung tema “Menempa Tradisi dan Melestarikan Jati Diri,” pameran ini menghadirkan berbagai program budaya, seni bilah, dan diskusi warisan leluhur yang jarang ditampilkan secara terbuka.
Rangkaian Acara Utama
Pameran ini diikuti oleh puluhan komunitas bilah, kolektor, budayawan, pengrajin, dan pelestari tradisi dari seluruh Kalimantan dan Nusantara.
Agenda lengkap:
* Pelas Pusaka
* Pameran Pusaka
* Tournament Sumpit
* Tournament Ketapel
* Tournament Cutting Blades
* Permainan Tradisional
* Musik Tingkilan
* Musik Sape
* Tari Kreasi Daerah
* Seminar Mandau Menuju WBTB UNESCO
* Diskusi Antarkomunitas, Kolektor, dan Pengrajin Bilah
* Booth UMKM Kerajinan Daerah
Kehadiran belasan club bilah serta komunitas seni dari berbagai daerah menjadikan acara ini sebagai salah satu pameran bilah terbesar yang pernah digelar di Kalimantan Timur.
Dukungan Untuk Pengakuan UNESCO
Melalui pameran ini, PKKB menegaskan komitmen dalam mendukung “Mandau Goes to UNESCO”, yakni pengajuan Mandau sebagai Warisan Budaya Takbenda Dunia (WBTB).
Sanggar PKKB selama ini dikenal aktif dalam:
mendokumentasikan budaya bilah
melatih generasi muda
menampilkan seni tari dan tradisi Kutai
menguatkan peran adat dan kearifan lokal di Kalimantan Timur
Acara Bilah Nusantara menjadi salah satu langkah nyata memperluas kesadaran publik terhadap nilai filosofi, sejarah, dan budaya Mandau sebagai identitas bangsa.
Ketua dan Pembina PKKB menegaskan:
“Pameran Bilah Nusantara bukan hanya festival, tetapi gerakan besar untuk merawat marwah, pusaka, dan jati diri leluhur. Mandau adalah identitas. Melalui acara ini kami memperkuat langkah menuju pengakuan UNESCO.”

















