KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda bersama para pedagang kembali membahas penataan aktivitas perdagangan di lantai enam dan tujuh Pasar Pagi Samarinda. Salah satu opsi yang disiapkan yakni penggunaan partisi sebagai pembatas lapak, sehingga penataan tidak membutuhkan sekat permanen berbahan beton.
Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Samarinda, Nurrahmani atau yang akrab disapa Yama, mengatakan penggunaan partisi dinilai lebih fleksibel karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan pedagang di kemudian hari.
Menurutnya, partisi juga memudahkan perubahan pembagian ruang apabila terdapat penyesuaian di masa mendatang. Pemerintah menginginkan penataan dilakukan tanpa mengubah konstruksi bangunan secara permanen.
“Pakai partisi saja, tidak perlu beton,” ujar Yama kepada awak media, Senin (7/9/2026).
Yama menjelaskan, pembahasan penataan Pasar Pagi belum sepenuhnya selesai. Pemerintah masih perlu melihat kondisi di lapangan serta melakukan pendataan terhadap para pedagang sebelum menentukan pola pembagian ruang secara lebih rinci.
Ia menegaskan, setiap keputusan yang diambil harus melalui kesepakatan bersama antara pemerintah dan pedagang, bukan keputusan sepihak.
“Konsepnya harus disepakati bersama. Senin kita bertemu lagi,” jelasnya.
Bahas 16 Poin Aspirasi Pedagang
Yama menyebut pertemuan antara Pemkot Samarinda dan pedagang akan dilakukan secara rutin setiap Senin. Pertemuan tersebut menjadi ruang untuk membahas 16 poin aspirasi yang sebelumnya disampaikan para pedagang.
Sementara itu, sejumlah usulan yang berkaitan dengan pembangunan fisik, seperti pengadaan eskalator, akan diproses melalui mekanisme internal pemerintah daerah. Usulan tersebut nantinya disampaikan kepada Wali Kota Samarinda untuk diteruskan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait.
Menurut Yama, OPD teknis akan menentukan kebutuhan anggaran, spesifikasi, hingga bentuk fasilitas yang akan dibangun sesuai dengan perencanaan pemerintah daerah.
“Kalau pembangunan fisik, nanti diproses melalui OPD terkait,” katanya.
Ia menyebut usulan pembangunan tersebut telah masuk dalam perencanaan pembangunan daerah. Namun, pelaksanaannya tetap menyesuaikan kemampuan anggaran dan hasil kajian teknis.
Pembagian Lapak Masih Menunggu Pendataan
Terkait penataan pedagang yang masih ingin berjualan di lantai bawah, Yama mengatakan pemerintah membuka opsi pembagian ruang menggunakan sekat atau partisi. Namun, jumlah dan pola pembagiannya belum ditetapkan.
Keputusan tersebut masih menunggu hasil pendataan untuk mengetahui jumlah pedagang serta kondisi masing-masing lapak. Data juga diperlukan untuk memastikan pedagang yang sebelumnya belum mendapatkan realisasi pembagian tempat dapat ikut dipertimbangkan.
“Jumlah sekat belum ditentukan. Kami lihat data dulu,” ungkapnya.
Menurut Yama, pendataan menjadi bagian penting agar kebijakan penataan dapat dilakukan secara proporsional dan sesuai dengan kondisi sebenarnya di Pasar Pagi.
Evaluasi Pedagang Tidak Aktif
Mengenai rencana pencabutan lapak bagi pedagang yang tidak aktif berjualan, Yama menjelaskan Pemkot Samarinda masih memberikan ruang kepada pedagang untuk menunjukkan keseriusannya kembali menghidupkan aktivitas perdagangan.
Ia mengatakan, pembahasan mengenai pencabutan lapak sebelumnya juga dimaksudkan sebagai dorongan agar pedagang kembali memanfaatkan tempat usaha yang telah disediakan.
“Ini untuk mendorong mereka kembali aktif,” ujarnya.
Pemerintah, lanjut Yama, akan melihat respons dan aktivitas masing-masing pedagang. Apabila berbagai upaya telah dilakukan tetapi pedagang tetap tidak menunjukkan kemauan untuk berjualan, pencabutan lapak tetap dapat dilakukan sesuai ketentuan.
“Kalau tidak ada respons, ya bisa kita cabut,” tegasnya.
Yama menilai, keberadaan pedagang yang aktif menjadi salah satu faktor penting dalam menghidupkan kembali aktivitas perdagangan di Pasar Pagi. Ia juga mengapresiasi sejumlah pedagang yang mulai berinisiatif bergabung dengan pedagang lain dengan jenis usaha serupa agar kawasan perdagangan lebih ramai.
Fasilitas Bukan Satu-Satunya Solusi
Di sisi lain, Yama menegaskan pembenahan fisik bukan satu-satunya solusi untuk meningkatkan kunjungan masyarakat ke Pasar Pagi. Fasilitas seperti eskalator memang diperlukan untuk mendukung kenyamanan dan akses pengunjung, tetapi keberadaannya tidak secara otomatis membuat pasar menjadi ramai.
Menurutnya, aktivitas perdagangan juga sangat bergantung pada keberadaan dan keaktifan pedagang serta strategi untuk menarik masyarakat berbelanja.
“Eskalator saja belum tentu membuat pasar ramai,” jelasnya.
Ia menambahkan, kondisi Pasar Pagi juga menghadapi perubahan perilaku masyarakat dalam berbelanja, termasuk meningkatnya aktivitas perdagangan secara daring. Perubahan tersebut turut memengaruhi pola kunjungan masyarakat dan kondisi ekonomi pasar.
“Belanja online dan perubahan ekonomi juga berpengaruh,” pungkas Yama.
Dengan pembahasan yang dilakukan secara bertahap, Pemkot Samarinda berharap penataan Pasar Pagi dapat menghasilkan konsep yang disepakati bersama. Selain menata ruang dan aktivitas pedagang, pemerintah juga berupaya mencari strategi agar Pasar Pagi kembali menjadi pusat perdagangan yang aktif dan ramai dikunjungi masyarakat.
Pewarta : Yana Ashari Editor : Fairuzzabady @2026

















