Menu

Mode Gelap
Nasib 44 Karyawan PT WATS Masih Menggantung, Gaji September Tetap Dibayarkan Komisi IV DPRD Samarinda Soroti Nasib Karyawan PT WATS Usai Kerja Sama Berakhir Disnaker Samarinda Siap Mediasi Persoalan Hak 44 Karyawan PT WATS Nasib 44 Karyawan PT WATS Belum Jelas, Minta Kepastian Status dan Hak Pekerjaan 44 Karyawan PT WATS Masih Digaji, Nasib Pekerjaan di Tengah Sengketa Bendang Belum Jelas

BERITA DAERAH · 8 Sep 2026 12:30 WITA ·

Kebakaran Lahan di Samarinda Naik Lima Kali Lipat, 90 Persen Dipicu Aktivitas Manusia


 Kepala Damkarmat Kota Samarinda Hendra AH Serdjanalko mengungkapkan, kasus kebakaran lahan meningkat hingga lima kali lipat saat musim kemarau. Ia menyebut sekitar 90 persen kebakaran lahan dipicu aktivitas manusia. Foto: Yana Ashari. Perbesar

Kepala Damkarmat Kota Samarinda Hendra AH Serdjanalko mengungkapkan, kasus kebakaran lahan meningkat hingga lima kali lipat saat musim kemarau. Ia menyebut sekitar 90 persen kebakaran lahan dipicu aktivitas manusia. Foto: Yana Ashari.

KUMALANEWS.ID, SAMARINDA – Ancaman kebakaran di Kota Samarinda, Kalimantan Timur, meningkat seiring memasuki musim kemarau. Dinas Pemadam Kebakaran dan Keselamatan (Damkarmat) Kota Samarinda mencatat, kasus kebakaran mengalami peningkatan signifikan, terutama kebakaran lahan yang disebut mencapai hingga lima kali lipat dibandingkan kondisi normal.

Kepala Damkarmat Kota Samarinda, Hendra AH Serdjanalko, menyampaikan hal tersebut saat menjadi narasumber dalam Kaltimvoice Podcast yang dipandu Metalanda atau yang akrab disapa Etha, Selasa (8/9/2026).

Menurut Hendra, peningkatan kasus paling mencolok terjadi pada kebakaran lahan. Cuaca panas dan kering selama musim kemarau membuat kondisi lahan lebih mudah terbakar, sementara aktivitas manusia masih menjadi faktor dominan pemicu kebakaran.

“Musim kemarau ini, kebakaran naik sekitar lima kali lipat, terutama kebakaran lahan,” ungkap Hendra.

Ia menjelaskan, sekitar 90 persen kebakaran lahan yang terjadi di Samarinda berkaitan dengan aktivitas manusia. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan masyarakat membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.

“Sekitar 90 persen karena ulah manusia. Banyak yang membuka lahan dengan dibakar,” jelasnya.

Hendra mencontohkan sejumlah kejadian di wilayah Kecamatan Sambutan. Petugas, kata dia, beberapa kali menemukan pembakaran lahan yang dilakukan untuk membuka area pertanian, termasuk dengan alasan persiapan penanaman padi.

Bahkan, dalam beberapa kejadian, petugas Damkarmat sempat mengalami hambatan ketika hendak melakukan pemadaman. Situasi tersebut kemudian mendapat penanganan dari aparat kepolisian.

“Pernah kami dihalang-halangi saat hendak memadamkan,” ujarnya.

Bara Sisa Tambang Ilegal Picu Kebakaran Lahan

Selain aktivitas pembakaran oleh masyarakat, Damkarmat Samarinda juga menemukan potensi kebakaran yang berasal dari sisa aktivitas pertambangan ilegal.

Hendra mengatakan, terdapat sejumlah lokasi yang meninggalkan sisa batu bara atau stockroom. Material tersebut dapat menyimpan bara dan terbakar kembali, terutama saat kondisi lingkungan panas dan kering.

“Bara sisa batu bara itu bisa terbakar sendiri dan membakar lahan luas,” katanya.

Menurut Hendra, kondisi tersebut menjadi semakin sulit ditangani ketika api merambat ke kawasan lahan gambut. Karakteristik gambut yang mudah menyimpan bara di dalam lapisan tanah membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan penanganan khusus.

Karena itu, ia menilai pencegahan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko kebakaran meluas, terutama pada musim kemarau.

Petugas Selamatkan Empat Warga Terjebak Kebakaran

Dalam kesempatan tersebut, Hendra juga menceritakan salah satu operasi penyelamatan yang paling membekas selama menjalankan tugas sebagai petugas pemadam kebakaran.

Peristiwa itu terjadi saat kebakaran melanda sebuah toko bangunan di sekitar kawasan Simpang Alaya. Saat proses pemadaman berlangsung, petugas mendapat informasi bahwa masih terdapat empat orang di dalam bangunan, terdiri dari dua anak-anak dan dua orang dewasa.

Situasi menjadi semakin berbahaya karena asap tebal memenuhi ruangan dan berpotensi menyebabkan korban kehilangan kesadaran.

Petugas kemudian mengambil langkah cepat dengan membuat lubang pada bagian dinding bangunan menggunakan peralatan pemotong beton. Langkah tersebut dilakukan untuk membuka jalur keluarnya asap sekaligus menciptakan akses bagi petugas.

Setelah lubang terbuka, petugas menyemprotkan air ke dalam bangunan untuk membantu mengurangi kepulan asap. Upaya tersebut akhirnya berhasil dan keempat warga yang sempat terjebak berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.

“Alhamdulillah, empat orang berhasil diselamatkan,” tutur Hendra.

Menurutnya, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa tugas Damkarmat tidak sebatas memadamkan api. Dalam situasi darurat, petugas juga dituntut mampu mengambil keputusan cepat untuk menyelamatkan warga yang berada dalam ancaman.

“Bukan hanya memadamkan api, tapi juga menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Masyarakat Diminta Perkuat Pencegahan

Hendra mengimbau masyarakat Samarinda meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau. Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api yang berpotensi meluas.

Ia menegaskan, keberhasilan penanganan kebakaran tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas dan peralatan pemadam. Kesadaran masyarakat dalam mencegah munculnya api menjadi bagian penting dalam menekan risiko kebakaran.

Menurutnya, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan menunggu api membesar hingga membutuhkan pengerahan banyak personel dan peralatan.

“Pencegahan lebih baik daripada menunggu api membesar,” pungkasnya.

 

Pewarta : Yana Ashari
Editor  : Fairuzzabady
@2026
Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Redaksi

Baca Lainnya

Nasib 44 Karyawan PT WATS Masih Menggantung, Gaji September Tetap Dibayarkan

11 September 2026 - 22:00 WITA

i70

Komisi IV DPRD Samarinda Soroti Nasib Karyawan PT WATS Usai Kerja Sama Berakhir

11 September 2026 - 21:00 WITA

i69

Disnaker Samarinda Siap Mediasi Persoalan Hak 44 Karyawan PT WATS

11 September 2026 - 20:00 WITA

i68

Nasib 44 Karyawan PT WATS Belum Jelas, Minta Kepastian Status dan Hak Pekerjaan

11 September 2026 - 19:00 WITA

i67

44 Karyawan PT WATS Masih Digaji, Nasib Pekerjaan di Tengah Sengketa Bendang Belum Jelas

11 September 2026 - 18:00 WITA

i66

Komisi II DPRD Samarinda Pertanyakan Dasar Pembayaran PT WATS, Tim Investigasi Segera Dibentuk

11 September 2026 - 17:00 WITA

i65
Trending di BERITA DAERAH