KUMALANEWS.ID, KUTAI KARTANEGARA – Keluhan petani sayur di Kutai Kartanegara (Kukar) yang mulai menghadapi kekeringan akibat kemarau mendapat perhatian dari Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kukar. Pemerintah daerah kini tengah bergerak cepat melakukan pendataan untuk menentukan langkah penanganan yang tepat.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, mengatakan pihaknya saat ini fokus mengidentifikasi kelompok tani yang terdampak serta kebutuhan mendesak di lapangan. “Kami melalui penyuluh sudah turun langsung untuk mengidentifikasi lokasi-lokasi yang terdampak, termasuk kebutuhan apa saja yang diperlukan petani,” ujarnya, Senin (27/4/2026).
Ia menjelaskan, hasil pendataan tersebut akan menjadi dasar dalam pengajuan bantuan ke pemerintah pusat. Salah satu kebutuhan utama yang dipetakan adalah ketersediaan pompa air untuk mengatasi kekurangan pasokan air di lahan pertanian.
“Nanti dari data itu akan terlihat, misalnya petani tidak punya pompa, berarti dibutuhkan berapa unit. Setelah itu kami rekap dan kirimkan ke pusat, karena bantuan alat untuk kondisi seperti ini tersedia di sana,” jelasnya.
Rifani menambahkan, pihaknya menargetkan seluruh usulan bantuan sudah dapat disampaikan ke pemerintah pusat pada akhir April. Untuk mempercepat proses tersebut, ia bersama tim turut turun langsung melakukan verifikasi data di lapangan.
“Kami beri batas waktu, sehingga setelah data masuk bisa langsung kami proses dan teruskan ke pusat,” tegasnya.
Terkait potensi gagal panen, Rifani mengaku belum dapat memastikan. Pasalnya, kondisi cuaca saat ini masih memungkinkan terjadinya hujan hingga Mei.
“Untuk gagal panen saya belum berani memastikan, karena di April ini masih ada kemungkinan hujan sampai Mei. Diharapkan petani bisa memanfaatkan kondisi itu,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Juni hingga Agustus. Oleh karena itu, petani diimbau mulai mempersiapkan cadangan air sejak sekarang.
“Paling tidak petani bisa mengidentifikasi sumber-sumber air di sekitar lokasi. Air permukaan yang ada bisa dimanfaatkan sambil menunggu bantuan alat dari pusat,” pungkasnya.
Pewarta : Akmal Hafidz Krisnowo Editor : Fairuzzabady @2026

















